Minggu, 27 Januari 2019

Rumah

Rumah
Oleh: M. Ginanjar Eka Arli

Kita hanyalah senyawa kecil dalam semesta yang kerdil
Larut dalam hiruk pikuk dunia
Berangan berbahagia sampai ke nirwana

Di antara sekat-sekat rindu dan benci yang tersesat
Kita pernah hadir dan berbagi harap
Menguar bak aroma kopi yang likat
Lalu hilang di antara pekat langkah yang berderap

Hari-hari membuat kita menjadi biskuit yang lemau
Menghabiskan suara kita yang parau
Menahbiskannya sebagai kenangan masa lampau

Saat kita sudah lelah berjuang
Dan yang bisa dilakukan hanyalah pulang
Maka, sebuah pelukanlah yang kita perlukan kemudian

Rumah tempat kita berlindung
dari kejamnya cacian dan makian,
terpaan dan ujian,
pahitnya kehidupan

Bandung, 28 Januari 2019

Jumat, 25 Januari 2019

J.A.P.



"Ka ...," panggilku padanya.

Gadis berkerudung ungu di sampingku menoleh. Keningnya mengerut, seakan menyadari suaraku yang barusan tercekat. "Iya, Kak?"

Aku menelan ludah. Lidahku kelu, badanku gemetar. Tubuhku terasa dingin. Aneh sekali. Aku yang terbiasa berdiri dan berbicara di depan publik, tiba-tiba saja tak mampu berbicara di hadapannya. Ada apa ini?

"Eng ..., enggak apa-apa. Hati-hati di jalan, ya." Akhirnya, hanya kata itu yang terlontar dari mulutku.

Wajahnya terlihat bingung sejenak, tetapi langsung berubah menjadi tersenyum seperti yang biasa ia ukir. Senyum yang mengalihkan duniaku.

"Baiklah, aku duluan ya, Kak!"

Ekor mataku melihat kepergiannya yang perlahan menjauh. Menghilang dari hadapanku, tetapi tidak beranjak dari hatiku.

***

Udara malam berembus, menusuk sukma, menembus pori-porik kulitku yang perlahan terbuka setelah berolahraga. Ini memang kebiasaan burukku yang konon tidak baik menurut teman-teman olahragawan. Setiap ada pikiran yang mengusik otakku, langkah kaki ini pasti tak kuasa untuk berlari dari Gasibu sampai Alun-Alun Kota Bandung--seakan ingin lari menjauh dan meninggalkan realita yang sedang kuhadapi saat ini.

Pandanganku mengedar. Seperti biasa, tempat ini dipenuhi kumpulan orang tua yang mengajak anak-anaknya bercanda tawa. Entah mengapa, hal itu membuatku iri dengan mereka. Anak-anak itu memang seperti hidup tanpa beban, tak pernah memikirkan besok akan makan apa, ke mana harus bekerja, hingga hal-hal muskil seperti ... cinta.

Banyak orang berkutat dengan definisi dari cinta. Sebagian bersikukuh bahwa cinta adalah pengorbanan, penantian, memberi tanpa harus diberi, dan menerima kelebihan serta kekurangan yang dimiliki pada pasangan kita. Cinta adalah kata kerja, katanya, di mana ia akan terus melakukan sampai saatnya melupakan dan terlupakan.

Lantas, pertanyaannya kemudian adalah: kepada siapa kita harus melabuhkan cinta?

Bertahun-tahun pertanyaan ini bersarang dalam benakku. Sejak awal memiliki ketertarikan tentang cinta, aku memegang teguh komitmen untuk menjatuhkan pilihan hanya pada satu wanita saja. Seseorang yang tepat dan kuharap bisa menjadi orang pertama sekaligus terakhir dalam hidupku.

Namun, jatuh memang selalu menyakitkan.

Jatuh cinta pertamaku berujung sakit yang memilukan. Entah karena tingginya harapan harapan, atau pahitnya dikhianatkan. Dalam bilangan bulan, hubungan kami kandas tanpa sempat mendekati pelaminan.

Sejak itu, aku jadi tidak percaya dengan cinta. Berat rasanya mengungkapkan perasaan kepada seseorang bila hanya berujung penolakan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hatiku beku, sedingin gunung es di kutub utara. Kututup diriku sebagaimana pemerintahan di Korea Utara.

Sampai suatu hari, ia datang dan masuk ke dalam kehidupanku.

Pertemuan pertama itu hanya berlangsung sebentar, tidak disengaja sama sekali, tetapi begitu berkesan bagi hidupku--dan semoga "kami". Aku percaya, kita akan selalu dipertemukan dengan seseorang yang bisa satu frekuensi dalam hidup ini. Orang yang dapat mengerti diri ini hanya lewat tatap, tanpa perlu sedikit pun bibir berucap.

 Dan itulah yang kutemukan dalam dirinya. Obrolan kami mengalir sederas air terjun niagara, tak terhenti sampai sesi diskusi dalam seminar yang kami ikuti diakhiri. Saat itulah, ketika kami hendak berpisah, kuberanikan diri untuk bertanya dan meminta nomornya.

Bisa jadi, itulah satu-satunya momen yang tak pernah kusesali dalam hidup ini.

Berkat secuil keberanian itu, aku bisa mulai mencari tahu tentang dirinya. Latar belakang pendidikan, pengalaman, sahabat, hingga keluarga besarnya.

Mungkin kita membutuhkan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang, tetapi sesungguhnya kita hanya butuh waktu satu detik untuk jatuh cinta padanya.

Dan ketika rasa itu datang, pertanyaan baru pun menjelang. "Apa yang harus kita lakukan?"

Sebagai perempuan, mungkin yang kau lakukan hanya bisa menunggu. Namun, sebagai lelaki, aku tahu bahwa hanya menanti waktu untukku maju memperjuangkanmu.

Dan ketika saat itu datang, satu permintaan yang pasti kuajukan. "Jadikanlah aku pacar (halal)-mu, bersetia di jalan itu, meniti rumah tangga bersama sehidup sesurga."

Jadi, bagaimana jawabanmu?

Sukabumi, 26 Januari 2019
@agi_eka

#KataHatiMenulis #KataHatiChallenge #KataHatiProduction

Sumber gambar: www.lagu.yt

Rabu, 23 Januari 2019

Bahasa Sunda



"Mpit, Bapak di mana?" tanyaku pada salah seorang perempuan asal Subang yang baru seminggu ini menjadi teman satu jurusanku.

Sebagai anak rantau, belum banyak orang yang kukenal di sini. Namun, bisa kupastikan bahwa kini aku menjadi minoritas di antara orang-orang yang berasal dari tataran Priangan. Berhubung kampusku ini berada di Utara Kota Kembang, maka selain warga pribumi kebanyakan memang berasal dari sekitar Sumedang, Garut, Purwakarta, Bekasi, Karawang, Cirebon, Majalengka, Indramayu, dan sekitarnya. Hanya segelintir yang berasal dari luar pulau, termasuk diriku yang memiliki darah Sumatera.

Gadis berkacamata di hadapanku berpikir sejenak akan pertanyaan barusan. Setelah mengingat-ingat, wajahnya berubah cerah dan berujar, "Oh, iya. Kayaknya beliau lagi di 'air', deh, Gi."

Sebentar. Aku tidak salah dengar, kah?
Bapak sedang di "air"? Apa maksudnya itu?

Benakku langsung membayangkan, apakah maksudnya beliau baru saja berenang dan sekarang sedang membasuh diri sebelum masuk ke kelas?

Astaga. Sepanas apa pun cuaca hari ini, tetapi tetap saja logika itu tidak masuk dalam benakku. Jadi, kuputuskan untuk ke toilet sebentar--sekadar membuang sedikit cairan dan mendinginkan kepalaku yang mulai panas membayangkan dosen Matematika Dasar sedang berenang di kolam sore ini.

Namun, tepat di depan pintu kamar mandi, aku berpapasan dengan seorang pria tinggi dengan rambut cepak dan kacamatanya yang khas. Lelaki itu tampak baru saja mencuci muka untuk menyegarkan wajahnya.

Eh, tunggu dulu.
Kalau aku tidak salah ingat ... bukankah beliau adalah dosenku?!

Otakku langsung berpikir cepat, memproses semua hal yang barusan terjadi. Rasanya hasratku untuk buang air kecil langsung hilang, berganti dengan mencari kepastian atas secuil informasi yang baru saja terpikirkan.

Bergegas kucari Mpit untuk mengonfirmasi sesuatu yang barusan masih sebatas dugaan. Setelah menemukan dirinya sedang membuka tas dan mencari catatan, dengan terengah-engah kupotong aktivitas tersebut dan langsung bertanya, "Mpit, 'air' yang kamu maksud tadi ... itu artinya 'toilet', ya?"

Gadis itu terkejut melihatku yang seakan mau mati penasaran kalau pertanyaan tadi tidak langsung terjawab. Dengan singkat, ia hanya menjawab, "Iya, Gi. Itu bahasa Sunda."

Astaga ... ternyata, se-simple itu.

Belakangan, memang kuketahui beberapa bahasa Sunda itu memang lucu. Banyak yang diambil dari sebutan atau suara yang mereka dengar. Contoh sederhananya adalah stapler.

Benda berbentuk U ini memang memiliki nama-nama tidak resmi, seperti pengokot, cekrekan, dan lain sebagainya. Namun, orang Sunda menyebutnya dengan istilah jegrekan, hanya karena terdenger bunyi "jegrek" ketika benda itu dipakai--sesuai dengan pendengaran mereka, tentunya.

Pengalaman unik yang sama tentang bahasa ini juga kutemukan saat melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang. Sebagaimana etika orang yang baru datang, kami pun berkunjung ke rumah kepala desa yang kerap dipanggil Pak Kuwu oleh warga sekitar.

Rumah beliau sangat sederhana. Kami bersepuluh dijamu dengan hangat pada ruang tamu rumahnya tersebut. Setelah menyapa dan berbasa-basi sebentar, beliau tiba-tiba bertanya kepadaku selaku ketua kelompok di sana.

"Cep, ari istri teh aya sabaraha?"

Ebuset, deh, ini Pak Kuwu. Baru kenal, kok, tiba-tiba udah nembak main tanya istri aja. Enggak tahu kali, ya, kalau aku udah ngejomlo bertahun-tahun? Jujur, pertanyaan itu langsung menohok ulu hatiku yang paling dalam. :"(

Baru saja mau menjawab status menyedihkanku itu, tiba-tiba seorang kawanku bernama Raka menyahut dari samping. "Istri teh aya opat, Pak."

Astaga .... Otakku seakan berjumpalitan kembali!

Aku tahu bahwa temanku yang berasal dari Cirebon itu cukup tampan. Akan tetapi, masa iya, sih, dia udah nikah dan punya empat istri? Yang artinya, kuota nikah dia udah full, dong!

Aku membayangkan, bagaimana dia membagi waktu di tengah perkuliahan dengan empat istri ini. Di saat pikiranku tengah mengembara tersebut, tiba-tiba ia melanjutkan perkataannya. "Upami pameugeut teh aya genep, Pak."

Sebentar. Sepertinya ada yang salah di sini.

Aku tahu arti opat adalah "empat", dan genep adalah "enam". Empat dan enam, kalau dijumlahkan menjadi sepuluh. Sesuai dengan jumlah anggota pada kelompok kami.

Sebuah pemikiran kembali mengusik otakku. Apakah yang selama ini kupikirkan salah, ya? Cepat-cepat, kukonfirmasi pada Iqbal, orang Sunda tulen yang paham akan bahasa yang disebutkan oleh Raka barusan.

"Bal ... Iqbal. Mau tanya, dong."

Lelaki itu hanya melirikku jengah, seakan tak suka diganggu di tengah pertemuan semiformal seperti ini. "Apaan, Gi?"

"Istri itu ... bahasa Sunda yang artinya 'cewek', ya?"

Seakan paham maksudku, ia pun menahan tawa dan berusaha untuk tidak tergelak. Kuperhatikan wajahnya yang memerah, menahan napas, seraya kemudian berujar padaku. "Ya iyalah, Gi. Masa 'istri' yang itu?"

Kami pun sama-sama tertawa di dalam hati, sembari menutupi wajah kami yang mungkin sekarang sudah terkontrol lagi.

Konyol. Bahasa Sunda memang unik.
Tapi, itu juga yang membuatku tertarik untuk mempelajarinya lebih dalam lagi. Sebab, kalau bukan kita yang melestarikannya, mau siapa lagi?

Bandung, 24 Januari 2019
@agi_eka

#KataHatiChallenge #KataHatiProduction #KataHatiChallenge

Catatan Kaki:
1) Cep, ari istri teh aya sabaraha? = Ganteng, kalau perempuannya ada berapa?

2) Istri teh aya opat, Pak. = Perempuannya ada empat, Pak.

3) Upami pamegeut teh aya genep, Pak. = Kalau laki-lakinya ada enam, Pak.

Sumber gambar: ayobandung.com

Senin, 21 Januari 2019

Kapan?


"Kapan?"

Adalah salah satu pertanyaan yang tidak pernah berujung.

Di suatu meja makan, pada saat kami tengah bercengkerama, bersua dan melepas rindu bersama saudara, pertanyaan itu muncul kembali.

"Jadi, kapan, Gi?"

Keringat deras kembali mengucur di sekujur tubuhku. Aku tahu pertanyaan ini akan keluar, tetapi tetap saja rasanya kaget dan tak siap tatkala mendengarnya secara langsung.

Kuperhatikan lelaki berkumis yang rambutnya mulai memutih itu. Kutebak, puluhan tahun ia mengarungi kehidupan rumah tangga pasti sangat memengaruhi penilaian dia.

Aku tahu ia sangat tegas dan keras, bahkan ke anak sendiri. Kudengar dari salah seorang anaknya bahwa ia pernah melakukan hal ini dan hal itu atas kesalahan yang tidak bisa ia tolerir.

Kuteguk dulu segelas air yang ada di meja tersebut. Perlahan, cairan itu membasahi tenggorokanku dan membanjiriku dengan kenangan. Tujuh tahun berkuliah dan membuat semua orang menanti tentu bukanlah waktu yang sebentar. Termasuk, oleh si dia.

Bukan tanpa alasan juga aku menunda wisuda. Entah karena penolakanku terhadap tuntutan orang tua, atau mungkin juga alam bawah sadarku yang sedang menikmati masa-masa bebas yang tak pernah kurasakan sebelumnya.

Berawal dari undangan untuk berbagi seputar kepenulisan di Garut pada awal tahun 2018 ini, lalu berkeliling Jawa Barat dalam rangka kunjungan cabang pada organisasi yang aku ikuti saat ini, hingga sekarang bisa duduk di tengah riuh keluarga jauh dari pihak Mama yang berada di Palembang.

Tak pernah kusangka, tahun ini kakiku jauh melangkah ke mana-mana, sekaligus semakin meninggalkan jejak karirku di kampus. Padahal, tinggal merampungkan hasil-hasil penelitian yang telah kulakukan di tahun lalu, kemudian semuanya akan beres.

Tali tiga akan berpindah dari kiri ke kanan, atau malah sebaliknya? Entahlah. Aku bahkan belum sampai memikirkan hal remeh temeh yang katanya menjadi apresiasi empat tahun--atau lebih--kita berkuliah ini. Satu-satunya yang kupikirkan sekarang adalah bagaimana menjawab pertanyaan tadi?

Kuatur kalimat sebaik mungkin. Bismillah saja lah, apa pun hasilnya toh semua pertanyaan pasti memiliki jawaban. Meskipun itu hanya sekadar berkata "tidak tahu".

"Doakan ya, Ayah," sahutku dengan suara gemetar, "Insya Allah setelah lebaran ini akan Agi lanjutkan kembali."

Selang beberapa detik, kata-katanya kembali menggelegar di seluruh ruangan. "Kenapa bisa? Tahu begini--"

Entah kalimat apa lagi yang keluar dari beliau, aku tak peduli. Aku tahu, inti utamanya adalah menasihatiku. Padahal, sejujurnya aku sudah muak dengan nasihat. Seperti apa yang disampaikan sampai berbusa oleh Papaku.

Di penghujung semester, masa-masa terakhir kita berkuliah ini, semua mahasiswa pasti tahu batas akhir masa hidupnya di kampus ini. Namun, kadang kala justru mereka bingung harus dari mana mereka memulai? Karya seperti apa yang harus mereka buat?

Mahasiswa itu lebih butuh bimbingan ketimbang nasihat. Kita lebih butuh rangkulan ketimbang makian dan cacian. Namun, para orang tua memang hanya bisa berucap tanpa bisa menjadi tauladan. Barang kali itu juga yang membuat beberapa anak lebih betah di luar ketimbang pulang ke tempat yang tidak bisa ia sebut "rumah" lagi.

Puas memberikan petuahnya, lelaki yang kusebut Ayah--kakak ipar dari Mamaku--kemudian menutup dengan ultimatum. "Kalau semester ini kamu belum lulus juga, jangan injakkan kaki lagi di Palembang. Dan jangan pernah tunjukkan wajah kamu lagi di hadapan Ayah!"

Sekakmat. Tidak ada yang paling kutakutkan selain dibenci oleh seseorang. Tanpa dibilang begitu, sebetulnya aku pun ingin segera menyelesaikan perkuliahan yang mulai menjengkelkan ini. Entah mengapa, kampus yang sekarang tidak sama lagi dengan masa-masa dulu. Apakah karena teman-temanku sudah perlahan menghilang di telan dunianya masing-masing? Aku tak tahu.

Yang jelas, lulus tepat waktu, menjadi PNS, dan menikah, adalah yang selalu diharapkan oleh orang tua. Mungkin saja, ketika hati kecilku memberontak, aku memilih untuk telat (banget) menyelesaikan perkuliahan ini, berniat tidak mengambil selembar kertas yang disebut "ijazah" agar tidak bisa mendaftar PNS, tapi tetap saja tidak akan menolak untuk pilihan ketiga.

Semua orang yang waras pasti ingin menikah. Apalagi, ketika sudah ada seseorang yang menanti nun jauh di sana.

Kamu.
Iya, kamu.

Masih sanggupkah bertahan sebentar lagi?
Sembari menutup telinga atas pertanyaan "Kapan" lainnya yang juga tengah menghujanimu dari waktu ke waktu?

Percayalah, orang lebih membutuhkan pembuktian daripada janji dan perkataan. Oleh karenanya, itulah yang juga saat ini sedang kuperjuangkan.

Bandung, 22 Januari 2019
@agi_eka


#KataHatiChallenge #KataHatiProduction #KataHatiMenulis

Minggu, 02 Desember 2018

Pemuda, Jomblo, dan Masa Depan Bangsa

Pernah gak sih kalian membayangkan suatu hari datang ke rumah calon mertua, berkenalan dengan mereka, lalu ditanyakan sebuah pertanyaan horor yang membuat hampir seluruh pemuda bergidik ngeri. "Apa pekerjaannya sekarang?"

Tentu saja, menikah itu perkara mudah. Namun, tanggung jawabnya itu yang susah dipertanggungjawabkan 🙈

Di balik ijab sah yang kita (?) ucapkan, terdapat kewajiban menafkahi secara lahir dan batin. Di balik kalimat ijab qabul yang kita (?) ikrarkan, terletak biaya kuliah, gamis model terbaru, hingga gawai dengan aplikasi terkini yang tengah menanti di ujung sana.

Akhirnya, solusi yang mau tidak mau harus kita upayakan hanya satu: bekerja.

Di era milenial yang maju pesat ini--yang disebut orang-orang sebagai era Teknologi 4.0--tentu saja bentuk pekerjaan telah beraneka ragam. Bekerja tidak dapat diartikan sebatas berpakaian rapi lengkap dengan dasi, berangkat pagi dan pulang kala petang hari. Tidak. Tentu saja tidak. Hanya orang tua yang sudah menua dimakan zaman yang konon masih berpikiran sebatas itu.

Dengan data masyarakat pengguna internet yang diperoleh dari Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) Republik Indonesia sebanyak 56%, yakni sekitar 143 juta jiwa--khususnya anak milenial sejumlah di atas 60%, maka dapat kita yakini bahwa angka tersebut memiliki banyak potensi besar. Selain jumlah target market yang dapat dikatakan sangat potensial, di sisi lain juga hal ini bisa menjadi peluang usaha yang besar juga, terutama untuk para anak muda di Indonesia.



Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (Dirjen IKP) Kemkominfo, Rosarita Niken Widiastuti, dalam Forum Merdeka Barat (FMB'9) di Bandung (29/11) mengatakan bahwa pembagian akses internet dalam masyarakat berkisar untuk chating sebesar 60%, browsing 50%, dan video streaming 35%, sementara pembuatan aplikasi 24%, pembuatan program 5%, dan transaksi 15%.

Bisa kita bayangkan, budaya konsumtif masyarakat kita masih cukup tinggi ketimbang pemberdayaan untuk pengembangan diri. Maka, hadirnya berbagai start up menjadi salah satu kekuatan juga yang dapat mendukung kemajuan bangsa di era digitalisasi ini.

Sebut saja salah satu contohnya yakni aplikasi Go-Jek. Dengan adanya start up tersebut, banyak budaya masyarakt yang kini cenderung berubah. Dari segi transportasi, ketimbang menunggu bus dan angkot, sekarang kita bisa langsung diantar menggunakan gojek. Lapar? Tinggal pesan gofood dsn makanan segera diantar. Bahkan, pemesanan tiket dan lainnya bisa menggunakan fasilitas GoTix dan semacamnya.

Bila ditilik dari banyaknya capaian-capaian di berbagai bidang ini, maka Dirjen IKP dengan optimisnya percaya bahwa pada tahun 2030 nanti, Indonesia berpotensi menjadi negara maju kelima di dunia. Tentu saja, untuk mencapai hal tersebut, perlu adanya sinergisitas antara semua pihak, baik masyarakat maupun pemerintah. Atas dasar hal tersebutlah, pemerintah kemudian tak tinggal diam.

Sebagai regulator, fasilitator, dan juga agregator, pemerintah sebagai pemangku kebijakan lantas berinisiatif untuk membuat dan menerapkan konsep smart city. Ya, konsep yang tidak hanya menyiapkan sarana dan prasarana ini, tetapi juga turut mengubah mindset masyarakat untuk berpartisipasi aktif sekalkgjs mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat Indonesia.

Untuk mendorong digitalisasi ekonomi, salah satu usaha pemerintah juga mendorong terciptanya 1.000 start up. Tentu saja, semua hal itu melalui berbagai proses, mulai dari pendaftaran, seleksi, pembinaan melalui workshop, pembentukan tim, hingga tahap inkubasi sebagai akhir dsri prototype. Tak hanya sampai di sana. Dari 8 juta UMKM yang ikut program pendampingan ekonomi digital, saat ini sudah mencapai 82% atau lebih dari 6,4 juta unit usaha juga turut dibina oleh pemerintah.

Ketika UMKM tersebut telah sukses, maka penting juga agar cerita sukses mereka disiarkan agar membantu menginspirasi yang lain, sebagaimana yang disarankan oleh Refa Riana, seorang pengamat sosial, yang turut berbagi dalam acara Diskusi Media Forum Merdeka Barat 9 (Dismed #FMB9) bertema "Membangun Indonesia, Menyejahterakan Jawa Barat". Dengan roda yang terus berputar dan saling menggerakkan dari berbagai daerah ini, diharapkan dapat memicu pertumbuhan dan perkembangan ekonomi yang signifikan di berbagai daerah.

Jika masyarakat maju, Sumber Daya Manusia semakin bermutu, dan kita--sebagai anak muda--memiliki pekerjaan dan masa depan yang anti mati kutu, pasti calon mertua pun setuju untuk memberikan restu tanpa ragu.

Jadi, siap #MembangunJabar dan keluarga di tahun 2019 nanti? :)

Informasi lebih lanjut terkait program pemerintah demi memajukan perekonomian masyarakat dan berbagai hasil diskusi dalam kegiatan FMB 9 ini bisa diikuti secara langsung di www.fmb9.id, FMB9ID (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID (Youtube).


Selasa, 13 November 2018

Paxel: Pengiriman Tanpa Tapi, Pengantaran Tanpa Nanti

Pernah enggak sih kalian merasa di PHP-in sama kurir?
Lagi butuh kirim paket cepat, tapi status pengiriman masih itu-itu aja?

Aku juga pernah ngerasain momen-momen kayak begitu. Tapi, semenjak ada Paxel, rasanya semua kirimanku sudah tidak akan bermasalah lagi! \(^o^)/



APA SIH PAXEL ITU?

Paxel adalah jasa pengiriman barang secara SAMEDAY dengan TARIF FLAT. Dalam arti, kita bisa ngirim ke mana pun, kapan pun, dengan jaminan kualitas bisa diantar dalam waktu satu hari. Seperti yang dialami oleh Ibu Fina Aulina, owner dari usaha Pempek Finfin.


Sebagai pemilik usaha berjenis Frozen Food, tentu dong kita enggak mau barang yang sampe ke pelanggan nanti sampai dalam keadaan basi. Wah, bisa-bisa kehilangan customer nanti kitanya! >_<

Namun, semenjak mengenal Paxel, Bu Fina lebih senang dan usahanya pun meningkat pesan. Mengapa?

1) Kurir Paxel datang Langsung Menjemput Paketnya
Kadang kala, sebagai pelanggan, kita malas memakai ekspedisi tertentu karena letaknya jauh dari rumah. Mau pakai jasa ojek online, tapi kok ya ongkirnya lebih mahal ketimbang harga barangnya 🙈

Oleh sebab itulah, hadirnya Happiness Hero (sebutan untuk kurir Paxel) membawa solusi dari kendala yang selama ini kita alami.

Happiness Hero yang baru datang ke rumah! 😍

2) Pengemasan yang Rapi
Tak perlu cemas akan menggunakan plastik alakadarnya atau paket yang dilakban seadanya. Karena, ketika Happiness Hero datang ke tempat kita, mereka pun akan membantu mengemas barang kita dengan rapi dan elegan :)

Pengemasan paket di Paxel

3) Tracking Delivery
Kesel karena kita enggak tahu kondisi paket sudah sampai di mana? Tenang, karena di Paxel kita bisa tracking status delivery order kita sudah sampai di mana melalui aplikasi Paxel. Jadi, kita bisa memperkirakan kapan mereka sampai. Oh, iya, kita juga bisa request lho mau diantar dalam kisaran jam berapa. Misalnya, sekitar jam 4-6, sebelum jam 8 malam, dan sebagainya. Asik, kan? :)

Contoh tracking dan shipment history

4) Kirim Paket Tanpa Tapi, Antar Paket Tanpa Nanti
Panas terik matahari hingga hujan badai menerpa, tapi Happiness Hero akan tetap mengantarkan "amanah" yang telah dipercayakannya kepada sang penerima. Janji sedetik saja yang terlewat, maka biaya pengantaran kita akan dibalikkan sepenuhnya. Full, tanpa potongan biaya apa pun. Sebesar itu jaminan kualitas jasa pengiriman mereka. Apakah kita masih ragu untuk menggunakannya? :)

Happines Hero yang mengantar di tengah terpaan Hujan

5) Tarif Flat, SameDay Antar Kota Sekalipun!
Seperti angkutan umum, menggunakan Paxel ini jauh-dekat tarifnya sama, lho! Apalagi, pengiriman luar kota pun sudah memungkinkan untuk saat ini. Yah, meskipun baru sampai sekitar Jabodetabek, Bandung, Jogja, Solo, dan Semarang, tapi mari kita doakan semoga segera merambat ke kota-kota dan daerah lainnya yaa. Khususnya di luar Pulau Jawa ^_^

Ukuran dimensi untuk patokan tarif. Bisa custom juga, lho! XD 

Yang paling aku suka dari Paxel ini--selain dari jasa yang mereka tawarkan--adalah filosofi yang terdapat di balik penamaan mereka. Paxel berasal dari bahasa Yunani yang artinya "kedamaian". Karena itu, semoga dengan adanya jasa pengiriman logistik seperti Paxel, malam-malam kita bisa tidur dengan nyaman dan damai tanpa memikirkan slogan lama yang pernah berkata, "Hanya Tuhan dan Kurir yang Tahu Kapan Paket akan Dikirim."

Yuk coba install aplikasi paxel sekarang di hapemu! Gunakan kode referal agi_eka dan dapatkan voucher pengiriman barang sebesar 100k secara cuma-cuma! 😍😍😍

Selamat mencoba ;)

Regards,
@agi_eka

Selasa, 24 Mei 2016

Untuk Apa?

Untuk Apa?
Oleh: M. Ginanjar Eka Arli

Untuk apa: surat yang tak dikirim
Untuk apa: pesan yang tak tersampaikan
Untuk apa: mimpi yang tak tergapai
Untuk apa: hutang yang tak terbayar
Untuk apa: janji yang tidak ditepati
Untuk apa: hati yang tersakiti
Untuk apa: luka yang tak terobati
Untuk apa: diri yang terlupakan
Untuk apa: kasih yang tak sampai
Untuk apa: cinta yang tak terbalas

Untuk apa?

160516

Ajari Aku (3)

Ajari Aku (3)
Oleh: M. Ginanjar Eka Arli

Ajari aku mencintaimu
Seperti cinta matahari kepada bunga
Enggan mendekat karena ia kan binasa

Ajari aku menyayangimu
Layaknya matahari dan sang rembulan
Memberi sinar agar cantiknya benderang

Ajari aku mengingatmu
Bak langit kepada lautan
Memantulkan bias cahaya nan kekal abadi di hadapannya

Ajari aku menjagamu
Seperti karang yang di terpa sang ombak
Kokoh bertahan hingga ajal menjelang

Ajari aku membersamaimu
Layaknya air dan rinai hujan
Selalu bersama tuk menjemput pelangi senja

Ajari aku memperjuangkanmu
Bak pangeran dengan pedang tajamnya
Pergi menumpas sang naga demi menolong sang putri tercinta

Dan ajari aku memilikimu
Seperti warna pada setangkai bunga
Saling melengkapi dalam memberi keindahan pada dunia

Ajari aku, Cinta

Kala rinai hujan tiba, 160516

Kamu

Kamu
Oleh: M. Ginanjar Eka Arli

Kamu
Masih saja kusebut dalam doaku
Masih berputar dan bermain di pikiranku
Tingkahmu yang lucu dan lugu
Membuatku teringat pada adik kecilku

Kamu
Masih saja kusebut dan kurindu
Masih bertengger di tempat pertama dalam hatiku
Meski kau menjauh dan kadang meragu
Namun kau tetap bertahan, bertahta dalam istanaku

Kamu
Sosok yang kupuja dan kucinta
Entah bagaimana dulu kita bisa berjumpa
Mungkin itulah takdir Sang Maha Cinta
Membuat semesta berkonspirasi tentang kita dihadapan-Nya

Kamu
Ya, kamu

Kala Rindu, 150516

Kita

Kita
Oleh: M. Ginanjar Eka Arli

Kita hanyalah dua anak kecil yang lugu
Bersama-sama menghabiskan waktu
Menanti esok untuk kembali bertemu

Tak usah kau risau tentang rasa
Karena perjalanan rasa membentang seluas samudera
Terhampar di bawah langit senja bertabur asa
Menyelami kedalaman hati yang penuh misteri

Namun cinta tak dapat berdusta
Ia selalu hadir tanpa bisa diterka
Muncul begitu saja diantara kita
Hingga masing-masing dari kita kini menerka
"Adakah dia juga cinta?"

Maka sekali lagi, tak usah risau maupun galau
Karena semua bukan masalah "kalau"
Tapi perihal keberanian, pengorbanan, dan perjuangan
Tentang aku, kamu, dan kita berdua

130516

Spasi

Spasi
Oleh : M. Ginanjar Eka Arli

Kita bagaikan dua kata yang terpisah oleh spasi
Takkan pernah bertemu selamanya, kecuali
Salah satu dari kita maju atau beranjak kembali

Jarak itu
Bukan sesuatu yang bisa kita tempuh dalam satu kali "klik"
Namun membutuhkan proses, perjuangan, dan (tentu) penantian
Karena dua kata berbeda, terkadang, bisa menjadi tak bermakna ketika bersama

Aku dan kamu memiliki ciri khas tersendiri
Aku dengan huruf-huruf penyusunku
Dan kamu dengan rangkaian huruf yang menyusunmu

Jika kita tidak mau untuk saling mengerti (lagi)
Maka, akankah puisi ini kelak memiliki arti?

120516

Jeda

Jeda
Oleh : M. Ginanjar Eka Arli

Mungkin kita hanya butuh sebuah jeda. 
Atas rasa yang telah letih. 
Dan hati yang kini mulai tertatih.

Jeda. 
Membuat ruang diantara kita. 
Agar kita tak dulu bertemu. 
Untuk saban hari tak lagi bersama.

Sebuah jeda. Antara kau dan aku.

120516

Ajari Aku (2)

Ajari Aku (2)
Oleh: M. Ginanjar Eka Arli

Ajari aku mencintai hujan
Dengan gemuruh yang membuat hati berdebar
Seperti perasaan saat kau datang dan duduk di hadapan

Ajari aku mencintai hujan
Dengan kilat yang menyambar-nyambar
Membuat flashback akan kenangan tentang dirimu yang tlah lampau

Ajari aku mencintai hujan
Dengan gerimis yang turun satu-satu
Membuat lembab dan basah tanah hati yang merindukanmu

Ajari aku mencintai hujan
Dengan keras dan derasnya badai yang kan datang
Memporak-porandakan hati dan perasaan kala menghadapi ujian kehidupan

Dan ajari aku mencintai hujan
Dengan indahnya lengkung pelangi yang kan tiba
Setelah kita menjalani semua suka dan duka bersama

Ajari aku mencintaimu, cinta.

Kota kembang, 30 April 2016

Rabu, 27 April 2016

Dicari: Kisah Nyata Inspiratif Tentang Cinta!


UNTUKMU YANG SUKA NULIS ! SAYANG BANGET KALAU GAK DI BACA SAMPAI AKHIR :)
Assalamua’alaikum sahabat setia, ada yang suka nulis? Ingin karyanya di terbitkan bareng SETIA FURQON KHOLID? Yuk! Tunjukkan kreatifitas dan bakat menulismu. Dalam project nulis bareng SFK dengan tema “CINTA”. Tentunya kisah NYATA yang menginspirasi tentang CINTA, [dengan kategori : Pacaran,TTM,HTS, Pergaulan bebas,PHP,Jodoh, Ta'aruf, Menikah]. Boleh pengalaman pribadi ataupun orang lain (menggunakan nama samaran)
Cek syarat dan ketentuannya, ya. :)
1. SYARAT
• Event ini terbuka untuk umum dan tidak ada batasan usia;
• Karya yang dikirimkan merupakan kisah nyata,karya sendiri, belum pernah dipublikasikan, dan bukan jiplakan;
• Kisah inspiratif ditulis dengan rapi, sesuai EYD dan tanda baca. Tidak diperkenankan memakai gaya menulis SMS ( seperti : yg. K4mu, sprti, jka, aq, qmu, ber2 dll)
• Like akun Instagram @setiafurqonkholid
• Like FanPage FB Setia Furqon Kholid
• Share info event ini di dinding pribadimu dan tag minimal 20 teman 
• Deadline tanggal 29 April 2016, pukul 23.59 WIB

2. KETENTUAN
• Naskah tidak menyinggung SARA, tidak plagiat, tidak ada unsur pornografi, tidak bersifat merusak, tidak bersifat menyimpang dan menyesatkan pembaca, asli karya penulis sendiri, tidak sedang diikutsertakan dalam lomba dan belum pernah dipublikasikan di media manapun.
• Naskah diketik rapi dalam Ms. Office Word 
• Format penulisan :
JUDUL
NAMA PENULIS
ISI NASKAH
• Panjang naskah kisah inspiratif antara 3-5 halaman A4 dan disertai biodata dengan mencantumkan akun Facebook, alamat Email. (Biodata diletakkan di halaman terpisah).

3. SISTEM PENILAIAN
• Berisi nilai inspiratif,menyentuh dan pengalaman unik (jarang terjadi)
• Naskah sesuai prosedur/ketentuan
• Penggunaan EYD Bahasa Indonesia yang baik dan benar
• Kreatifitas pada naskah (alur cerita,sudut pandang)

4. PENGIRIMAN NASKAH:
• Subjek dan nama file ditulis : NulisBarengSFK_Judul naskah_Nama penulis_Usia_asal daerah kirim SMS or WA ke 08977285362
• Naskah dikirim ke e-mail setiacenter@gmail.com berupa attachment/lampiran

*REWARD :
Berkesempatan menjadi kontributor buku terbaru dan FanPage FB Setia Furqon Kholid (plus) dapatkan hadiah menarik lainnya berupa buku karya SetiaFurqonKholid

Ayo! buat pena-mu beraksi!Dan warnai dunia dengan Kisah inspiratif mu😄
Setia Furqon Kholid :)
*Boleh SHARE

Ajari Aku

Ajari Aku 
Oleh: M Ginanjar Eka Arli

Ajari aku mengeja
Karena aku tertatih
Merangkai namamu dalam ucapanku

Ajari aku berjalan
Karena aku membisu
Diam membatu kala kita bertemu

Ajari aku cinta
Karena ku ingin selalu dekatmu
Berbagi suka, duka, canda, dan tawa

Ajari aku rela
Menahan hasrat ingin bertemu
Hingga kelak kau kan jadi milikku

Duhai sayangku

Dalam rindu, 28 April 2016

Selasa, 19 April 2016

Civics Hukum Islamic Fair 2016 "Stairway to Heaven"


Bismillah…🌸

✨“Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud)✨

💕Sebelum melangkah ke pelaminan, yuuk, mari kita sama-sama menimba ilmunya di 💜CHIF 2016💜

1.Talkshow PraNikah
Tema: “Ta'aruf, Khitbah, Nikah”
menghadirkan: 
💕Ust. Jauhar Alzanki (Motivator dan Penulis)
💕Ust. Maulana Yusuf (Al Hafidz, Imam Masjid Daarut Tauhid Bandung, menantu K.H Abdullah Gymnastiar) beserta Sang Istri,
Ghaitsa Zahira Shofa (Al Hafidzah, Putri K.H Abdullah Gymnastiar)
💕Moderator: Hasan Albana (Penyiar Radio MQFM & Owner Albana Group)

2. Bedah Buku “Konspirasi Semesta”
📖Azhar Nurun Ala (Penulis buku 1000 Wajah Ayah, Ja(t)uh, Tuhan Maha Romantis, Cinta adalah Perlawanan, dan Konspirasi Semesta)
📖Moderator: Didi Rosadi (Putra Bumi Siliwangi 2016)

3. Dimeriahkan oleh Guess Stars kece: 🎤Anandito Dwis 
🎤Azka Nasyid
🎤IEKI Voice
🎤Civic Coustic
🎤Bambu Civic

✔HTM: only 30K
✔OTS 35k (dapet ilmu yang inshaaAllah bermanfaat, Sertifikat dan snack)
✔Tempat: Gd. Achmad Sanusi (BPU) UPI Bandung
✔Waktu: 21 April 2016 pukul 08.00-selesai
✅Cara Daftar: CHIF_NAMA_UNIV/­­UMUM_NO HP_EMAIL ke 089662827874.

For more info:
💠visit: oasishmch.blogspot.com
💠like Fanspage FB: CHIF 2016
💠SMS/WA: 089662827874
💠line: @ova3520n

Kehilangan

Kehilangan
Oleh: M. Ginanjar Eka Arli 

Kau tahu?
Aku tanpa hadirmu bagai sebongkah es batu
Beku

Kau lihat?
Aku tanpa adamu bagai sinar tanpa bayangan
Meragu

Kau rasa?
Aku tanpa lembutmu bagai duri pada kaktus
Tajam dan menyakitkan

Kau dengar?
Aku tanpa rindumu bagai malaikat tak bersayap
Jatuh dan terhempas

Dan kau tahu?
Aku tanpa cintamu bagai gaung tanpa gema
Sia-sia

Hening malam, 19 April 2016

Selasa, 12 April 2016

Gerlong Pagi Itu

"Kalau tidak cepat-cepat," ucapnya sembari memberi penegasan,"nanti keburu diambil orang, lho."

Wacana itu memang sering kudengar. Namun diberitahu oleh orang yang kuanggap guru kehidupan, rasanya sama sekali berbeda. Adalah Afri, guru sekaligus partnerku dalam menjalani lika-liku perkuliahan. Lima tahun kita saling mengenal dan pria asal Sumatera ini sukses membuat otakku berputar kembali pagi ini.

Geger kalong diliputi suasana haru. Hari ini adalah upacara wisuda bagi sebagian besar mahasiswa di kampusku. Di saat orang lain menikmati status wisudanya, aku justru diajak berwacana tentang status wisudaku -- sebagai mahasiswa dan sebagai jomblo.

"Kamu tahu, Gi? Aku sudah pernah dua kali merasakan hal yang serupa. Ditinggal pergi kekasih. Ya, orang yang kita rasa tepat dan cocok dengan kita, ternyata pada akhirnya bukan jodoh. Apalah daya, toh orang paling romantis dan paling cocok sedunia pun akan kalah dari orang yang berani dan menjemput kekasih hati ke rumah orang tuanya."

"Gara-gara itu," katanya sembari menghela napas,"Aku jadi sedikit memikirkan ulang tentang prinsip hidupku dulu."

Alisku turun sebelah. Afri yang dahulu kukenal sangat idealis. Ia tidak mau menikah karena ingin merantau terlebih dahulu, jelasnya kala itu. Rambutnya yang terurai panjang adalah buktinya -- alasannya untuk menikmati kebebasan selama belum terikat dengan siapapun. Namun kini, dua orang yang ia cintai telah lebih dahulu direnggut orang lain. Sesakit itukah rasanya kehilangan?

"Setidaknya, Gi," sambungnya kembali,"Kamu harus hati-hati karena dia seorang hafidzah."

Aku terkejut. "Memangnya kenapa Fri dengan hafidzah?"

Ia menimbang kata-katanya sejenak. "Mungkin saat ini dia masih sendiri, Gi. Namun kalau kamu kalah cepat dan ada orang lain yang datang duluan, bukan tidak mungkin dia akan memilih yang lain Gi. Percaya deh, pesona hafidzah itu istimewa, Gi."

Benar sekali, pikirku dalam hati. Justru itulah yang membuatku terpikat dengannya. Gadis yang kutemui di selasa masjid itu kini telah memasuki hari-hariku. Cepat atau lambat, dunia pasti mengerti bahwa ada "rasa" di antara kita. Hanya rasa malu yang membuat kita memendamnya. Hingga saat yang tepat itu telah tiba.

"Aku tidak bermaksud mengompori lho, Gi. Ini hanya saran saja, sebagai teman yang perduli. Apalagi kamu sudah punya pekerjaan sekarang. Gaji di atas UMR, mental -- setidaknya lebih baik dibanding teman kita yang lain, dan ilmu untuk menjalaninya? Sedikit banyak sepertinya kamu sudah bisa mengayomi dan menjadi pemimpin dalam keluarga."

Aku tersenyum mendengar kalimatnya tersebut. Di jalan, mahasiswa-mahasiswi sedang sibuk mencari sarapan. Para santri tahfidz qur'an ikut meramaikan jalanan tersebut dengan pesona-pesonanya. Di antara para santri, kulihat ia sedang tersenyum sembari berbincang dengan sahabatnya. Ia dengan pesonanya, kembali memikat hatiku.

Gerlong ... semakin indah karena kehadiran dirinya.

Bandung, 13 April 2016

Senin, 11 April 2016

Puzzle Tjinta

Puzzle Tjinta
Oleh: M. Ginanjar Eka Arli

Kata demi kata terungkap
Membentuk kalimat-kalimat yang lengkap
Menyingkap untaian penuh hikmat
Dalam satu alunan hikayat

Duhai keluarga tjinta
Mari ungkap tabir kata
Memberikan sedikit ruang
"Bagi dialog yang mencerdaskan"

Selanjutnya biarkan jiwa dan raga kita
Terbuka dan menerima bunga-bunga diskusi
Yang termaktub dalam sebuah wacana: 
Keluarga Tjinta

Bandung. 10 April 2016

Izinkan Aku Menghalalkanmu

Izinkan Aku Menghalalkanmu
Oleh: M. Ginanjar Eka Arli

Telah tiba kita pada suatu masa
Dimana keputusan harus disampaikan
Janji-janji harus dibuktikan
Dan doa-doa terus dilantunkan

Maka jika engkau mulai meragu
Tataplah dalam-dalam ke lubuk hatiku
Maka sejenak kau akan bertemu
Niat tulusku yang hanya padamu

Ku tak ingin lagi bermain-main
Seperti kau juga yang lelah dipermainkan
Jadi, mari kita semua serahkan
Takdir cinta ini pada Yang Maha Mencinta

Duhai kau yang selalu kupuja
Ingin sekali aku segera tiba
Menjemputmu dalam haru dan lara
Agar kelak kita berbahagia bersama
Meniti jalan sehidup sesurga

Izinkan aku menghalalkanmu, cinta

Bumi Siliwangi, 9 April 2016