Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Januari 2019

Rumah

Rumah
Oleh: M. Ginanjar Eka Arli

Kita hanyalah senyawa kecil dalam semesta yang kerdil
Larut dalam hiruk pikuk dunia
Berangan berbahagia sampai ke nirwana

Di antara sekat-sekat rindu dan benci yang tersesat
Kita pernah hadir dan berbagi harap
Menguar bak aroma kopi yang likat
Lalu hilang di antara pekat langkah yang berderap

Hari-hari membuat kita menjadi biskuit yang lemau
Menghabiskan suara kita yang parau
Menahbiskannya sebagai kenangan masa lampau

Saat kita sudah lelah berjuang
Dan yang bisa dilakukan hanyalah pulang
Maka, sebuah pelukanlah yang kita perlukan kemudian

Rumah tempat kita berlindung
dari kejamnya cacian dan makian,
terpaan dan ujian,
pahitnya kehidupan

Bandung, 28 Januari 2019

Selasa, 24 Mei 2016

Untuk Apa?

Untuk Apa?
Oleh: M. Ginanjar Eka Arli

Untuk apa: surat yang tak dikirim
Untuk apa: pesan yang tak tersampaikan
Untuk apa: mimpi yang tak tergapai
Untuk apa: hutang yang tak terbayar
Untuk apa: janji yang tidak ditepati
Untuk apa: hati yang tersakiti
Untuk apa: luka yang tak terobati
Untuk apa: diri yang terlupakan
Untuk apa: kasih yang tak sampai
Untuk apa: cinta yang tak terbalas

Untuk apa?

160516

Ajari Aku (3)

Ajari Aku (3)
Oleh: M. Ginanjar Eka Arli

Ajari aku mencintaimu
Seperti cinta matahari kepada bunga
Enggan mendekat karena ia kan binasa

Ajari aku menyayangimu
Layaknya matahari dan sang rembulan
Memberi sinar agar cantiknya benderang

Ajari aku mengingatmu
Bak langit kepada lautan
Memantulkan bias cahaya nan kekal abadi di hadapannya

Ajari aku menjagamu
Seperti karang yang di terpa sang ombak
Kokoh bertahan hingga ajal menjelang

Ajari aku membersamaimu
Layaknya air dan rinai hujan
Selalu bersama tuk menjemput pelangi senja

Ajari aku memperjuangkanmu
Bak pangeran dengan pedang tajamnya
Pergi menumpas sang naga demi menolong sang putri tercinta

Dan ajari aku memilikimu
Seperti warna pada setangkai bunga
Saling melengkapi dalam memberi keindahan pada dunia

Ajari aku, Cinta

Kala rinai hujan tiba, 160516

Kamu

Kamu
Oleh: M. Ginanjar Eka Arli

Kamu
Masih saja kusebut dalam doaku
Masih berputar dan bermain di pikiranku
Tingkahmu yang lucu dan lugu
Membuatku teringat pada adik kecilku

Kamu
Masih saja kusebut dan kurindu
Masih bertengger di tempat pertama dalam hatiku
Meski kau menjauh dan kadang meragu
Namun kau tetap bertahan, bertahta dalam istanaku

Kamu
Sosok yang kupuja dan kucinta
Entah bagaimana dulu kita bisa berjumpa
Mungkin itulah takdir Sang Maha Cinta
Membuat semesta berkonspirasi tentang kita dihadapan-Nya

Kamu
Ya, kamu

Kala Rindu, 150516

Kita

Kita
Oleh: M. Ginanjar Eka Arli

Kita hanyalah dua anak kecil yang lugu
Bersama-sama menghabiskan waktu
Menanti esok untuk kembali bertemu

Tak usah kau risau tentang rasa
Karena perjalanan rasa membentang seluas samudera
Terhampar di bawah langit senja bertabur asa
Menyelami kedalaman hati yang penuh misteri

Namun cinta tak dapat berdusta
Ia selalu hadir tanpa bisa diterka
Muncul begitu saja diantara kita
Hingga masing-masing dari kita kini menerka
"Adakah dia juga cinta?"

Maka sekali lagi, tak usah risau maupun galau
Karena semua bukan masalah "kalau"
Tapi perihal keberanian, pengorbanan, dan perjuangan
Tentang aku, kamu, dan kita berdua

130516

Spasi

Spasi
Oleh : M. Ginanjar Eka Arli

Kita bagaikan dua kata yang terpisah oleh spasi
Takkan pernah bertemu selamanya, kecuali
Salah satu dari kita maju atau beranjak kembali

Jarak itu
Bukan sesuatu yang bisa kita tempuh dalam satu kali "klik"
Namun membutuhkan proses, perjuangan, dan (tentu) penantian
Karena dua kata berbeda, terkadang, bisa menjadi tak bermakna ketika bersama

Aku dan kamu memiliki ciri khas tersendiri
Aku dengan huruf-huruf penyusunku
Dan kamu dengan rangkaian huruf yang menyusunmu

Jika kita tidak mau untuk saling mengerti (lagi)
Maka, akankah puisi ini kelak memiliki arti?

120516

Jeda

Jeda
Oleh : M. Ginanjar Eka Arli

Mungkin kita hanya butuh sebuah jeda. 
Atas rasa yang telah letih. 
Dan hati yang kini mulai tertatih.

Jeda. 
Membuat ruang diantara kita. 
Agar kita tak dulu bertemu. 
Untuk saban hari tak lagi bersama.

Sebuah jeda. Antara kau dan aku.

120516

Ajari Aku (2)

Ajari Aku (2)
Oleh: M. Ginanjar Eka Arli

Ajari aku mencintai hujan
Dengan gemuruh yang membuat hati berdebar
Seperti perasaan saat kau datang dan duduk di hadapan

Ajari aku mencintai hujan
Dengan kilat yang menyambar-nyambar
Membuat flashback akan kenangan tentang dirimu yang tlah lampau

Ajari aku mencintai hujan
Dengan gerimis yang turun satu-satu
Membuat lembab dan basah tanah hati yang merindukanmu

Ajari aku mencintai hujan
Dengan keras dan derasnya badai yang kan datang
Memporak-porandakan hati dan perasaan kala menghadapi ujian kehidupan

Dan ajari aku mencintai hujan
Dengan indahnya lengkung pelangi yang kan tiba
Setelah kita menjalani semua suka dan duka bersama

Ajari aku mencintaimu, cinta.

Kota kembang, 30 April 2016

Rabu, 27 April 2016

Ajari Aku

Ajari Aku 
Oleh: M Ginanjar Eka Arli

Ajari aku mengeja
Karena aku tertatih
Merangkai namamu dalam ucapanku

Ajari aku berjalan
Karena aku membisu
Diam membatu kala kita bertemu

Ajari aku cinta
Karena ku ingin selalu dekatmu
Berbagi suka, duka, canda, dan tawa

Ajari aku rela
Menahan hasrat ingin bertemu
Hingga kelak kau kan jadi milikku

Duhai sayangku

Dalam rindu, 28 April 2016

Selasa, 19 April 2016

Kehilangan

Kehilangan
Oleh: M. Ginanjar Eka Arli 

Kau tahu?
Aku tanpa hadirmu bagai sebongkah es batu
Beku

Kau lihat?
Aku tanpa adamu bagai sinar tanpa bayangan
Meragu

Kau rasa?
Aku tanpa lembutmu bagai duri pada kaktus
Tajam dan menyakitkan

Kau dengar?
Aku tanpa rindumu bagai malaikat tak bersayap
Jatuh dan terhempas

Dan kau tahu?
Aku tanpa cintamu bagai gaung tanpa gema
Sia-sia

Hening malam, 19 April 2016

Senin, 11 April 2016

Puzzle Tjinta

Puzzle Tjinta
Oleh: M. Ginanjar Eka Arli

Kata demi kata terungkap
Membentuk kalimat-kalimat yang lengkap
Menyingkap untaian penuh hikmat
Dalam satu alunan hikayat

Duhai keluarga tjinta
Mari ungkap tabir kata
Memberikan sedikit ruang
"Bagi dialog yang mencerdaskan"

Selanjutnya biarkan jiwa dan raga kita
Terbuka dan menerima bunga-bunga diskusi
Yang termaktub dalam sebuah wacana: 
Keluarga Tjinta

Bandung. 10 April 2016

Izinkan Aku Menghalalkanmu

Izinkan Aku Menghalalkanmu
Oleh: M. Ginanjar Eka Arli

Telah tiba kita pada suatu masa
Dimana keputusan harus disampaikan
Janji-janji harus dibuktikan
Dan doa-doa terus dilantunkan

Maka jika engkau mulai meragu
Tataplah dalam-dalam ke lubuk hatiku
Maka sejenak kau akan bertemu
Niat tulusku yang hanya padamu

Ku tak ingin lagi bermain-main
Seperti kau juga yang lelah dipermainkan
Jadi, mari kita semua serahkan
Takdir cinta ini pada Yang Maha Mencinta

Duhai kau yang selalu kupuja
Ingin sekali aku segera tiba
Menjemputmu dalam haru dan lara
Agar kelak kita berbahagia bersama
Meniti jalan sehidup sesurga

Izinkan aku menghalalkanmu, cinta

Bumi Siliwangi, 9 April 2016

Kamis, 24 Maret 2016

Doa

Doa
Oleh : M. Ginanjar Eka Arli

Kita masih sama-sama terdiam
Berbisik pada awan
Mengucap rindu pada rembulan

Entah sudah berapa purnama kita bersama
Sejak aku mengenalmu
Dan kau mengenalkan diri kepadaku

Terkadang kita saling berprasangka
Kau berpikir begini begitu kepadaku
Akupun berpikir begini begitu kepadamu

Maka sebelum hati kita merajut prasangka
Cukuplah kita melayangkan doa ke angkasa
Agar kelak kita dapat bersama
Membangun cinta sehidup sesurga

Duhai cinta

Sumbawa, 24 Maret 2016

Senin, 07 Maret 2016

Curhat Mahasiswa Tingkat Akhir

Curhat Mahasiswa Tingkat Akhir
Oleh: M. Ginanjar Eka Arli

Biarkan aku berdua denganmu
Walau mencuri-curi waktu
Ku ingin tetap bersamamu
Oh, sayangku ...

Bukan karena keterpaksaan
Namun inilah bentuk tanggung jawabku
Amanah terakhir yang ingin kupikul
Sejak pertama kupijakkan kaki di bumi tempat kau berada

Tak perlu bermuram durja
Apalagi sendu tertawa
Karena kuyakin pasti
Semua kan berakhir bahagia

Duhai engkau
Yang kini kupuja
Sudikah engkau kupinang
Dalam balutan toga nan wibawa

Bersama kita meraih cinta
Berdua kita merajut asa
Menjemput masa depan nan bahagia
Hingga akhir masa

Wahai skripsiku ter-tjinta

Martanegara, 6 Maret 2016

Jumat, 04 Maret 2016

Jodoh

Jodoh
Akan selalu ada
Jawaban atas setiap tanyamu
Yang telah disiapkan oleh-Nya
Dalam catatan lauhul mahfudz milikmu

Kita hanya mesti percaya
Atas segala ketentuan-Nya
Bahwa kau diciptakan untukku
Dan aku diciptakan pula untukmu

Kelak kita akan bertemu
Dalam suasana yang haru
Berdua, di depan penghulu
Bersumpah setia, beribadah sampai akhir waktu

Maka tunggulah aku, sayangku
Yang sedang memantaskan diri untuk bersanding denganmu
Sampai takdir mempertemukan kau dan aku
Cukuplah kini kusebut kau dalam setiap doaku

Untukmu, wahai jodohku

Karawitan, 26 Februari 2016

Bagaimana Jika

Bagaimana Jika
Bagaimana jika ...
Kau membaca puisi ini sembari berdendang
Ditemani boneka beruang di atas kasur empuk kamar asramamu

Bagaimana jika ...
Kemudian kau membayangkan aku
Lalu kita tersenyum berdua, atas kata-kata yang terangkai dalam benak semata

Bagaimana jika ...
Kita lalu mengaitkan untaian kalimat yang saling kita berikan
Dan membayangkan keterkaitan antarsemuanya

Bagaimana jika ...
Kau kemudian menemukan fakta mengejutkan
Bahwa hanya kaulah seorang, inspirasiku dalam membuat karya

Bagaimana jika ...
Engkau mengetahui sebuah kenyataan
Bahwa semua tulisan ini kudedikasikan untuk satu orang: Hanya untukmu

Bagaimana jika ...
Itu semua benar terjadi suatu hari nanti?
Kuharap kau dapat mengerti, wahai kekasih

Karawitan, 3 Maret 2016

Jatuh Cinta Diam-Diam (2)

Jatuh Cinta Diam-Diam (2)
Oleh: M. Ginanjar Eka Arli

Mencintaimu ...
Seperti debur dalam ombak
Selalu bersama dan mengempas dunia

Mencintaimu ...
Seperti laju dalam waktu
Terus bergulir seakan tiada berakhir

Mencintaimu ...
Seperti debar dalam jantung
Terus berdetak sampai diri terentak

Mencintaimu ...
Seperti bisu dalam lagu
Berharap kau tahu tanpa perlu kuganggu

Mencintaimu ...
Haruskah menjelma Aku?

Bumi Siliwangi, 2 Maret 2016

Rabu, 24 Februari 2016

Tunggu Apalagi?

Tunggu Apalagi?

Niat itu sudah bulat
Janji itu telah terucap
Ikhtiar pun sudah lengkap
Kau tunggu apalagi?

Persiapan sudah mantap
Doa-doa terus menghidmat
Malaikat pun kian mendekat
Lalu, tunggu apalagi?

Kini wali sudah merapat
Undangan sudah merambat
Teman-teman mengucap selamat
Kau tunggu apalagi?

Saat ijab kadang tercekat
Orang di sekitar harap-harap cemas
Suasana kian meranggas
Apalah lagi yang kau tunggu?

Kini kau ulang membaca basmalah
Memohon doa pada semua
Hingga terucap kata hamdalah
Syukurlah semua sudah sah

Alhamdulillah, semua masih angan belaka
... Jadi, kau tunggu apalagi?
Tengah Malam, 22 Februari 2016

Minggu, 24 Januari 2016

Jatuh Cinta Diam-Diam

Jatuh Cinta Diam-Diam
Oleh: M. Ginanjar Eka Arli

Mencintaimu
Adalah takdir unik sang penguasa waktu
Yang mempertemukan kita di selasar masjid itu
Dan menyatukan kita dalam ikatan yang tak menentu

Mencintaimu
Adalah ujian bagiku
Kala parasmu menarik pandanganku
Dan membuatku terbuai akan tatapanmu

Mencintaimu
Adalah pilihan hatiku
Yang memutuskan untuk senantiasa mengagumimu
Dan berharap suatu hari kan menjadi milikku

Mencintaimu
Adalah menerka-nerka setiap statusmu
Membaca keluh kesah serta bahagia dengan sahabatmu
Dan berharap bahwa itu adalah aku

Mencintaimu
Adalah bait-bait doaku dalam rindu
Ketika bibir bertasbih pada penghujung malamku
Dan berharap dirimulah yang kan menjadi jodohku

Mencintaimu
Adalah hal yang kan selalu kulaku
Mengukir tawa dan bahagia bersama
Merajut cinta sehidup sesurga

Duhai pujaan hatiku

Dalam rindu, 21 Januari 2016

Senin, 18 Januari 2016

Di Balik Pintu

Di Balik Pintu
Oleh : M. Ginanjar Eka Arli

Tertinggal kenanganku denganmu
Saat kita saling bercumbu
Memadu kasih yang membuat iri sang waktu
Hingga ia terbakar api cemburu
Dan memutuskan kisah kau dan aku

Lalu di balik pintu itu
Kau temukan sosok pengganti diriku
Muda, tampan, kaya, dan gagah perkasa
Membuatnya bak seorang raja
Bertahta di singgasana cinta

Kini apalah daya diriku
Hanya dapat merajut kenangan kau dan aku
Yang tak mungkin kembali karena kalian telah bersatu
Berjanji setia untuk sepanjang waktu
Hingga maut menjemput salah satu

Selepas Hujan, 17 Januari 2016

#Sajak #Cinta #Perpisahan #Kenangan #Puisi #Poem #Love #OneDayOnePost #HariKetujuh #GIPH