Tampilkan postingan dengan label About Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label About Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juli 2015

Bandel

Dimanapun kita berada, yang paling susah adalah istikamah dalam menjalankan sesuatu. Ya, istikamah atau yang ajeg yang diartikan dalam KBBI sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen, merupakan hal yang memiliki tantangan tersendiri. Bahkan dalam salah satu haditsnya, Rasulullah Saw. juga menyampaikan bahwa amalan yang kecil tapi istikamah lebih besar pahalanya dibandingkan amalan yang besar tapi jarang dilakukan.

Ketika dihadapi dengan situasi nyata, biasanya hal ini terjadi ketika kita memasuki suatu komunitas. Misalkan ketika bergabung dalam komunitas menulis, kita diminta untuk rutin membaca dan menulis setiap hari. Alhasil, seleksi alam akan berlaku. Orang yang benar-benar serius ingin menjadi penulis akan menjalaninya dengan senang hati. Sementara di sisi lain, yang masih memiliki niat setengah hati akan gugur dengan sendirinya. Pun begitu dengan yang lainnya, termasuk komunitas One Day One Juz (ODOJ).

Sahabat ODOJ (15/7)
ODOJ merupakan salah satu komunitas pembaca Quran yang mewajibkan anggotanya untuk membaca Alquran minimal satu juz/hari. Dalam membaca quran ini memang diperlukan azzam yang kuat, ghirah yang tinggi, dan juga sahabat yang saling mengingatkan serta menguatkan. Hal ini sangat gue rasakan ketika bergabung dalam salah satu grup ODOJ yakni grup #899.

Pada awalnya gue bergabung dalam komunitas ini untuk menjaga amalan gue, terutama dalam membaca Alquran. Awal"nya terasa mudah, dalam arti gue masih banyak waktu luang, kesibukan belum terlalu tinggi, tugas gak terlalu banyak, dan sebagainya. Namun seiring berjalannya waktu, gue mulai sedikit terbebani dengan aktivitas ini. Kadang laporan sering telat sampe tengah malem, bahkan gue bela"in i'tikaf di masjid hanya demi mengejar targetan juz.

Sempat terbersit untuk berhenti, gue ngerasa malu, yang lain bisa berhasil sampai berjuz-juz, bahkan di bulan Ramadhan ini mungkin ada yang khatam Quran sampai beberapa kali. Kalau dibandingkan dengan gue? Gak ada apa-apanya. Gue ngerasa jadi anak yang paling 'bandel' disini. Laporan telat, kadang ditanya gak dijawab, dan sebagainya. Gue malu dengan yang lain, apalagi sama admin grupnya, akh Rizal dan akh Yudi.

Namun, apa yang gue dapatkan kemudian? Meski gue takut dikucilkan, ternyata sebagai admin akh Rizal dan akh Yudi gak pernah menjauhi dan membedakan gue dengan anggota lainnya. Mereka dengan sabar terus menasihati dan memberikan gue semangat untuk terus istikamah sebagai anggota ODOJ. Jujur, gue terharu. Baru kali ini gue ngerasa dihargai di suatu komunitas seperti ini.

Dan kata-kata yang paling 'to the jleb' dari akh Yudi adalah sebagai berikut. Ketika gue ngerasa minder dan bilang 'rasanya pengen keluar', balasan dari beliau justru:

"Kalo memang udah bisa mandiri, justru orang gak perlu lagi ikut komunitas. Futur itu biasa kok, justru adanya komunitas ini memang supaya kita bisa saling mengingatkan dan belajar istikamah."

Sumpah, gue pengen nangis. #Lebay.

Tapi, pelajaran yang gue dapet hari ini, bahwa sekecil apapun komunitas, sebandel apapun anggota, kita harus tetap istikamah, memperjuangkan, dan saling mengayomi satu sama lain. Alhasil, anggota yang paling bandel sekalipun bisa jadi nantinya berubah, aktif berkontribusi, dan menjadi salah satu pentolan organisasi selanjutnya. Trust me, it works.

Gue yang ngerasain itu, ketika di Al-Qolam, pas di ODOJ, saat di Tutorial, hingga di BEM Himatika. Kali ini gue juga akan mencoba menerapkannya di komunitas menulis yang gue pegang. Kita serahkan saja semuanya pada Ilahi Rabbi, jika niat kita baik insya Allah jalannya akan dimudahkan. Mohon doanya ya semuanya, semoga kita bisa istikamah menjalankan amanah yang sedang kita emban sekarang ^_^ aamiin

Salam hangat dan selamat mempersiapkan buka puasa ;)

@agi_eka

Minggu, 28 Juni 2015

Gen-I (Generasi Iqra!)

Berawal dari sedikit diskusi ringan bersama seorang sahabat, gue terinspirasi untuk membuat tulisan ini. Pada dasarnya hal ini bermula juga dari sebutan kader-kader salah satu UKM di UPI, sebut saja BAQI. UKM ini bertujuan untuk memberantas buta huruf al-quran di bumi siliwangi. Selaras dengan hal tersebut, akhirnya mereka membuat pasukan, prajurit, ataupun punggawa, yang disebut dengan Gen-Q (Generasi Qur'ani).

Gue membayangkan, kalo misalkan BAQI punya Gen-Q, kenapa Al-Qolam, UKM tempat gue berada, gak membuat Gen-I (Generasi Iqra!). Karena BAQI berbasis "Belajar Al-Qur'an Intensif", tentu fokus utamanya ke Qur'an. Maka Al-Qolam yang berbasis "Kepenulisan" hendaknya bisa membuat kader-kader yang giat membaca maupun menulis.

Sesuai ayat pertama dari Al-Quran yakni: "Iqra!" (Bacalah). Kita sebagai manusia diperintahkan Allah untuk membaca, tidak dikhususkan pada sesuatu, tapi bacalah semua yang ada di dunia ini. Bacalah buku, bacalah sikap orang, bacalah keadaan, bacalah situasi dan kondisi, dan bacalah juga hikmah yang ditujukan Allah kepada kita. Iqra! Bacalah!

Pasangan membaca tentulah menulis. Semakin banyak kita membaca, semakin banyak pula ilmu yang kita peroleh, dan semakin "gatal"-lah kita untuk menyebarkannya. Maka dengan banyak membaca, cepat atau lambat kita akan segera menulis. Trust me, it works!

Itulah generasi harapan yang pengen gue bentuk. Generasi yang berbasis dengan membaca dan menulis. Generasi yang besar dengan buku. Generasi yang akrab dengan pena. Dan generasi yang dapat melaksanakan "Dakwah bil Qolam." Mudah-mudahan Allah meridhai dan memudahkan jalan tersebut.. Aamiin.

Tertarik untuk menjadi bagian dari Gen-I? Yuuk daftarkan dirimu dengan menghubungi gue secara personal! (Cek di kolom biodata: My Personal Identitiy). Okeh? Atau kalau ada pertanyaan boleh disematkan di kolom komentar juga. Terima kasih banyak sebelumnya. Semoga bermanfaat~ ;)

@agi_eka

Ngabuburit ke Pesantren bersama Opick 'Tombo Ati'

Hari ini adalah hari yang cukup mengagetkan. Pasalnya, siang bolong dari kosan gue terdengar lantunan lagu-lagu religi dari kejauhan dengan suara yang cukup keras. Awalnya gue kira, "Ini siapa ya yang nyetel lagu keras2?" Namun setelah gue perhatikan lagi, kok kedengerannya kayak live music ya?

Tanpa mau berpikir panjang, gue lanjutkan aktivitas gue untuk berselancar di dunia maya. Dan entah darimana (gue lupa statusnya siapa), kayaknya sih gue ngeliat ada salah seorang temen yang ngomong, "Eh sekarang lagi ada Opick di Daarut Tauhiid. Yuk datang!" Oya, gue inget. Itu salah satu teteh gue di matematika, namanya teh Evi. Kalo gak salah beliau juga salah satu santri DT. #KaloGakSalahYa XP

Gue langsung berpikir, "Ah, masa iya Opick hari gini ke DT? Kok beritanya gak booming dari kemarin2 ya?" Setengah gak percaya gue pun masih bermalas-malasan. Pun akhirnya gue melanjutkan aktivitas untuk 'menabung' di kamar mandi, bebersih diri, dan bersiap" untuk menyambut Ashar yang tidak lama lagi berkumandang.

Tapi, tapi, entah kenapa gue tetep penasaran nih ceritanya untuk mengetahui, "Bener gak sih berita itu?" Akhirnya setelah berunding dengan mamah, gue putuskan untuk berangkat sendiri. Gue coba cek" di dome 5, daan gue menemukannya! Ya, disana Opick bener" lagi manggung dan disiarkan langsung di MNC TV!! XD

Cuman sebenernya gak seheboh itu sih. Gue dateng ternyata bertepatan dengan bubarnya peserta dari tempat tersebut. #Sedih

Walau begitu, ternyata gue masih menemukan salah satu temen juga disana yang ternyata (baru) datang juga. Hoho sebut saja dia Achmad (memang nama sebenarnya). Setelah berkompromi, ba-bi-bu, kita memutuskan untuk datang ke backstage mencari ustad. Opick "Tombo" Ati, daan disanalah kita berada selanjutnya! Setelah ba-bi-bu kembali dan meminta bantuan orang disana dengan sedikit ba-bi-bu, akhirnya kesampean juga keinginan kami untuk foto bersama mas Opick.

Me and Achmad berfoto bersama Opick "Tombo Ati" (28/6)

Jadi ceritanya Opick memang sedang melaksanakan roadshow gitu ke pesantren" di Indonesia untuk melihat kultur dan aktivitas dari tiap pesantren tersebut. Salah satu pesantren yang kemarin didatangi yakni Pesantren Daarut Tauhiid (DT), tempat Aa Gym berada. Pada rangkaian roadshow di DT, pagi" diisi dengan acara nonton bareng Salahudin Al-Ayyubi, kemudian dilanjut tausyiah dari Aa Gym dan ditutup dengan penampilan dari mas Opick :)

Melihat kesempatan yang jarang-jarang ini, entah kenapa gue merasa sayang sekali jika tidak menyempatkan diri bertanya sesuatu kepada tokoh besar di negeri kita. Maka keluarlah pertanyaan spontan dari mulut gue yakni sebagai berikut.

"Ustad, kenapa sih ustad memilih untuk berdakwah melalui musik? Melalui seni gitu?"

Dan beliau menjawab dengan cukup singkat (dan terpotong).

"Akhi, itu seperti antum nanya. Kenapa antum dilahirkan sebagai seorang laki-laki!"

Karena setelah itu pembicaraan terpotong, adzan ashar berkumandang, dan kamipun tidak enak kepada beliau, jadi kami pun segera undur diri dengan pikiran berkecamuk di benak masing-masing. Diskusi pun dimulai, kami mencoba menafsirkan secara bebas, apakah yang kiranya hendak disampaikan mas Opick tadi?

Dan pada akhirnya kami mengambil kesimpulan sebagai berikut. Pada dasarnya manusia tidak memiliki daya dan upaya ingin dilahirkan seperti apa kita. Mau menjadi apa kita, dan mau kemana kita nanti? Allah menganugerahkan kita suatu bakat yang memang kiranya bisa dimanfaatkan untuk umat, untuk berdakwah.

Ketika kita diberikan tubuh yang kuat, sehat, dan bugar, otot baja tulang besi, mungkin disana Allah ingin kita membantu orang-orang lemah dengan kekuatan fisik kita yang berlebihan. Lalu jika kita diberikan suara yang indah, kemampuan berekspresi, menciptakan lirik lagu maupun musik yang merdu, mungkin disanalah Ia ingin kita memaksimalkan potensi kita yakni di bidang tarik suara.

Jikalau dirimu memiliki bakat untuk menulis, maka cobalah membuat suatu karya yang dapat menginspirasi orang lain. Dan berbagai bakat, kemampuan, dan kesanggupan dirimu, manfaatkanlah potensi tersebut dengan sebaik-baiknya. Itulah hikmah yang bisa gue ambil pada malam hari ini. Hehe

Hal ini juga secara khusus menambah motivasi gue dalam menulis, dan mudah"an sedikit petikan ilmu ini menambah motivasi kalian dalam berkarya yaa (dalam bidang apapun tentunya) ;)

Barakallah :)

agi_eka

Sabtu, 13 Juni 2015

Gabung Yuk! Funway Ramadhan 1436H :D

Tak terasa sebentar lagi Ramadhan akan kembali datang. Berbagai khalayak mulai dari anak-anak, remaja, mahasiswa, sampai orang dewasa semua merayakannya dalam balutan satu ikatan ukhuwah islamiyah. Tentunya kita pun tak mau ketinggalan kan merayakan bulan suci penuh berkah dan rahmat ini? :)

Beberapa hari yang lalu di Lampung, kota tempat gue besar, juga diadakan acara yang serupa. Lebih dari seribu orang yang terdiri dari siswa SD, SMP, SMA, bahkan mahasiswa, guru, dosen, masyarakat umum, aktivis, dan lainnya, mengadakan pawai Ramadhan juga hingga berkumpul di Bundaran Gajah. Sungguh, kegiatan ini membuat gue merindukan Bumi Ruwa Jurai tempat tinggal gue dahulu.

Suasana Pawai Ramadhan di Bandar Lampung oleh FORKAPMI Lampung.

Memang ketika acara seperti ini, hijab (pembatas) antara panitia dan peserta harus kita lepas. Tidak hanya karena kita panitia, maka kita harus riweuh ngurusin acara kayak gini. Bukan juga karena kita peserta, maka kita mengharapkan dapat balasan dari panitia berupa gorengan dan aqua gelas. Tapi karena KITA UMAT MUSLIM yang sama-sama beragama Islam, maka disanalah kekuatan kita untuk menyukseskan acara kita bersama :)

Kali ini, gue pengen mengajak semua umat Muslim, khususnya yang berada di kota Bandung, untuk ikut menyemarakkan pawai penyambutan Ramadhan yang diselenggarakan oleh Panitia Pelaksana Program Ramadhan (P3R) Salman ITB 1436H. Insya Allah acara ini akan dilaksanakan besok, hari MInggu 14 Juni 2015, pukul 07.00 WIB s.d. selesai :)

Pawai Funway Ramadhan 1436H (14/6)

Pawai ini tidak lain dan tidak bukan bertujuan untuk menyemarakkan penyambutan Ramadhan sekaligus menyosialisasikan program Ramadhan yang ada di masjid Salman ITB. Tentu, H-4 Ramadhan membuat kita perlu untuk mempersiapkan diri, baik ruhiyah maupun jasmaniah. Nah, disinilah pentingnya saling mengingatkan. Bukannya Allah Swt. juga telah menyampaikan di surat Al-Ashr ayat 1-3? :)

"Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran." (Q.S. 103:1-3)

So, daripada hari minggumu ngejones seharian di kamar, nangis guling-guling gak karuan, mendingan gabung sama kita untuk menggelorakan Semangat Ramadhan 1436H :)

Selain dapat pahala, dapat teman baru, kita juga dapat barokah dari acara ini lhoo.. Insya Allah :D

Psst.., Setelah pawai selesai, tidak hanya disuguhi makanan dan minuman dari panitia. Tapi, kita juga bakal disuguhi pameran-pameran Ramadhan Nusantara lho di Masjid Salman ITB :D

Penasaran?? XP

Jadi, kamu mau tunggu apalagi? Segera persiapkan amunisi perangmu (Tjie! :D). Cukup membawa diri, pakai baju rapih, bawa sarung, baju batik, peci hitam (ikat kepala sunda - untuk ikhwan dan jilbab - untuk akhwat), celana rok (khusus akhwat), baju warna orange, putih, atau biru or batik (untuk akhwat). Simple kand? :)

Oya, Titik kumpul nanti di Lapangan Rumput Salman ITB.. Jangan nyasar lho ya XD

Yuuk Yuuk Yuuk.. Mari Kita Gelorakan Semangat Nusantara di Bumi Parahiyangan :D

#RamadhanNusantara #P3R1436H #FunWayRamadhan @agi_eka

Rabu, 10 Juni 2015

Meraih Keberkahan dalam Hujan Safir

RESENSI BUKU "HUJAN SAFIR"
Oleh : M. Ginanjar Eka Arli

Judul Buku       : Hujan Safir

Penulis             : Meyda Sefira

Tahun Terbit    : Februari, 2014

Tebal Buku       : xvi + 188 halaman

Penerbit           : McM Publishing

Harga               : Rp. 79.000,-

Selalu ada kisah dibalik sebuah peristiwa, baik kisah suka maupun duka. Kedua peristiwa tersebut diramu oleh sang Maha Pengatur dengan skenario-Nya hingga menghasilkan sebuah kenyataan yang kita alami saat ini. Begitulah jua yang dialami oleh salah satu makhluk-Nya yang bernama Meyda Sefira. Berbagai peristiwa dan skenario-Nya telah ia jalani sampai menjadi Meyda yang kita kenal hari ini. Dan segala kisah perjalanan hidupnya tersebut kini tertuang dalam buku autobiografinya yang bertajuk: "Hujan Safir."

Sebelumnya mari kita berkenalan dulu dengan wanita kelahiran Bandung ini. Meyda Sefira merupakan putri ketiga dari lima bersaudara yang dilahirkan oleh pasangan Ir. H. Irvin Murad dan Hj. Annie Maryani pada tanggal 20 Mei 1988. Semasa kecil, Meyda pernah tinggal di Ambon dan Surabaya, hingga akhirnya menetap kembali di Bumi Parahiyangan, Bandung. Meyda kecil merupakan salah satu anak yang pendiam. Dari kisah-kisahnya yang tertuang di awal buku ini, menggambarkan betapa penurut dan menggemaskannya Meyda ketika itu.

Semasa remaja sampai dewasa, Meyda mendapatkan banyak pembelajaran dalam nilai-nilai kehidupan dari Ibunya. Diantaranya, "Jika ingin mudah dikenal, jadilah pribadi yang unik."; "Dimanapun kamu sekolah, jadilah yang terbaik!"; dan lain sebagainya. Pembelajaran-pembelajaran tersebut disampaikan secara lugas dan renyah dalam buku ini. Pun dengan pembelajaran Meyda untuk menjadi pribadi yang mandiri dengan bekerja part time dan lainnya, sungguh sangat menginspirasi dan menggugah hati pembacanya.

Titik tolak kehidupan Meyda terletak pada saat ia mulai berhijab. Keinginan yang kuat dengan didasari niat yang tulus tersebut mengantarkan Meyda ke puncak kesuksesannya yakni menjadi bintang dalam Mega Film "Ketika Cinta Bertasbih." Ya, Meyda terpilih sebagai tokoh Ayatul Husna, bersama dengan teman-temannya yang lain yakni: Cholidi Asadil Alam (Khairul Azzam), Oki Setiana Dewi (Anna Althafunnia), Alice Sofie Norin (Eliana), dan Andi Arsyil Rahman (Furqon). Mereka berlima terpilih menjadi pemeran utama film yang diangkat dari novel best seller karya novelis no.1 Indonesia, Habiburrahman El Shirazy. Proses audisi dan karantina Meyda dalam buku ini diceritakan dengan sangat menarik. Hal-hal yang umumnya tidak kita ketahui, semuanya diungkapkan Meyda secara mendetail. Saya sarankan untuk membaca langsung agar tidak ada poin-poin yang terlewatkan :)

Tidak hanya berhenti disana, jalan mulus Meyda selanjutnya kembali terbentang. Setelah film KCB selesai, kembali Meyda ditawari menjadi pemeran dalam film-film layar lebar lainnya. Mulai dari "Dalam Mihrab Cinta", "Cinta Suci Zahrana", hingga beberapa sinetron dan serial televisi lainnya. Banyak hikmah yang bisa kita petik dari kisah tersebut. Salah satunya bahwa kerja keras yang kita lakukan hari ini insya Allah akan berbuah manis di hari yang akan datang.

Satu pelajaran moral yang juga dapat kita ambil dari buku ini yaitu bahwa di setiap peristiwa sesungguhnya selalu ada hujan, baik itu "hujan rahmat" maupun "hujan musibah. Bahkan sesungguhnya dalam hujan musibah atau ujian pun sebenarnya terkandung rahmat di dalamnya. Dengan ujian, kita akan semakin introspeksi diri. Dengan musibah, kita akan semakin dekat dengan Allah. Tidak ada tempat berlindung dan meminta selain Allah Swt. Allahu ash-shamad.

Lembar-lembar peristiwa dalam buku ini diberi judul "Hujan Safir" yang bermakna "Hujan" adalah rahmat, sedangkan "Safir" adalah filosofi dari keindahan. Jadikanlah hidup ini berkepribadian penuh rahmat dan indah bagi sekitar. Dalam istilah agama, rahmatan lil 'alamin. Itulah pesan utama yang ingin disampaikan oleh Meyda. Semoga Allah merahmati kita semua. Aamiin ya rabbal alamin.

Bumi Siliwangi, 10 Juni 2015.

Sabtu, 06 Juni 2015

Menilik Sejarah Melalui Buku

Ir. Soekarno pernah berkata, "Jangan sekali-kali melupakan sejarah." Ucapan presiden pertama Republik Indonesia itu sangatlah berkesan dan menjadi prinsip utama bagi para sejarawan. Namun, pada kenyataannya, tidak semua orang senang mempelajari sejarah. Bahkan orang berkelit dengan pernyataan, "Masa lalu biarlah berlalu. Yang terpenting kita dapat menatap maju dan melangkah ke depan." Pernyataan ini tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak bisa dibilang benar.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, tentu perlu adanya suatu inovasi pembelajaran sejarah agar dapat menarik bagi pembaca. Salah satu metode yang digunakan yaitu melalu pengemasannya dalam bentuk buku dengan kategori fiksi. Fiksi sejarah, begitulah Habiburrahman El Shirazy menyebut buku terbarunya, Api Tauhid, dalam bedah buku yang diselenggarakan di Landmark, Braga, Bandung, Sabtu 6 Juni 2015.

Suasana bedah buku "Api Tauhid" bersama Habiburrahman El Shirazy di Landmark, Braga. (6/6)

Buku Api Tauhid memang salah satu terobosan baru bagi penulis yang dinobatkan sebagai novelis no.1 Indonesia ini. Setelah sebelum-sebelumnya membuat buku yang bertajuk Cinta, seperti "Ayat-Ayat Cinta", "Ketika Cinta Bertasbih", dan "Bumi Cinta", Pria yang dikenal dengan sebutan kang Abik ini sekarang mencoba membuat novel sejarah yang mengangkat peristiwa di balik tokoh berpengaruh dan penuh "keajaiban", Sang Mujaddid Badiuzzaman Said Nursi. Buku ini diramu dengan bahasa yang ringan dalam balutan cinta dan penuh perdamaian, bukan pertentangan dan permusuhan. Selain itu, dalam novel ini juga terdapat kisah cinta berbalut kesucian yang juga menjadi salah satu daya tariknya.

"Saya membuat buku ini dengan beberapa tujuan. Diantaranya agar masyarakat sadar akan sejarah. Dengan sadar sejarah, mudah-mudahan kita dapat mengambil hikmahnya dan kejadian di Turki dahulu tidak terulang kembali. Selain itu, saya juga ingin menyajikan kisah hidup Said Nursi yang sangat inspiratif. Tujuannya satu, Grand Desain dari buku ini, dan juga buku-buku saya sebelumnya, yaitu mengajak pembaca agar menjadi Khoiru Ummah: sebaik-baiknya umat rasulullah Saw.," ujar penulis best Seller "Cinta Suci Zahrana" itu.

Di akhir acara bedah buku, kang Abik sempat berpesan:

Semua orang bisa belajar, tapi tidak semuanya bisa paham.
Sebagian orang bisa paham, tapi tidak semuanya yang bisa menulis.
Maka menulislah! Jadilah seorang penulis untuk menginspirasi orang lain.
(Habiburrahman El Shirazy - Bandung, Juni 2015)

Setelah acara bedah buku tersebut, kang Abik membuka kesempatan bagi para penggemarnya untuk meet & great, signing book, serta berfoto bersama beliau di stand Republika. Dilanjutkan pada malam harinya pukul 19.30 - 20.30, beliau berbagi inspirasi melalui salah satu program di stasiun radio MQ FM: 102,7 FM. Semoga kita pun bisa mengambil hikmah dan pembelajaran dari kisah yang disampaikan kang Abik. Aamiin. (M. Ginanjar Eka Arli)

Habiburrahman El Shirazy (Kiri), M. Ginanjar Eka Arli (Kanan)

Kamis, 04 Juni 2015

Islamic Book Fair, 1-7 Juni 2015

Kamu suka membaca? Berarti kamu suka buku :)
Kamu suka buku? Berarti pasti seneng kalo denger kata "Bazaar", "Buku Murah", dan "Buku Gratis" :D

Kamu berdomisili di daerah Bandung atau sekitarnya? Cocok banget!
Yuuk ikut ke acara Islamic Book Fair 2015 yang bertempat di jalan Landmark Braga, Bandung :D

IBF Juni 2015
Acara yang digelar selama 7 hari ini diselenggarakan mulai tanggal 1-7 Juni 2015. Bekerjasama dengan puluhan penerbit yang ada di Indonesia, khususnya daerah Jawa, IKAPI Jabar menyiapkan ribuan buku murah yang dipotong harganya sampai 70%.. Kurang asik apa coba? :D

Selain itu, dalam acara ini pun dimeriahkan juga oleh puluhan acara menarik lainnya. Cuma karena tinggal 3 hari lagi, maka gue coba ulas sedikit yaa, khusus untuk pembaca spesial blog gue ;)

Islamic Book Fair - Bandung 2015
Pada hari Jumat-Minggu ini. ada 2 acara besar yang gue soroti yakni talkshow bersama Sri Izzati. Beliau seorang penulis cilik peraih rekor MURI penulis termuda lho :D

Psst, Al-Qolam juga tahun kemarin pernah ngundang Izzati lho di acara yang bertajuk BIJAK (Bingkai Ilmu dan Kajian Inspirasi Kepenulisan). Acaranya seru abiz n inspiring banget. So, buat kalian yang berpikir, "Masih muda memang bisa menjadi penulis?" Izzati adalah sosok nyata penulis termuda di Indonesia. Sok geura dateng. Insya Allah barokah :D

Pamflet acara bareng Izzati 2 tahun yang lalu. Ternyata fotonya masih sama ya? XD

Kemudian di hari Sabtu, ada rangkaian acara big eventnya IBF kali ini yaitu meet n greet bersama Habiburrahman el Shirazy sekaligus bedah buku "Api Tauhiid" :D

Semua orang pasti udah tau kang siapa itu Habiburrahman? Yupz, beliau adalah penulis novel best seller, "Ayat-Ayat Cinta", "Ketika Cinta Bertasbih", dan "Bumi Cinta." Pengen seperti beliau? Penasaran dengan kisah dibalik Api Tauhiid? Dan buku seperti apa sih Api Tauhiid itu? Kayaknya kalian harus ikut acara ini deh. Agendakan yuk? Pukul 13.30 bertempat di Landmark Braga, hari Sabtu tanggal 6 Juni 2015. Moal nyesel kalo udah dateng mah XD

Psst (lagi), Al-Qolam juga 2 tahun yang lalu pernah ngundang (juga) Habiburrahman ke UPI Bandung, lho :D

Gak percaya? Nih liat dokumentasinya :P

Foto bersama Al-Qolam dan Kang Abik, Oktober 2013. Coba tebak gue yang mana? :P

Al-Qolam lagi, Al-Qolam lagi. Emang Al-Qolam teh apaan sih??

Okeh buat yang penasaran, jadi Al-Qolam adalah salah satu UKM bidang keagamaan di Universitas Pendidikan Indonesia yang memiliki fokus pergerakan pada kepenulisan islami. Segala bentuk kepenulisan difasilitasi disini, selama bernafaskan Islam. So, buat kalian yang hobi menulis, membaca, dan bertekad untuk belajar menulis serta menjadi penulis? Kalian cocok banget deh masuk kesini. Insya Allah kalian akan digembleng sama berbagai kegiatan Al-Qolam dan dimotivasi oleh pengurus-pengurus Al-Qolam yang telah memiliki banyak pengalaman menulis serta menerbitkan buku di penerbit major :D

Jadi promosi kieu nyak? Hehe gak papa atuh. Mumpung lagi deket-deket pmb. :P

Info lebih lanjut hubungi dokter ya #Eh.
Enggak ketang, silahkan buka www.alqolamupi.com aja, insya Allah disana ada info-info terkininya juga ;)

Salah satu quotes dari founder Al-Qolam, kang Yansa el Qarni (2014) :D

Okeh, sekarang kembali ke topik kita di awal ya tentang IBF :D

Selain bazaar buku, acara IBF ini juga dimeriahkan oleh Pameran Pedang Nabi. Hanya dengan menggocek kantong sebesar 10rb-15rb, kita dapat melihat 35 koleksi benda bersejarah warisan Islam yang sarat akan edukasi. Pengen lihat pedang Rasul warisan dari ayahandanya (Al-Ma'thur)? Atau perang yang dipakai Rasul ketika perang (Al-Qadib)? Pedang milik Umar bin Khattab yakni Al-Qal'i? Semua itu akan kamu dapatkan di Islamic Book Fair 2015 :D

Pameran Pedang Nabi @IBF 2015

Okeh mungkin cukup sekian dulu info dari gue hari ini. Semoga bisa bermanfaat untuk teman-teman semua yaa :D

Salam hangat dari prajurit pena Bumi Siliwangi ;)

Al-Qolam? Goresan Inspirasi Penggugah Hati, AllahuAkbar!! :D
*Malah Jargon :P

Regards
@agi_eka

Kamis, 21 Mei 2015

Aliansi Mahasiswa UPI Care Galang Dana untuk Muslim Rohingya

Penggalangan Dana untuk Muslim Rohingya oleh Mahasiswa UPI Care (20-22/5)

Bandung, UPI.

Sebuah hadits mengatakan, “Muslim yang satu dengan yang lain ibarat satu tubuh.” Maka ketika ada saudara seiman yang mendapatkan kesulitan di luar sana, saat itulah muslim yang lain geram dan jengah melihat kondisi tersebut. Atas dasar itulah sekelompok mahasiswa UPI yang terdiri dari berbagai ormawa membentuk aliansi yang diberi nama Mahasiswa UPI Care untuk membantu muslim Rohingya dalam bentuk penggalangan dana dan bantuan berupa makanan, minuman, maupun pakaian pada tanggal 20-22 Mei 2015 bertempat di kampus UPI Bumi Siliwangi.

Ir. Soekarno pernah mengatakan, "JAS MERAH: Jangan sekali-kali Melupakan Sejarah." Maka sebelum kita memberikan bantuan kepada muslim Rohingya, kita harus mengetahui terlebih dahulu apa yang terjadi pada mereka sebenarnya. Hal ini sebetulnya telah dibahas oleh mahasiswa UPI Care dalam Kajian Kritis: "Menjawab Panggilan Muslim Rohingya" bersama Chandra Purna Irawan (Dosen, Penulis, CEO Syaria Law Institute) pada hari Selasa, 19 Mei 2015, bertempat di lantai 1 Gd. Geugeut Winda UPI, Bandung.

Kajian Kritis: "Menjawab Panggilan Muslim Rohingya" bersama Chandra Purna Irawan.

Dari pemaparan kang Chandra, kita mendapatkan informasi bahwa tahun 1942 lebih dari 100 ribu Muslim dibantai di Burma dan ratusan ribu mengungsi ke luar negeri. Kemudian pada tahun 1982 terjadi operasi penghapusan kebangsaan kaum Muslimin karena dinilai sebagai warga negara bukan asli burma. Padahal kaum Muslim Rohingya yang tinggal di Arakan adalah penduduk asli disana sejak Islam menyebar ke seluruh daerah burma pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid, tahun 877 M.

Setelah Khilafah tidak ada dan Inggris datang untuk menjajah pada tahun 1824, warga Rohingya mencari-cari tempat yang aman. Namun, hingga kini mereka masih belum mendapatkannya dan terlunta-lunta di laut lepas tanpa persediaan makanan yang memadai. Parahnya dunia internasional masih belum menanggapi permasalahan ini dengan serius. Negara di Asia Tenggara selama bertahun-tahun telah mengabaikan warga Rohingya yang berjumlah sekitar 1,3 juta jiwa. Bahkan ketika perahu-perahu yang ditumpangi oleh Muslim Rohingya itu mendarat di Malaysia dan Thailand, pemerintah setempat justru menolak.

Seperti yang dilansir oleh merdeka.com, Malaysia pada kamis (14/5) telah menghalau dua kapal yang mengangkut 800 warga Rohingya dan Thailand menghalau satu kapal yang berisi ratusan penumpang di perairan mereka. Demi mempertahankan hidup, diantara mereka ada yang meminum air kencing sendiri menurut Jonathan Head, wartawan BBC, seperti yang dilansir Independent, Kamis (14/5). Selain itu, setidaknya sepuluh penumpang meninggal akibat kelaparan dan kehausan dan mayat-mayatnya dibuang ke laut.

Pada jumat (15/5) lebih dari 700 warga Rohingya tiba di pelabuhan Langsa, Aceh. Awalnya Panglima TNI Jenderal Moeldoko menolak kedatangan warga Rohingya ke Indonesia. Mereka sempat menghalau beberapa kapal yang berisi ratusan warga Rohingya. Kemudian setelah melihat kapal mereka tenggelam di lepas pantai Propinsi Aceh, enam kapal nelayan menyelamatkan mereka.

Pemerintah Kota Langsa mengakui merasa kesulitan keuangan dalam menangani lebih dari 700 warga Rohingya yang terdampar di Kota Langsa. Usman Abdullah, Wali Kota Langsa, mengatakan kepada wartawan BBC, Sri Lestari, bahwa anggaran mereka sangat terbatas. Sementara, hari ini warga Rohingya yang terdampar di Kota Langsa hanya bisa bergantung kepada bantuan yang datang kepada mereka.

Merasa terpanggil oleh hal tersebut, maka UKM Kalam UPI berinisiatif membentuk aliansi mahasiswa UPI Care yang terdiri dari LDK UKDM UPI, Tutorial PAI-SPAI DPU UPI, UKM KI Al-Qolam UPI, UPTQ, BAQI, SCIEmics, KSR, UKSK, HIPMI, dan Himpunan Mahasiswa Jurusan Kimia, Fisika, Matematika, Teknik Mesin, PGSD Penjas, IKOR, Bahasa Indonesia, IPAI, MIK, BK, Pend. Akuntansi, Bahasa Jepang dan Ilmu Komputer. Mahasiswa UPI Care bertujuan menggalang dana dan bantuan untuk muslim Rohingya selama tiga hari dengan cara blusukan ke kelas-kelas, membuka stand di PKM dan fakultas, serta mengadakan pawai penggalangan dana yang insya Allah diadakan pada Jumat sore, 22 Mei 2015, bertempat di kampus UPI Bandung.

Bagi mahasiswa UPI, dosen, dan khalayak umum yang berkenan menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu saudara seiman kita di sana, bisa melalui no. rek. Bank Syariah Mandiri 7062494306 a.n Murni Maulina ataupun no. rek. BNI Syariah 0340321551 a.n Nola Dwi Naya Sari dengan konfirmasi: Nama_Alamat_Jumlah Donasi dan dikirim ke 089510099284 (Kalam). Informasi lebih lanjut mengenai penggalangan dana ini bisa melalui Alfan (089632760955) ataupun Tia (089680871898). [M. Ginanjar Eka Arli]