Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 April 2016

Gerlong Pagi Itu

"Kalau tidak cepat-cepat," ucapnya sembari memberi penegasan,"nanti keburu diambil orang, lho."

Wacana itu memang sering kudengar. Namun diberitahu oleh orang yang kuanggap guru kehidupan, rasanya sama sekali berbeda. Adalah Afri, guru sekaligus partnerku dalam menjalani lika-liku perkuliahan. Lima tahun kita saling mengenal dan pria asal Sumatera ini sukses membuat otakku berputar kembali pagi ini.

Geger kalong diliputi suasana haru. Hari ini adalah upacara wisuda bagi sebagian besar mahasiswa di kampusku. Di saat orang lain menikmati status wisudanya, aku justru diajak berwacana tentang status wisudaku -- sebagai mahasiswa dan sebagai jomblo.

"Kamu tahu, Gi? Aku sudah pernah dua kali merasakan hal yang serupa. Ditinggal pergi kekasih. Ya, orang yang kita rasa tepat dan cocok dengan kita, ternyata pada akhirnya bukan jodoh. Apalah daya, toh orang paling romantis dan paling cocok sedunia pun akan kalah dari orang yang berani dan menjemput kekasih hati ke rumah orang tuanya."

"Gara-gara itu," katanya sembari menghela napas,"Aku jadi sedikit memikirkan ulang tentang prinsip hidupku dulu."

Alisku turun sebelah. Afri yang dahulu kukenal sangat idealis. Ia tidak mau menikah karena ingin merantau terlebih dahulu, jelasnya kala itu. Rambutnya yang terurai panjang adalah buktinya -- alasannya untuk menikmati kebebasan selama belum terikat dengan siapapun. Namun kini, dua orang yang ia cintai telah lebih dahulu direnggut orang lain. Sesakit itukah rasanya kehilangan?

"Setidaknya, Gi," sambungnya kembali,"Kamu harus hati-hati karena dia seorang hafidzah."

Aku terkejut. "Memangnya kenapa Fri dengan hafidzah?"

Ia menimbang kata-katanya sejenak. "Mungkin saat ini dia masih sendiri, Gi. Namun kalau kamu kalah cepat dan ada orang lain yang datang duluan, bukan tidak mungkin dia akan memilih yang lain Gi. Percaya deh, pesona hafidzah itu istimewa, Gi."

Benar sekali, pikirku dalam hati. Justru itulah yang membuatku terpikat dengannya. Gadis yang kutemui di selasa masjid itu kini telah memasuki hari-hariku. Cepat atau lambat, dunia pasti mengerti bahwa ada "rasa" di antara kita. Hanya rasa malu yang membuat kita memendamnya. Hingga saat yang tepat itu telah tiba.

"Aku tidak bermaksud mengompori lho, Gi. Ini hanya saran saja, sebagai teman yang perduli. Apalagi kamu sudah punya pekerjaan sekarang. Gaji di atas UMR, mental -- setidaknya lebih baik dibanding teman kita yang lain, dan ilmu untuk menjalaninya? Sedikit banyak sepertinya kamu sudah bisa mengayomi dan menjadi pemimpin dalam keluarga."

Aku tersenyum mendengar kalimatnya tersebut. Di jalan, mahasiswa-mahasiswi sedang sibuk mencari sarapan. Para santri tahfidz qur'an ikut meramaikan jalanan tersebut dengan pesona-pesonanya. Di antara para santri, kulihat ia sedang tersenyum sembari berbincang dengan sahabatnya. Ia dengan pesonanya, kembali memikat hatiku.

Gerlong ... semakin indah karena kehadiran dirinya.

Bandung, 13 April 2016

Selasa, 19 Januari 2016

Cerita Tentang Tanggalnya Sebuah Gigi

Alkisah, hiduplah seorang pemuda yang memiliki dua buah gigi bertumpuk. Sebutlah ia gigi susu dan gigi taring. Setiap hari bagaikan seorang suami dengan dua istri, ia rajin merawat kedua gigi tersebut. Diberinya makan keduanya, dirawatlah mereka dengan penuh kasih sayang, dan setiap hari selalu ia sisihkan waktu spesial untuk keduanya. Hidup mereka berjalan dengan bahagia hingga suatu hari terjadilah kecelakaan pada sang pemuda.

Kecelakaan tersebut membuat tubuh sang pemuda terpelantin, bibirnya pecah, dan gusinya berdarah. Tak ayal ia segera dilarikan ke rumah sakit. Setelah diperiksa dengan seksama, luka paling parah adalah pada gigi gingsulnya. Malang tak dapat ditolak, kini ia harus memilih salah satu dari gigi tersebut untuk meninggalkannya selama-lamanya.

"Kau tak apa-apa, brother?" Tanya gigi susu khawatir.

"Tak apa-apa. Aku tidak banyak terluka, hanya nyeri sedikit di seluruh badanku. Kau sendiri bagaimana sista?"

"Aku ...," ucapannya terpotong dengan suara-suara berdesing dari luar mulut.

"Ada apa? Kau terluka!?" Seru gigi taring.

Gigi susu hanya bisa mengangguk lemah. Ia memperlihatkan tubuhnya yang sudah condong dan miring ke samping. Gigi taring hanya bisa melihat dengan prihatin, bingung apa yang bisa ia perbuat untuk meringankan beban sang gigi susu.

"Aku ... apa yang bisa kulakukan untukmu gigi susu!?" tanya gigi taring berharap.

"Sudahlah, tidak usah perdulikan aku. Setiap orang akan bertemu dengan ajalnya, termasuk untuk setiap gigi. Mungkin ini saatnya aku bertolak dari mulut ini dan pergi ke kubangan sampah disana, dilempar lewat ujung genteng sebagai peruntungan, atau mungkin disimpan di bawah bantal agar bisa digantikan dengan hadiah pada keesokan harinya," ucap gigi susu pasrah.

"Tapi ... tapi ..."

"Terima kasih telah menemani aku selama ini gigi taring. Enam tahun bersamamu adalah masa-masa terindah. Bersama-sama kita mengoyak makanan, buah-buahan, dan juga berselancar melewati jus-jus buah yang dimakan sang tuan. Aku bahagia, sungguh. Jangan pernah lupakan aku ya, brother."

"Gigi susu! Jangan kau ucapkan hal semacam itu! Aku ... aku takut kehilanganmu!" Gigi taring mulai menangis sesenggukan. Liur demi liur keluar dari celah gusinya.

"Ikhlaskan aku, gigi taring. Kelak, jika kita berjodoh, kita akan bertemu kembali di surga-Nya." lirih gigi susu sembari tersenyum.

Sejurus kemudian suara berdesing semakin keras di sekeliling mereka. Mulut berdarah itu mulai terbuka kembali. Cahaya dari luar terlihat sekejap, desing-desing itu datang kembali dan mendekat pada gigi susu.

"Tidaak ... tidak! jangan pergi gigi susu!!"

"Selamat tinggal, gigi taring ..."

Lalu desingan-desingan itu menanggalkan gigi susu dari pangkalnya. Gigi taring menangis sejadi-jadinya. Kini ia harus mengoyak makanan sendirian, tanpa kehadiran sang gigi susu kembali. Entahlah, apakah ia bisa melewati ini semua. Ia hanya bisa pasrah dan berdoa.

"Ya Tuhan, jika kau memang ada, pertemukan aku dengannya sekali lagi. Kumohon."

Lalu suara berdesing itu kembali datang menghampiri gigi taring. Melihat hal itu ia pun tersenyum.

"Terima kasih, Tuhan."

(Karawitan, 14 Januari 2016)

Rabu, 29 Juli 2015

Senandung Al-Qur'an di Bulan Ramadhan

Senandung Al-Qur'an di Bulan Ramadhan
Oleh : M. Ginanjar Eka Arli

             “Bro, gue pinjem novel dong....”

            Aku memalingkan wajah kepada Andre, teman sekelas yang sedang bertamu ke kosanku. “Novel apa, Bray? Cari aja tuh di pojokan situ...,” tunjukku ke salah satu sudut ruangan.

            “Novel terbaru J.K. Rowling, Bro...,” ucapnya sambil mencari sebuah buku di tempat yang aku tunjuk. “Oh, iya ini ada. Makasih, Bro. Hehe. Lo udah selesai bacanya?”

            “Sama-sama, Bray. Udah khatam kok buku yang itu mah. Silahkan kalau mau dipinjam.” Balasku.

            “Sip.. Hehe. Oh iya, kalau Al-Qur’an lo ada, Bro?”

            “Ha..?” Aku terlonjak mendengar kata-katanya.

            “Iyee, Al-Qur’an. Lo punya, Bro?” tanyanya kembali.

            Kutegakkan badan dan menatap tajam matanya. “Maksud gue, lo kenapa nanya itu?”

            Dia menatap balik mataku dan menarik napas sejenak sebelum menjawab pertanyaanku. “Besok nyokap gue mau inspeksi ke kosan, Bro. Setidaknya, gue bisa keliatan ngaji atau ngapain gitu selama dia disini. Gitu, Bro.”

            “Terus, lo kenapa gak beli aja, Bray?” tanyaku menyelidik.

            “Mahal, Bro.. gue sekarang lagi nabung buat beli game PC yang baru. Sayang duitnya.. Lo bisa kan bantu gue, Bro?” pintanya sedikit memelas.

            “Hmm,” aku berpikir sejenak. “Sebentar ya, gue coba cari dulu.”

            Aku mulai beranjak dari tempat tidurku dan menelusuri kamar yang seperti kapal pecah ini. Buku-buku yang telah selesai kubaca berserakan dimana-mana, mulai dari komik, novel, dan lain sebagainya. Setelah beberapa saat, akhirnya aku menemukan juga Al-Qur’an yang ingin dipinjam sahabat karibku. Ternyata benda tersebut ada di bawah kolong kasurku, kusam dan berdebu.

            “Gile lu, Bro. Udah berapa juta tahun cahaya nih Qur’an nginep disitu??” Tanyanya heran.

            “Hmm.. dari semenjak gue pindah kesini deh kayaknya.” Ucapku ragu-ragu.

            “Buset dah.. itu kan empat tahun yang lalu? Jadi.. selama empat tahun ini lo nggak pernah baca Qur’an??”

            “Kayak lo pernah baca aja, Bray.” Jawabku santai.

            “Yee, setidaknya gue terakhir baca Qur’an bulan kemarin pas om gue meninggal. Yasinan, bro. Hehe,” ujarnya sambil nyengir kuda.

            “Sama aja kalee.. Huu,” ejekku sambil mencubitnya.

            “Haha.. yaudah, gue pinjem dulu ya, Bro, Qur’annya.”

            “Eh.. eh, iya hati-hati ya. Jangan sampe rusak itu bukunya.”

            “Qur’an maksud kamu?”

            “Bukan, novelnya. Hehe.”

            “Iyee.. Iyee..,” jawabnya sambil lalu.

***

            “Dunia sekarang udah nggak bener ya, Bang,” komentarku tiba-tiba.

            Berita di layar kaca siang itu kembali menampilkan berbagai kriminalitas di negeri ini. Topik tentang korupsi, tawuran, dan lainnya seakan bosan untuk dikritisi. Para pembeli warung makan di ujung pasar ini asik dengan makanannya masing-masing. Seperti tidak perduli akan untaian kasus yang terus berganti di televisi.

            “Saya mah udah nggak heran, Mas..,” sahut pemilik warung makan tersebut.

            “Lho, kenapa gitu, Bang?” tanyaku heran.

            “Iya.. itu kan karena mereka yang gak ngerti bahwa hidup itu untuk apa..,” jawabnya. “Seperti kita ketika memakai handphone baru, kalo Mas gak ngerti cara pakainya rusaklah handphone itu.”

            Gerakan tangan pemilik warung tersebut semakin cekatan mengambil lauk-lauk yang aku pesan, sembari menjawab pertanyaan-pertanyaan yang juga aku sodorkan.

            “Orang sama handphone beda kali, Bang.. Gak bisa disamain.”

            Ia menatapku kembali sembari berkata, “Sama lah, Mas.. kita hidup sekarang karena dikasih nyawa dari Allah. Pasti untuk dimaksimalin fungsinya kan? Selama masih dikasih kesempatan tentunya.”

            “Hmm....” Aku mencoba mencerna jawaban dari pemilik warung makan tersebut. “Mungkin mereka gak ada yang ngebimbing kali, Bang.”

            “Kitanya yang nggak mau dibimbing, Mas.” Jawab pemilik warung nasi tersebut dengan tersenyum. “Allah itu baik, lho. Kita dikasih buku panduan untuk menjalani hidup. Tapi, kitanya juga yang nggak mau baca.”

            Aku terbengong kembali mendengar pernyataan darinya.

            “Al-Qur’an.” Jawabnya singkat sambil menyerahkan sebungkus nasi yang kupesan. Kuambil nasi tersebut, membayarnya, dan segera angkat kaki dari tempat tersebut sambil memikirkan perbincangan barusan. Tentang manusia, Allah, dan Al-Qur’an.

***

            Senandung Al-Qur’an mulai bergema di seluruh penjuru negeri. Ritual yang selalu dilakukan setiap tahun menjelang tibanya bulan suci Ramadhan. Perlahan tapi pasti masjid-masjid pun kian bertambah penghuninya, dari musafir hingga orang yang niat beri’tikaf di tempat tersebut.

            Entah kenapa buku-buku yang sedang kubaca kini terasa hambar, baik komik maupun novel. Untuk menghilangkan penat, aku berencana bertemu dengan Andre di suatu warung bakso dekat kampus. Pukul 13.00 selepas kuliah, ia berjanji menemuiku disana.

            “Woy, Nanda. Kenapa lo?” Tegurnya ketika melihat aku sedang termenung dengan semangkuk bakso di hadapanku.

            “Galau gue...,” jawabku singkat.

            Ia terkejut mendengar jawabanku. “Galau kenapa lo? Mikirin gue ya?” candanya.

            “Enak aja, lo. Ngapain juga gue mikirin lo...,” balasku. “Eh iya, ngomong-ngomong.. Itu.. Qur’an gue masih ada?”

            “Oh iya, gue lupa. Bentar, kebetulan gue bawa barangnya....”

            Ia pun mencari sesuatu di dalam tasnya dan beberapa saat kemudian mengeluarkan benda mungil bersampul hitam. Ya, benda itu adalah Al-Qur’an terjemahan yang kemarin gue pinjamkan ke dia.

“Makasih ya, Bro.”

            “Oke, no problem.” Jawabku. “Kalo gitu gue langsung cabut ya, mau namatin ini,” sambil menunjuk Al-Qur’an yang tadi ia berikan. Sedetik kemudian aku langsung berdiri dan meninggalkan Andre sendirian dengan mangkuk bakso di hadapannya. Wajahnya terheran-heran menyaksikan diriku yang perlahan pergi menjauh dari warung bakso tersebut dengan membawa Al-Qur’an di genggamanku. Sungguh pemandangan yang tidak biasa.

***

            “Ya Allah, tolong tunjukkanlah kenapa saya harus membaca buku ini.” Pintaku di tengah masjid dekat kosanku. Tengah hari itu masjid sedang sepi, hanya ada aku sendirian dan Al-Qur’anku yang berada di shaf terdepan. Dengan segenap keikhlaskan, kubuka sembarang halaman di kitab yang telah dikembalikan oleh Andre tersebut. Adapun ayat pertama yang kulihat memiliki arti sebagai berikut.

            Sungguh, Kami telah mendatangkan Kitab (Al-Qur’an) kepada mereka, yang Kami jelaskan atas dasar pengetahuan, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. Al-A’raf: 52)

            Kumaknai dalam-dalam maksud ayat tersebut, dan kucerna baik-baik setiap kata demi kata yang tertera disana. Ya Allah, inikah petunjuk dari-Mu? Maka dengan segenap keyakinan, ku-azzam-kan diri untuk men-khatam-kan Al-Qur’an selama bulan Ramadhan ini. Bismillah, La Haula wala quwwata illa billah.

***

            Hari demi hari silih berganti, selama itu pula kubuka lembaran demi lembaran kitab suci Al-Qur’an-ku. Ayat demi ayat kutelusuri dan kata demi kata kucerna dalam-dalam. Tak terasa, akhir ramadhan kian dekat. Setiap orang berlomba-lomba untuk men-khatam­-kan kitab tersebut sebanyak-banyaknya, menabung amal sembari berharap menjemput malam Lailatul Qadar. Begitupun diriku, kian bersemangat menyelesaikan membaca Al-Qur’an dengan berbagai orang yang senantiasa beribadah di sampingku. Dimanapun aku berada, dan kemanapun aku pergi, Al-Qur’an selalu berada di dalam genggamanku.

            “Bro, lo dimana?” tanyaku pada Andre suatu ketika.

             “Lagi di jalan nih. Kenapa, Bro?” jawab Andre melalui handphone-nya.

            “Ke kosan gue ya sekarang. Penting.”

            “Yaelah. Entar aja ya? Gue mau ketemu cewek gue dulu nih,” elaknya.

            “Udah kesini aja.. ntar gue traktir main game sepuas lo deh,” tawarku.

            “Hah? Serius lo?”

            “Iya, serius gue. Langsung kesini ya, gue tunggu.”

            “Oke, oke. Gue meluncur kesana.. tunggu sebentar ya.” Tutupnya di akhir pembicaraan.

            Setelah beberapa lama, akhirnya Andre pun sampai di kamar kosanku. Ia terkejut melihat ruanganku yang jauh berbeda dari terakhir kali kedatangannya. Kali ini kamarku sangat bersih dan rapih. Tidak ada lagi buku-buku yang berceceran di kasur dan berbagai poster yang aku tempel di dinding. Hanya ruangan putih dengan kasur di tengah-tengah kamar.

            “Lo kenapa bro? Bersih banget nih kamarnya..,” tanyanya heran.

            Aku tersenyum kepadanya dan berkata, “Kita ini goblok, Bro.”

            “Lho..? Goblok jangan ngajak-ngajak dong, Bro. Sendirian aja sono!” hardiknya tidak terima.

            Aku tersenyum kembali kepadanya, “Maksud gue, kita sudah diperbodoh oleh lingkungan. Selama dua puluh tahun gue hidup, baru kali ini gue ngerasa jadi orang paling bodoh.. paling goblok, Bro!”

            Ia masih menatapku heran. “Lo kenapa sih, Bro? Abis keracunan makan gorengan pake plastik ya semalem?”

            Aku tidak menjawab pertanyaannya dan mengambil Al-Qur’an yang ada di hadapanku. “Gue abis namatin ini semalem.. lo tau dalemnya apaan?” tanyaku.

            “Apaan sih? Bahasa arab lah..”

            Aku tersenyum. “Ya, betul. Tapi poinnya bukan itu.”

            Kutarik napas sejenak sebelum melanjutkan. “Gue baca buku ini, arti dari ayat ke ayat.. seru banget, Bro. Ngalahin semua komik dan novel yang pernah gue baca sebelumnya! Ada cerita nabi dan rasul, kisah orang-orang saleh, ilmu pengetahuan, antariksa, bahkan ilmu antar manusia dan ilmu ekonomi dagang juga ada, Bro! Keren kan? Pasti lo belum tau....”

            “Yang bener, Bro?” tanyanya sambil terangguk-angguk.

            “Kalau lo baca buku ini, lo gak perlu baca buku motivasi buat hidup lo sendiri. All in one! Semuanya udah termasuk di dalam sini.”

            “Ilmu tentang jodoh ada nggak?” tanyanya kembali dengan nada penasaran.         

            “Ada, Bro!” jawabku yang menyebabkan mukanya tambah terheran-heran. “Mulai sekarang, gue udah ketagihan baca buku ini, Men. Baca Qur’an! Kalo misalkan gue baca nih buku, rasanya semua energi negatif dalam diri gue hilang dan berubah menjadi positif!”

            “Beneran lo, Bro? Mau dong gue pinjem bukunya!” pintanya sambil mencoba meraih Al-Qur’an dari tanganku.

            “Eits, enak aja mau pinjem.. beli dong, Bro!” elakku.

            Ia terbengong seketika sembari menatapku. “Tapi, kan....”

            “Tapi apa?” sambarku seketika. “Kan tadi gue janjiin lo buat traktir maen game. Nah, duit lo nanti dipake buat beli Qur’an. Gitu maksud gue!”

            “Yaelah.. segitunya lo, Bro....”

            “Segitunya apa?” tantangku kepadanya. “Berdasarkan Qur’an, sebagai umat Islam itu kita bersaudara. Wajib mengingatkan dalam kebaikan, fastabiqul khairat! Berlomba-lomba dalam kebaikan. Gitu lho maksud gue!”

            Andre menutup mukanya dengan sebelah tangannya. Sembari tertawa, setitik air mata turun dari mata beningnya. “Hah, sial lo, Bro. Jadi terjebak dalam kebaikan gini gue....”

            “Hehe, jangan nangis, Bro. Hidayah itu bisa datang kapan saja dan dimana saja. Mumpung lagi bulan Ramadhan juga, sudah saatnya kita untuk terus menambah amal kebaikan dan timbangan untuk bekal di akhirat nanti.” Tutupku.

            Maka hari itu kami berdua berjanji untuk ber-fastabiqul khairat dan mendalami Al-Qur’an. Kami berencana mengikuti program penghapal Qur’an dan menjadi seorang penjaga (tahfidz) Qur’an. Bersama dengan senandung Al-Qur’an di bulan Ramadhan ini, nada dan irama dalam hidup kami pun telah berubah. Berubah menjadi lebih baik dalam mendekatkan diri pada Ilahi Rabbi. Insya Allah.[]

Bekasi, 15 Juli 2015

================================================================

Cerpen ini diadaptasi dari film pendek "Anti Qur'an" yang digawangi oleh WANT Production. Cerpen ini juga pernah diikutsertakan juga dalam lomba di blog kalam.upi.edu. Semoga cerpen ini bermanfaat bagi pembaca maupun penulisnya, aamiin :)

@agi_eka 

Rabu, 03 Juni 2015

Lomba Blog Tour : Senja yang Mendadak Bisu

Siapa sih yang gak suka gratisan? Naek angkot bayar, beli gorengan bayar, bahkan masuk ke toilet aja sekarang kita harus bayar, meskipun kita gak ngapa-ngapain di dalem sana.. >.<

Sehubungan dengan hal tersebut, info kedua yang ingin gue share malem ini yaitu tentang Lomba Blog Tour : Senja yang Mendadak Bisu. :)

Blog Tour Cerpen: Senja yang Mendadak Bisu.

Jadi lomba ini merupakan sebuah blog tour yang mengulas kumpulan cerpen "Senja yang Mendadak Bisu." Kumcer ini merupakan karya terbaik dari #KF Emas yang direview oleh empat orang yang berbeda. Terlihat di pamflet, ada empat blog berbeda yang mengadakan blog tour selama 4 minggu. Daan, minggu ini adalah minggu terakhir lho untuk mengikuti event ini! #Omaigat

Pada tanggal 1-7 Juni 2015 ini, event lomba blog tour ini bisa dilihat di salah satu blogger negeri kita yaitu: https://rezanufa.wordpress.com/2015/06/01/1520. Segala tata cara dan aturan mainnya sebenarnya sudah di posting disana, tapi sedikit bocorannya boleh dilihat juga di bawah sini dhe :D

Inilah cara ikutan giveaway-nya! Hadiahnya adalah satu buku kumcer Senja yang Mendadak bisu dan totebag Kampus Fiksi.
  1. Follow @divapress01 atau like fanspage Penerbit DIVA Press. Follow @rezanufa juga kalau mau memperbanyak pahala sedekah.
  2. Bagikan tautan giveaway ini melalui Twitter, Facebook, Instagram, atau akun medsosmu yang lain.
  3. Jawab pertanyaan ini di kolom komentar dengan menyertakan nama dan akun Twittermu: Andai nanti ada antologi cerpen #KampusFiksi yang ketiga, cerita bertema apa yang ingin kamu baca? Eh, tapi jangan ngikutin tema saya yang di atas ya!
  4. Giveaway ini  berakhir pada tanggal 7 Juni 2015.
  5. Pengumumannya pada tanggal 8 Juni 2015.
So, tunggu apalagi? Yuk gabung dan dapatkan hadiah yang menarik dengan modal sedikit menulis aja :D

Kata siapa menulis itu susah? Kata siapa penulis itu kere?
Menulis itu sangat mudah dilakukan dan penulis itu merupakan salah satu profesi yang terkaya lho.. ;)

Gak percaya? Buktiin aja sendiri! :D

/GG TQ KK, @agi_eka

Minggu, 29 Maret 2015

ECA Lovers

ECA Lovers
By : M. Ginanjar Eka Arli

Tak, tik, tuk. Jari jemariku mulai menari lincah di atas tuts keyboard laptop. Otakku mulai berpikir kembali. Buntu. Kugarukkan kepala yang tidak gatal. Aahh! Deadline tinggal satu jam lagi!! Tapi, aku harus ikut event ini. Harus. Karena, event ini berarti untukku.. dan juga untuknya.

***

"Kang Agi, ikut kan?" Tanyanya.

Ku tengok gadis berkerudung di sebelahku. Anjani, itulah namanya. Salah satu gadis cantik dan pemberani yang pernah ku kenal. Semangatnya sungguh tak pernah padam. Membuatku iri dan selalu ingin diberikan semangat itu. Lagi.. dan Lagi.

"Maksud kamu, ikut apa, An?" Balik kubertanya kepadanya.

"Yee.. Itu lho kang. Event menulis di grup ECA. Kan kang Agi suka nulis. Sekali-sekali tulisin-lah cerita kang Agi buat aku." Pintanya manja.

"Hmm, tumben kamu minta begitu sama aku, An. Pasti kamu ada maunya yaa?" Godaku kembali.

"Iihh, apaan sih kang Agi, mah." Dicubitnya lengan kananku. Cemberut. Lucu sekali wajahnya ketika sedang ngambek begini.

"Hehe.. Aku mah masih banyak belajar untuk nulis, An. Memang, kali ini lombanya tentang apa ya?" Tanyaku penasaran.

"Ehm..," Ucapnya pelan sambil terlihat malu-malu. "Temanya itu tentang.. cinta, kang."

"Eh, cinta, An?" Tanyaku memastikan.

"Iya, kang. Hehe. Kang Agi pasti bisa. Kan kang Agi juga udah banyak pengalaman tentang cinta. Kata PJ Event-nya cinta ini nggak mesti tentang cinta kepada pasangan kita, tapi juga bisa kepada orang tua, saudara, ataupun.. sahabat dekat." Ujarnya sambil melirikku.

"Hmm gitu ya. Sepertinya menarik sih. Nanti aku coba dulu ya, An. Doakan saja, mudah-mudahan aku bisa mengikutinya." Jawabku sambil tersenyum.

"Waah, bener ya kang Agi. Janji nih? Janji jari kelingking?" Tanyanya sambil menyodorkan tangan.

"Iya, janji jari kelingking." Kataku sambil mengaitkan jari kelingkingku kepadanya. Erat dan hangat. Sore itu, kolam cinta menjadi saksi dari janji kami berdua. Ya, janjiku untuk menuliskan kisah kita berdua untuknya.

***

Kata orang, karya terbaik adalah karya yang terbuat dari hati. Namun, di saat kepepet begini, apakah "The Power of Kepepet" berlaku juga untuk memancing kembali inspirasi-inspirasi yang terdapat dalam hatiku tersebut? "Grrr..," ujarku geram. Jarum jam seakan tidak mau mengasihaniku. Padahal hanya satu kenangan yang ingin aku tuliskan. Ya, hanya satu. Kenangan itu. Kenangan yang tidak akan kulupakan sampai kapanpun.

***

"Kamu kenapa, An?" Tanyaku kepadanya.

Wajahnya pucat pasi. Bibirnya bergetar. Napasnya tak beraturan. Satu hal yang pasti, dia sakit. Namun setiap kutanya hal itu kepadanya, dia hanya menggelengkan kepalanya. "Anjani nggak apa-apa kok, kang. Akang lanjutin aja dulu karyanya. Aku mohon. Demi Anjani juga, kang." Pintanya memelas.

Hatiku gelisah. Di saat begini ia masih saja memintaku menulis? "Ya Allah, jangan biarkan bidadari hatiku terluka lebih dari ini. Cukuplah hatiku tersayat oleh keadaannya sekarang. Kumohon, berikanlah kesembuhan baginya." Doaku dalam hati.

Tanganku masih menggenggam lembut jemarinya. Sungguh, aku tak ingin ia kemana-mana. Para perawat dalam ruangan putih ini masih saja berlalu lalang. Menangani pasien yang tak henti berdatangan. Ya, aku dapat memahami perasaan mereka yang mungkin letih akan pekerjaannya. Namun, aku rasa Anjani juga butuh perawatan lebih! Kemana dokter-dokter berada pada saat seperti ini? "Aarrgh, kehidupan ini memang selalu tidak adil," ujarku kesal.

"Kang, makasih ya." Katanya tiba-tiba.

Aku menoleh kepada Anjani. Gadis berkerudung itu tersenyum kepadaku. Sebuah senyum simpul yang manis. Senyum yang pernah membuat lidahku kaku dan tak mampu berkata-kata kembali dihadapannya.

"Terima kasih untuk apa, An?" Tanyaku balik.

Ia hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum kembali kepadaku. "Nggak apa-apa, kang. Anjanji hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada akang. Itu saja. Mumpung Anjani masih ada waktu dan kesempatan." Jawabnya kembali.

"An, kamu jangan ngomong gitu, An." Aku mulai khawatir pada keadaan dirinya. Tiba-tiba tubuhnya bergetar kembali. Aku panik. Cairan merah tiba-tiba saja keluar dari dua buah lubang hidungnya. Tak ayal, akupun segera berteriak, "Dokteerr!!"

***

Tak, tik.. tuk. Tutsku berhenti di kalimat terakhir yang kuakhiri dengan tanda titik. Tanpa sadar, hujan telah turun tak hanya dihatiku, namun juga mengalir hangat di belahan pipiku. Basah. Memang, terkadang kenangan itu menyakitkan untuk kita kenang. Terkadang tidak semua kenangan yang ingin kita ungkapkan. Namun, kenangan ini menurutku harus disampaikan. Agar semua orang tahu. Agar semua orang dapat menjadi saksi akan perjalanan kita berdua.

Cinta, satu kata berjuta makna. Tidak pandang bulu kepada siapa ia akan berlabuh. Tidak pandang situasi apalagi kondisi untuk menarik hati. Berjuta rasa ia hadirkan untuk membuat kita tersenyum, tertawa, dan juga tersakiti. Tidak semua cinta mesti memiliki. Namun cinta yang berharga adalah yang selalu kita kenang sampai kapanpun.

Karena itulah, karya ini kupersembahkan untuk wanita yang aku kasihi. Wanita yang mempertemukan aku dengan grup kepenulisan ECA, yang telah menjadikanku salah satu bagian dari ECA Lovers, dan juga menguatkanku selalu untuk menulis dan berkarya setiap waktu. Gadis cantik nan elok rupawan, tempat aku membagi kisahku bersamanya. Kali ini, kisah ini kutorehkan khusus kepadanya. Untuk kalian para pujangga cinta, sebagai saksi dari kisah kami berdua. Juga untuk ECA, sebagai wadah pelampiasanku untuk mengukir cerita ini menjadi kisah yang abadi sepanjang masa. Terima kasih ECA. Dan selamat jalan kekasihku, Anjani.

Bumi Siliwangi, 29 Maret 2015