Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Januari 2019

J.A.P.



"Ka ...," panggilku padanya.

Gadis berkerudung ungu di sampingku menoleh. Keningnya mengerut, seakan menyadari suaraku yang barusan tercekat. "Iya, Kak?"

Aku menelan ludah. Lidahku kelu, badanku gemetar. Tubuhku terasa dingin. Aneh sekali. Aku yang terbiasa berdiri dan berbicara di depan publik, tiba-tiba saja tak mampu berbicara di hadapannya. Ada apa ini?

"Eng ..., enggak apa-apa. Hati-hati di jalan, ya." Akhirnya, hanya kata itu yang terlontar dari mulutku.

Wajahnya terlihat bingung sejenak, tetapi langsung berubah menjadi tersenyum seperti yang biasa ia ukir. Senyum yang mengalihkan duniaku.

"Baiklah, aku duluan ya, Kak!"

Ekor mataku melihat kepergiannya yang perlahan menjauh. Menghilang dari hadapanku, tetapi tidak beranjak dari hatiku.

***

Udara malam berembus, menusuk sukma, menembus pori-porik kulitku yang perlahan terbuka setelah berolahraga. Ini memang kebiasaan burukku yang konon tidak baik menurut teman-teman olahragawan. Setiap ada pikiran yang mengusik otakku, langkah kaki ini pasti tak kuasa untuk berlari dari Gasibu sampai Alun-Alun Kota Bandung--seakan ingin lari menjauh dan meninggalkan realita yang sedang kuhadapi saat ini.

Pandanganku mengedar. Seperti biasa, tempat ini dipenuhi kumpulan orang tua yang mengajak anak-anaknya bercanda tawa. Entah mengapa, hal itu membuatku iri dengan mereka. Anak-anak itu memang seperti hidup tanpa beban, tak pernah memikirkan besok akan makan apa, ke mana harus bekerja, hingga hal-hal muskil seperti ... cinta.

Banyak orang berkutat dengan definisi dari cinta. Sebagian bersikukuh bahwa cinta adalah pengorbanan, penantian, memberi tanpa harus diberi, dan menerima kelebihan serta kekurangan yang dimiliki pada pasangan kita. Cinta adalah kata kerja, katanya, di mana ia akan terus melakukan sampai saatnya melupakan dan terlupakan.

Lantas, pertanyaannya kemudian adalah: kepada siapa kita harus melabuhkan cinta?

Bertahun-tahun pertanyaan ini bersarang dalam benakku. Sejak awal memiliki ketertarikan tentang cinta, aku memegang teguh komitmen untuk menjatuhkan pilihan hanya pada satu wanita saja. Seseorang yang tepat dan kuharap bisa menjadi orang pertama sekaligus terakhir dalam hidupku.

Namun, jatuh memang selalu menyakitkan.

Jatuh cinta pertamaku berujung sakit yang memilukan. Entah karena tingginya harapan harapan, atau pahitnya dikhianatkan. Dalam bilangan bulan, hubungan kami kandas tanpa sempat mendekati pelaminan.

Sejak itu, aku jadi tidak percaya dengan cinta. Berat rasanya mengungkapkan perasaan kepada seseorang bila hanya berujung penolakan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hatiku beku, sedingin gunung es di kutub utara. Kututup diriku sebagaimana pemerintahan di Korea Utara.

Sampai suatu hari, ia datang dan masuk ke dalam kehidupanku.

Pertemuan pertama itu hanya berlangsung sebentar, tidak disengaja sama sekali, tetapi begitu berkesan bagi hidupku--dan semoga "kami". Aku percaya, kita akan selalu dipertemukan dengan seseorang yang bisa satu frekuensi dalam hidup ini. Orang yang dapat mengerti diri ini hanya lewat tatap, tanpa perlu sedikit pun bibir berucap.

 Dan itulah yang kutemukan dalam dirinya. Obrolan kami mengalir sederas air terjun niagara, tak terhenti sampai sesi diskusi dalam seminar yang kami ikuti diakhiri. Saat itulah, ketika kami hendak berpisah, kuberanikan diri untuk bertanya dan meminta nomornya.

Bisa jadi, itulah satu-satunya momen yang tak pernah kusesali dalam hidup ini.

Berkat secuil keberanian itu, aku bisa mulai mencari tahu tentang dirinya. Latar belakang pendidikan, pengalaman, sahabat, hingga keluarga besarnya.

Mungkin kita membutuhkan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang, tetapi sesungguhnya kita hanya butuh waktu satu detik untuk jatuh cinta padanya.

Dan ketika rasa itu datang, pertanyaan baru pun menjelang. "Apa yang harus kita lakukan?"

Sebagai perempuan, mungkin yang kau lakukan hanya bisa menunggu. Namun, sebagai lelaki, aku tahu bahwa hanya menanti waktu untukku maju memperjuangkanmu.

Dan ketika saat itu datang, satu permintaan yang pasti kuajukan. "Jadikanlah aku pacar (halal)-mu, bersetia di jalan itu, meniti rumah tangga bersama sehidup sesurga."

Jadi, bagaimana jawabanmu?

Sukabumi, 26 Januari 2019
@agi_eka

#KataHatiMenulis #KataHatiChallenge #KataHatiProduction

Sumber gambar: www.lagu.yt

Senin, 21 Januari 2019

Kapan?


"Kapan?"

Adalah salah satu pertanyaan yang tidak pernah berujung.

Di suatu meja makan, pada saat kami tengah bercengkerama, bersua dan melepas rindu bersama saudara, pertanyaan itu muncul kembali.

"Jadi, kapan, Gi?"

Keringat deras kembali mengucur di sekujur tubuhku. Aku tahu pertanyaan ini akan keluar, tetapi tetap saja rasanya kaget dan tak siap tatkala mendengarnya secara langsung.

Kuperhatikan lelaki berkumis yang rambutnya mulai memutih itu. Kutebak, puluhan tahun ia mengarungi kehidupan rumah tangga pasti sangat memengaruhi penilaian dia.

Aku tahu ia sangat tegas dan keras, bahkan ke anak sendiri. Kudengar dari salah seorang anaknya bahwa ia pernah melakukan hal ini dan hal itu atas kesalahan yang tidak bisa ia tolerir.

Kuteguk dulu segelas air yang ada di meja tersebut. Perlahan, cairan itu membasahi tenggorokanku dan membanjiriku dengan kenangan. Tujuh tahun berkuliah dan membuat semua orang menanti tentu bukanlah waktu yang sebentar. Termasuk, oleh si dia.

Bukan tanpa alasan juga aku menunda wisuda. Entah karena penolakanku terhadap tuntutan orang tua, atau mungkin juga alam bawah sadarku yang sedang menikmati masa-masa bebas yang tak pernah kurasakan sebelumnya.

Berawal dari undangan untuk berbagi seputar kepenulisan di Garut pada awal tahun 2018 ini, lalu berkeliling Jawa Barat dalam rangka kunjungan cabang pada organisasi yang aku ikuti saat ini, hingga sekarang bisa duduk di tengah riuh keluarga jauh dari pihak Mama yang berada di Palembang.

Tak pernah kusangka, tahun ini kakiku jauh melangkah ke mana-mana, sekaligus semakin meninggalkan jejak karirku di kampus. Padahal, tinggal merampungkan hasil-hasil penelitian yang telah kulakukan di tahun lalu, kemudian semuanya akan beres.

Tali tiga akan berpindah dari kiri ke kanan, atau malah sebaliknya? Entahlah. Aku bahkan belum sampai memikirkan hal remeh temeh yang katanya menjadi apresiasi empat tahun--atau lebih--kita berkuliah ini. Satu-satunya yang kupikirkan sekarang adalah bagaimana menjawab pertanyaan tadi?

Kuatur kalimat sebaik mungkin. Bismillah saja lah, apa pun hasilnya toh semua pertanyaan pasti memiliki jawaban. Meskipun itu hanya sekadar berkata "tidak tahu".

"Doakan ya, Ayah," sahutku dengan suara gemetar, "Insya Allah setelah lebaran ini akan Agi lanjutkan kembali."

Selang beberapa detik, kata-katanya kembali menggelegar di seluruh ruangan. "Kenapa bisa? Tahu begini--"

Entah kalimat apa lagi yang keluar dari beliau, aku tak peduli. Aku tahu, inti utamanya adalah menasihatiku. Padahal, sejujurnya aku sudah muak dengan nasihat. Seperti apa yang disampaikan sampai berbusa oleh Papaku.

Di penghujung semester, masa-masa terakhir kita berkuliah ini, semua mahasiswa pasti tahu batas akhir masa hidupnya di kampus ini. Namun, kadang kala justru mereka bingung harus dari mana mereka memulai? Karya seperti apa yang harus mereka buat?

Mahasiswa itu lebih butuh bimbingan ketimbang nasihat. Kita lebih butuh rangkulan ketimbang makian dan cacian. Namun, para orang tua memang hanya bisa berucap tanpa bisa menjadi tauladan. Barang kali itu juga yang membuat beberapa anak lebih betah di luar ketimbang pulang ke tempat yang tidak bisa ia sebut "rumah" lagi.

Puas memberikan petuahnya, lelaki yang kusebut Ayah--kakak ipar dari Mamaku--kemudian menutup dengan ultimatum. "Kalau semester ini kamu belum lulus juga, jangan injakkan kaki lagi di Palembang. Dan jangan pernah tunjukkan wajah kamu lagi di hadapan Ayah!"

Sekakmat. Tidak ada yang paling kutakutkan selain dibenci oleh seseorang. Tanpa dibilang begitu, sebetulnya aku pun ingin segera menyelesaikan perkuliahan yang mulai menjengkelkan ini. Entah mengapa, kampus yang sekarang tidak sama lagi dengan masa-masa dulu. Apakah karena teman-temanku sudah perlahan menghilang di telan dunianya masing-masing? Aku tak tahu.

Yang jelas, lulus tepat waktu, menjadi PNS, dan menikah, adalah yang selalu diharapkan oleh orang tua. Mungkin saja, ketika hati kecilku memberontak, aku memilih untuk telat (banget) menyelesaikan perkuliahan ini, berniat tidak mengambil selembar kertas yang disebut "ijazah" agar tidak bisa mendaftar PNS, tapi tetap saja tidak akan menolak untuk pilihan ketiga.

Semua orang yang waras pasti ingin menikah. Apalagi, ketika sudah ada seseorang yang menanti nun jauh di sana.

Kamu.
Iya, kamu.

Masih sanggupkah bertahan sebentar lagi?
Sembari menutup telinga atas pertanyaan "Kapan" lainnya yang juga tengah menghujanimu dari waktu ke waktu?

Percayalah, orang lebih membutuhkan pembuktian daripada janji dan perkataan. Oleh karenanya, itulah yang juga saat ini sedang kuperjuangkan.

Bandung, 22 Januari 2019
@agi_eka


#KataHatiChallenge #KataHatiProduction #KataHatiMenulis

Minggu, 18 Oktober 2015

Mimpi

#Day 26

Sebagian orang menyebutnya dengan sebutan bunga tidur. Ya, dia hanyalah pelengkap tidur kita sehingga menjadi nyenyak dan menyenangkan. Sebagian lagi menyebutnya sebagai angan-angan. Sementara yang lain hanya menobatkannya sebagai harapan. Dialah sang mimpi.

Bagiku engkau adalah sang mimpi itu. Engkaulah sumber inspirasiku. Karena engkau juga, aku bisa menjadi seperti saat ini. Dan sebab engkaulah, aku jadi hilang arah dan pincang ketika berjalan. Rasanya bagaikan kehilangan salah satu penopang ragaku: engkau.

Beberapa hari lalu aku sempat memimpikanmu. Entahlah, mungkin saja karena siangnya kami baru saja membicarakanmu. Meskipun secara tidak langsung, hal itu menguak tabir pertahananku kembali. Diriku yang mulai mencoba berdiam diri terlebih dahulu, akhirnya malah jatuh tak terkendali di lubang yang sama. Ya, memikirkanmu.

Dalam tidur, aku menemuimu. Mungkin itu salah satu cara agar aku dapat melihat senyum di wajahmu. Tatapan hangat dan lembut sikapmu tidak berubah, masih sama seperti pertama aku mengenalmu. Di ruang itu kita bertemu, terpisah jarak beberapa depa. Kita malu-malu, persis seperti anak kecil yang akan menyalami tamu saat diminta orang tua.

Entah mengapa suasana yang kita temui begitu kaku. Lidahku kelu, seakan tidak mampu berbicara dihadapanmu. Aku, dan juga kamu, yang biasanya dapat mencairkan suasana diantara kita berdua, entah mengapa malam itu terlihat begitu rapuh. Bagaikan terbentang tembok cina di hadapan kita berdua. Tinggi, kokoh, dan besar. Membuat kita enggan dan ragu untuk berkata.

"Kesibukanmu apa sekarang?" Selepas pertanyaan itu dilontarkan, tiba-tiba saja engkau beranjak dan mengajakku untuk pergi ke suatu tempat. Dengan muka bingung aku pun mengikuti di belakangmu. Saat aku sadar, kita sudah berada di suatu aula masjid tempat kita bisa bernaung. Namun bedanya, di dalam masjid itu justru menyambung ke kafe tempat lembaga aku bekerja sekarang.

Beberapa meja terhampar di hadapan kita. Engkau masuk ke sela-sela meja dan aku pun, lagi-lagi, mengikutimu. Sampai di suatu meja engkau tiba-tiba duduk dan asyik berbicara dengan sahabatmu - yang entah siapa. Dengan canggung, aku tak enak hati jika mengganggu dirimu yang sedang berbicara dengan sahabatmu itu. Akhirnya kuputuskan untuk duduk di meja belakangmu. Namun apa daya, kejutan lain sudah menantiku disana.

Di meja belakang, ada manajer cabang tempat aku bekerja sekarang. Sementara di seberangnya terdapat meja yang diduduki presiden kita dan menterinya. Apa yang dilakukan presiden dan pak menteri di tempat begini? pikirku bingung. Akhirnya kuputuskan untuk ikut duduk bersama ibu manajer saja untuk sementara. Belum berhenti sampai disana, kejutan satu lagi datang: Bos besarku ikut duduk bersama kita!

Ya, pak bos yang ikut duduk bersama penasihatnya langsung menutup celah diantara dua kursi dan membentuk lingkaran seketika. Seperti mau halaqah - namun di atas kursi - antara aku, ibu manajer, pak bos dan rekannya, serta pak presiden dan menterinya. Dan sebelum ada satu orang pun yang berbicara, aku langsung dibangunkan oleh kicau burung dan senandung adzan dari kejauhan.

Ah~, entah apa arti dari mimpi tersebut. Ibuku bilang mungkin ada arti dari pertemuan terakhir itu. Namun yang lebih membuatku penasaran sebenarnya adalah dirimu. Kenapa engkau ada disana? kenapa engkau membawaku ke tempat itu? Dan mengapa engkau justru meninggalkanku dan bergabung dengan temanmu tanpa berkata sepatah kata apapun?

Positif thinking-ku, mungkin saja itulah caramu mendukungku. Aku tidak bisa menafsirkan mimpi, namun yang jelas aku cukup senang. Setidaknya setelah tiga minggu berselang, tiba-tiba engkau datang kepadaku dengan perantara mimpi. Apakah ini suatu pertanda? Mungkin saja. Mari kita lihat bagaimana skenario yang dirancang sang khalik. Semoga kita mendapatkan jawaban yang terbaik dari masing-masing rangkaian mimpi yang kita alami. []

Sabtu, 26 September 2015

Surat Cinta Untukmu

#Day 4

Mungkin aku benar-benar terinspirasi dari salah satu blogger dengan kisah cintanya yang memikat para pembacanya. Disana ia bercerita tentang perjuangannya menjemput seorang gadis pujaan dan menorehkan tinta perjuangan di diary onlinenya.

Maka disinilah aku sekarang. Tidak bermaksud untuk menirunya, namun hanya berharap surat cinta ini satu demi satu bisa tersampaikan kepadamu suatu hari nanti. Aku tidak tahu apakah surat cinta ini akan sampai ataukah tidak. Apakah kau tahu ataupun tidak. Apakah kau akan perduli maupun tidak. Yang kutahu, aku menuliskan ini untukmu tanpa perduli apa sikapmu padaku.

Duta pernah berkata dalam tembangnya, "Selamanya hanya kubisa memujamu. Selamanya hanya kubisa merindukanmu." Tapi aku tidak percaya sepenuhnya pada statement itu. Aku memang pemuja rahasiamu untuk saat ini, yang mengagumimu secara diam-diam, dan berharap kau akan mau denganku suatu hari nanti. Namun aku pun telah memutuskan untuk memperjuangkanmu dan hal itulah yang akan terus aku pertahankan.

Sebelum janur kuning melengkung, maka tekadku pun akan terus membulat. "Bukan cinta yang memilihmu tapi Allah yang memilihmu untuk kucintai." Semoga petikan lirik dari kang Abay ini memang benar untukmu. Dan surat cinta ini akan terus kutulis sampai hari dimana aku tidak bisa menyebut namamu lagi. Dalam surat, buku harian, dan percakapan sehari-hari. Hari dimana aku tidak bisa mengetik namamu lagi dan membuat satupun surat cinta untukmu.

Pasha pun turut berdendang, "Ku ingin kau tahu diriku disini menanti dirimu. Meski kutunggu hingga ujung waktuku. Dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya." Sampai disini aku mulai merasa menjadi lelaki melankolis. -_-

Sebelum menjadi semakin galau karena malam, lebih baik kulunaskan dulu hutangku sampai disini. Kisah apalagi yang akan kutulis besok? Semoga bisa menjadi sepucuk surat cinta lagi. Untukmu.

Rezeki

#Day 3

Aku selalu berpikir, apa yang akan aku berikan ketika nanti telah bersama dengan dirimu? Ketika kita nanti akan bersama artinya akan ada sebuah tanggung jawab baru bagi diriku. Bukan saatnya lagi untuk berpikir bagaimana mengisi perutku, tapi juga soal perutmu. Aku bisa saja tidak makan, tapi dirimu? Aku tidak mungkin membiarkanmu kelaparan dan membuat calon buah hati kita nelangsa.

Modal utama dalam menjemputmu bukanlah cinta semata, tapi juga keberanian dan harapan. Cinta saja tidaklah cukup karena aku tidak akan bisa mengenyangkan perutmu hanya dengan cinta. Namun keberanian dan harapan adalah kombinasi sempurna yang dapat meyakinkan kedua orang tuamu untuk mempercayakan anaknya kepadaku.

Keberanian melambangkan optimisme. Dengan sikap berani akan mencerminkan ketegasan dan rasa tanggung jawab dari diriku. Harapan timbul berdasarkan visi. Jika aku adalah orang yang penuh perencanaan, maka harapan hidupku akan semakin besar. Lalu kamu, serta orang tuamu, akan yakin kepadaku dan mereka berhak mempercayakan putrinya untuk hidup bersamaku.

Satu lagi kejadian hari ini adalah saat dimana aku percaya bahwa rezeki memang sudah diatur. Tidak ada angin, hujan, maupun badai, malam ini aku diajak untuk menikmati sajian khas kota maranggi ini di tempat asli pembuatannya. Makanan yang katanya benar-benar "Ori" dan mungkin hanya dalam mimpi aku bisa mencicipinya. Ya, suatu saat nanti kau pun harus mencicipinya. Aku janji suatu hari nanti akan mengajakmu kesana jika kita memang ditakdirkan untuk bersama.

Rezeki, sekali lagi memang rahasia ilahi. Ketika dua insan bersatu, katanya adalah menggabungkan rezeki dari dua orang yang berbeda. Maka muncullah para motivator dengan semangat #NikahMuda untuk mengompori anak-anak yang masih takut akan rezeki dan penghasilan. Sekali lagi, bukan masalah bisa atau tidak bisa, tapi mau atau tidak mau. Karena yang menjadi permasalahan adalah tidak adanya keberanian dan harapan, kombinasi sempurna yang dapat meyakinkan kedua orang tua untuk melepaskan anaknya bersama kita.

Maka disinilah aku sekarang, sedang menanam asa dengan pupuk keberanian dan harapan. Jika asa tadi telah tumbuh dan berkembang, di saat itulah aku akan datang dan menawarkannya kepadamu dan keluargamu. Tunggu aku disana, semoga engkau pun dapat bersabar menungguku. Dan di saat engkau lelah untuk menunggu, mudah-mudahan rindu kita akan bertemu di langit harapan. Semoga.

Ekspektasi

#Day 2

Kau tahu? Terkadang apa yang kita pikirkan lebih menakutkan daripada apa yang kita temukan. Kemarin saat aku membayangkan akan menghadapi dua ribu orang, empat ribu pasang mata, dan dikelilingi oleh ribuan siswa, nyatanya sepersepuluhnya saja tidak. Semua kekhawatiranku sirna sudah. Bahkan berbagai rencana yang aku persiapkan sebelumnya, lenyap tak berbekas dalam sekejap.

Ya, terkadang ekspektasi yang kita pikirkan jauh dari kenyataan yang kita temukan. Di saat kita takut untuk menghadapi sesuatu, ternyata saat kita berhadapan langsung dengannya justru akan terasa lebih mudah. Lantas aku berpikir, jika memang menjemputmu adalah suatu keharusan, apakah rasanya nanti akan jauh berbeda dengan apa yang aku pikirkan sekarang? Segala ketakutanku akan pertanyaan-pertanyaan dari Ayah dan Ibumu nanti, apakah itu hanya akan ada di benakku saja dan tidak akan pernah terjadi di kemudian hari?

Kata temanku yang baru saja diwisuda, "Akan ada saatnya kita bisa mengatakan 'Sidang pasti berlalu' dan 'Ternyata sidang itu hanya seperti itu saja kok.'" Lantas, aku pun meyakini akan tiba saatnya pula dimana kita bisa berkata, "Ternyata ijab qabul hanya seperti itu saja kok" dan "Jomlo pasti berlalu."

Ya, sesuatu yang diucapkan terlihat mudah tapi pertanggungjawabannya yang sangat berat. Saat dimana mengikat janji antara dua hati untuk menjalani kisah sehidup dan semati. Itulah hidup dengan segala pilihan-pilihannya. Dan dirimu? Adalah juga pilihanku untuk saat ini. Semoga jua bisa aku pertahankan sampai nanti dan seterusnya.

"Aku mencintaimu karena aku memilih untuk mencintaimu - Itu saja. Bukankah cinta lebih butuh pembuktian daripada alasan?"

(Azhar Nurun Ala dalam "Cinta Adalah Perlawanan")

Kamis, 24 September 2015

Nervous

#Day 1.8

Sore ini aku mendapat kabar tak terduga. Besok, tepatnya pagi-pagi sekali, aku diminta untuk berkolaborasi dan mempromosikan lembaga tempat aku bekerja. Mungkin terdengar sudah biasa, tapi jika kau tahu bahwa aku akan berbicara di depan dua ribu peserta dalam waktu satu jam? Ya, itu cukup untuk membuatku mati rasa.

Aku membayangkan apa yang akan kukatakan besok di hadapan mereka semua? Dua ribu siswa dengan berbagai macam karakter asal kota simping ini membuatku cemas dan gundah gulana. Haruskah aku bercanda? Menertawai diriku sendiri dengan dalih melakukan stand up comedy seperti para comic di televisi? Ataukah aku akan mencari topik yang pada akhirnya akan menjadi garing dan membuat suasana "krik-krik"?

Jika kau ada disini, kira-kira apa yang akan kau katakan ya? Apakah kau akan menyemangatiku dan berkata, "Kamu pasti bisa!" Ya, sebuah semangat yang dulu selalu kurasakan kala kau percaya bahwa aku pasti bisa melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Kau pasti menatapku dengan tatapan berbinar bahwa kau akan mendukungku dari belakang dan berdoa yang terbaik untukku. Itulah dirimu.

Jadi, mungkin hanya ada satu hal yang aku pinta dari dirimu malam ini. Entah kau mengetahui atau tidak, tapi tolong doakanlah aku malam ini. Ayah berkata bahwa ini adalah kesempatan baik bagiku. Kesempatan untuk membuktikan diri dan membuat orang-orang percaya padaku. Tapi bagiku ini juga merupakan kesempatan untuk mendekat kepadamu. Dengan menjadi orang yang bisa diandalkan, semoga sedikitnya aku pun bisa menjadi tempat bernaung bagimu suatu hari nanti.

Aku selalu cemas, apakah aku memang sudah siap jika harus memimpinmu suatu hari nanti? Layaknya lokomotif yang menggandeng bagian kereta lainnya dan menuntunnya sampai dengan tempat tujuan, apakah aku bisa menjadi lokomotif bagimu?

Cepat atau lambat, kita akan mengetahuinya. Biarlah sang waktu yang akan menjawab semuanya.

Rabu, 23 September 2015

Merindu

#Day 1

Kau tahu?
Hari ini sudah habis kutelan ratusan buku. Ribuan aksara pun telah kenyang kucerna. Namun lagi-lagi semuanya hanya kembali pada satu hal: Mengingatkanku pada dirimu.

Ya, dirimu yang memabukkanku. Sosok yang telah membuat diriku harus menahan haus rindu yang kini membuncah dalam dada. Rindu yang menohok relung hatiku yang terdalam dan membayangkan ribuan kisah andaikan kita kembali bersama.

Namun semua haruslah sesuai dengan waktunya, bukan?

Kau tahu?

Diri ini masih membisu kala kau sebut bahwa dirimu masih menunggu. Menunggu sosok pangeran berkuda putih yang datang tanpa pamrih hanya demi menjemput sang kekasih. Kau bilang, "Cukuplah ridha orang tua karena itu sudah mewakili segala-galanya."

Maka disinilah aku sekarang. Sedang berusaha memantaskan diri agar dapat menjadi orang yang pantas bersanding denganmu. Kembali berusaha menata hati agar cinta ini terbingkai setiap hari dalam balutan kasih nan ilahi. Jadi, tunggulah aku jika memang rindu ini akan kembali bertamu padamu.

Kau tahu?

"Ketika ekspresi rindu adalah doa, tak ada cinta yang tak mulia." Itulah hal baru yang kudapat dari buku. Buku yang membuat wajahku bersemu malu. Malu karena kisah kita belum tentu seperti itu. Maka inilah yang saat ini berlaku, kucoba menorehkan kisah kita di dalam suatu buku. Harap-harap cemas, semoga suatu hari kau tidak tahu bahwa orang yang kumaksud itu adalah dirimu.

Kau tahu?

Ada yang beku: bibir
Ada yang tertahan: nafas
Ada yang berkedip: kelopak mata
Ada yang berdegup kencang: jantung
Ada yang berdesir deras: darah
Ada yang tertawan: hati
Ada yang berhenti berputar: bumi
Ada yang berhembus pelan: angin
Ada yang hening berbisik: rerumputan

Ada yang jatuh cinta padamu: aku

Sampai bertemu lagi. Ya, Kamu.

Dari Aku yang merindu.