Minggu, 09 Agustus 2015

Resensi Buku "Jalan Hijrahku"


RESENSI BUKU “JALAN HIJRAHKU”

Judul Buku      : Jalan Hijrahku

Pengarang       : Febrianti Almeera

Tebal Buku      : xvi + 228 halaman

Harga Buku     : Rp. 50.000,-

Penerbit           : Qultum Media

Tahun Terbit    : November, 2014

Hidup diawali dengan menghirup udara dan diakhiri dengan mengembuskan udara. Maka, proses bernapas yang kita lakukan setiap detiknya merupakan peringatan nyata bahwa kehidupan begitu singkat. Sesingkat jeda antara hirup dan embus.”
– Febrianti Almeera

            Dalam waktu yang singkat ini, hidup seakan terkotak-kotak dalam dua golongan: golongan kaum terang dan golongan kaum gelap. Merekalah kaum terang yang kehidupannya begitu dekat dengan kesalehan, tampak damai, dan nyaris tiada beban. Sementara di sisi lain, si gelap dianggap sebagai kaum yang kehidupannya begitu dekat dengan gelimang dosa dan maksiat, dipenuhi perasaan hampa, dan kekosongan. Kesimpulan akhir dari kedua golongan ini selalu sama, “Biarkan mereka hidup dengan dunianya, dan kita dengan dunia kita. Kita memang berbeda.” Maka, wajar bila keduanya tak pernah saling melebur, apalagi membaur. Dalih si terang, khawatir terbawa-bawa. Sementara dalih si gelap, malu dan merasa tak pantas.

Kedua kotak ini seakan tak ada jembatan penghubungnya, membuat si terang menjadi semakin terang dan si gelap menjadi semakin gelap. Hal ini terlihat janggal sekali. Karena pada hakikatnya hidup adalah untuk berubah. Semua manusia pasti akan mengalami perubahan dalam perjalanan hidupnya, tanpa terkecuali. Mengenai arah perubahannya menuju kebaikan, itu bisa diupayakan. Hal tersebutlah yang kemudian kita sebut sebagai: Hijrah.

Hijrah pada awalnya memang dilakukan oleh Rasulullah Saw. dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Pada saat itu memang perpindahan yang beliau lakukan yakni dari Mekkah ke Madinah tak lain dan tak bukan yakni untuk mencari lingkungan baru yang lebih kondusif untuk berdakwah. Hal inilah yang kemudian berkembang di masyarakat mengenai konsep hijrah. Bahwa hijrah adalah proses perpindahan menuju kebaikan. Dengan hijrah artinya kita akan meninggalkan sesuatu untuk menuju sesuatu. Dan hijrah merupakan perjalanan dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Itulah sejatinya konsep hijrah dari kaum muslimin dan muslimat di seantero negeri ini.

Untuk berhijrah, terkadang seseorang membutuhkan teman. Mereka butuh dituntun, bukan dituntut. Yang diperlukan mereka adalah pemahaman, bukan penghakiman. Maka dengan bahasa yang sederhana, itulah yang ingin disampaikan oleh para Muslimah Hijrah ini. Beberapa kisah nyata proses berhijrah yang dikemas oleh penggagas komunitas Great Muslimah Indonesia, Febrianti Almeera, dalam bukunya yang berjudul “Jalan Hijrahku.”

Febrianti Almeera yang saat ini dikenal sebagai “Inspirator Muslimah Hijrah” memang berfokus pada pengembangan diri para perempuan yang memiliki niat untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan meninggalkan dunia lamanya. Inilah yang disebut muslimah hijrah dan inilah yang ingin disampaikannya dalam buku “Jalan Hijrahku”, sebuah sequel kedua dari rangkaian Trilogi Muslimah Hijrah The Series.

Dalam buku ini, wanita yang akrab disapa teh pewski ini menuturkan konsep-konsep hijrah dengan bahasa yang ringan dan mudah dicerna, mulai dari definisi, langkah awal yang harus dilakukan, dan hal-hal yang perlu kita ketahui selanjutnya. Buku ini juga diperkaya dengan adanya 13 kisah nyata para muslimah hijrah. Namun begitu, tidak menutup kemungkinan juga bagi para pria untuk menjadi pembaca buku ini. Karena konsep hijrah pada hakikatnya sama dan kita bisa mengambil ibrah yang serupa dalam kisah-kisah tersebut.

Sebagai seorang penulis, Febrianti Almeera juga merupakan penggagas konsep “Menulis dari Hati,” yakni menyampaikan apa-apa yang kita rasakan dan kita pikirkan melalui kata-kata. Secara apik, cerita dalam buku ini memang dikemas dengan baik dan membuat pembaca tidak jemu apalagi merasa diceramahi akan konsep hijrah. Dan tiga hal yang perlu digarisbawahi dalam kisah-kisah para Muslimah Hijrah ini, bahwa tantangan berhijrah memang selalu dikategorikan dalam tiga hal besar yakni: Harta, Tahta, dan Cinta.

Buku ini memang berhasil menghunjamkan perubahan bagi para pembacanya. Melalui trilogi yang dibuat Febrianti Almeera ini, diharapkannya dapat menjadi complete package yang dapat menuntun para muslimah hijrah untuk tidak merasa sendirian. Dan dengan membaca buku ini, mudah-mudahan dapat menancapkan keyakinan pada pembaca bahwa masa depan akan selalu menjadi lembaran putih meski sekelam apapun masa lalunya. Semoga kita dapat mengambil hikmah dan meluruskan niat untuk selalu berhijrah semata karena Ilahi Rabbi, Allah Swt. Amin ya rabbal alamin.

Jalan hijrah memang tidak lebih mudah, tapi pasti lebih berkah.”
– Febrianti Almeera –

Bumi Siliwangi, 7 Agustus 2015.

Jumat, 07 Agustus 2015

Resensi Buku "Api Tauhid"


RESENSI BUKU “API TAUHID”

Judul Buku      : Api Tauhid

Pengarang       : Habiburrahman El Shirazy

Tebal Buku      : xxxvi + 588 halaman

Harga Buku     : Rp. 79.000,-

Penerbit           : Penerbit Republika

Tahun Terbit    : November, 2014

            Ir. Soekarno, Presiden pertama bangsa Indonesia, pernah berpesan, “Janganlah Sekali-kali Melupakan Sejarah.” Kita hidup berdasarkan sejarah. Kita hari ini adalah hasil dari apa yang kita lakukan kemarin. Begitu pentingnya sejarah bagi kehidupan manusia namun hanya sedikit yang benar-benar ingin mempelajarinya. Enek, tekstual, dan menjemukan, itulah beberapa hal yang sering dikeluhkan oleh para pembelajar sejarah. Tapi, hal ini akan berbeda ketika kita membaca buku yang berjudul “Api Tauhid” karya Habiburrahman El Shirazy.

            Api Tauhid merupakan karya pertama kang Abik yang menitikberatkan pada sejarah. Setelah sebelumnya sukses dengan novel-novelnya yang bertajuk “Cinta”, pria lulusan Universitas Al-Azhar University Cairo yang dinobatkan sebagai Novelis No. 1 Indonesia, kali ini mencoba menuangkan kisah seorang ulama besar Turki yang multitalenta dan berkarakter dalam sebuah novel sejarah. Ulama tersebut kini kita kenal sebagai sang keajaiban zaman yakni Syaikh Badiuzzaman Said Nursi.

            Said Nursi merupakan salah satu tokoh berpengaruh di Turki yang hidup pada tahun 1878 hingga Maret 1960. Beliau dikenal sebagai ulama Islam terkemuka yang menulis buku Risalah Nur, sebuah karya tafsir Al-Qur’an dengan tebal lebih dari enam ribu halaman. Ia diberi gelar Badiuzzaman, yang berarti keajaiban zaman, atas dasar kejeniusannya menghapal dan memahami puluhan kitab referensi penting yang mengalahkan ilmu ulama-ulama senior lainnya di usianya yang belia. Adapun salah satu kegelisahan yang menjadi sorotan beliau di zaman itu yakni tentang adanya sekulerisasi pendidikan yang diusung oleh negara-negara Eropa. Hingga akhirnya beliau menawarkan konsep pembentukan Medresetuz Zahra yang menggabungkan tiga hal yakni ilmu-ilmu modern, madrasah yang mengajarkan ilmu syariah, dan zawiyah para sufi yang membina penyucian jiwa dan kehalusan adab. Sayang, atas dasar ide-idenya itu beliau menjadi sering berhadapan dengan para penguasa dan mulai dikucilkan bahkan dipenjarakan. Namun, perjuangan beliau justru baru dimulai saat itu. Dari penjara ke penjara, beliau menuliskan ayat-ayat cahaya yang menerangi bumi Andalusia itu. Ketika adzan dibungkam, beliau tetap menyuarakan kalimat Tauhid dari bilik sepinya. Saat kegelapan datang, dialah yang membawa cahaya untuk memusnahkannya. Dan ketika orang-orang mulai pesimis, ialah yang membawa api harapan untuk membakar semangat-semangat para pejuang di tanah airnya. Beliaulah Said Nursi sang Badiuzzaman.

Berbeda dengan buku-buku sejarah lainnya, kang Abik mengemas cerita Said Nursi secara apik dengan menghadirkan tokoh-tokoh fiksi yakni Fahmi, Nuzula, Aysel, dan Emel. Kisah hidup Fahmi yang dibungkus dengan konflik percintaan khas kang Abik berlatar di Jawa Timur (Indonesia), Madinah (Arab Saudi), dan juga Istanbul (Turki), semua itu menambah kekayaan pengetahuan dan latar tempat yang istimewa dalam novel ini. Dan di sela-sela cerita itulah, pembaca akan dibawa secara mendalam menyusuri kisah hidup Said Nursi dengan bercerita, bukan seperti penjelasan tekstual dalam buku-buku sejarah lainnya. Hal itu jugalah yang membuat novel sejarah ini sangat istimewa, tidak menjemukan, dan membuat pembaca ingin segera melahap habis ceritanya dalam semalam.

            Inilah novel sejarah pembangun jiwa yang membawa cahaya keagungan cinta sang mujaddid. Inilah sebuah karya yang membawa nilai-nilai heroisme cinta ilahi. Novel biografi seorang ulama, sang Badiuzzaman, yang telah menorehkan sejarah dalam perjuangan membawa cahaya di masa terakhir kekhalifahan Turki Utsmani. Seorang pembelajar sejati yang diberikan karunia menghapal apa yang dibacanya dalam sekali lihat. Bagi siapapun yang mengidamkan dan ingin mewujudkan pertemuan berbagai peradaban yang berbeda-beda dalam balutan cinta dan penuh perdamaian – bukan pertentangan dan permusuhan (clash of civilization) – saya kira harus membaca novel ini. Semoga Allah memberikan ibrah yang luar biasa pada para pembaca, timbangan amal shalih di hari akhir kelak bagi penulisnya, serta pahala yang berlimpah atas keagungan perjuangan Badiuzzaman Said Nursi nan senantiasa abadi dalam karya-karyanya yang membawa cahaya Tauhid bagi dunia. Amin ya rabbal alamin.

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Q.S. Al-Imran: 169 – 170).

Bumi Siliwangi, 7 Agustus 2015.

Kamis, 30 Juli 2015

Tentang Perasaan

Tentang Perasaan
Oleh : M. Ginanjar Eka Arli

Biarkan angin berembus dalam hening malam ini
Hingga ia sampai dan membelai lembut wajahmu
Maka dengarlah bisiknya lirih di kuping kananmu
Tentang aku, tentang perasaanku. dan tentang perjuanganku

Tunggulah aku di batas waktu, sayangku...

Dalam rindu, 30 - 7 - 15

Rabu, 29 Juli 2015

Senandung Al-Qur'an di Bulan Ramadhan

Senandung Al-Qur'an di Bulan Ramadhan
Oleh : M. Ginanjar Eka Arli

             “Bro, gue pinjem novel dong....”

            Aku memalingkan wajah kepada Andre, teman sekelas yang sedang bertamu ke kosanku. “Novel apa, Bray? Cari aja tuh di pojokan situ...,” tunjukku ke salah satu sudut ruangan.

            “Novel terbaru J.K. Rowling, Bro...,” ucapnya sambil mencari sebuah buku di tempat yang aku tunjuk. “Oh, iya ini ada. Makasih, Bro. Hehe. Lo udah selesai bacanya?”

            “Sama-sama, Bray. Udah khatam kok buku yang itu mah. Silahkan kalau mau dipinjam.” Balasku.

            “Sip.. Hehe. Oh iya, kalau Al-Qur’an lo ada, Bro?”

            “Ha..?” Aku terlonjak mendengar kata-katanya.

            “Iyee, Al-Qur’an. Lo punya, Bro?” tanyanya kembali.

            Kutegakkan badan dan menatap tajam matanya. “Maksud gue, lo kenapa nanya itu?”

            Dia menatap balik mataku dan menarik napas sejenak sebelum menjawab pertanyaanku. “Besok nyokap gue mau inspeksi ke kosan, Bro. Setidaknya, gue bisa keliatan ngaji atau ngapain gitu selama dia disini. Gitu, Bro.”

            “Terus, lo kenapa gak beli aja, Bray?” tanyaku menyelidik.

            “Mahal, Bro.. gue sekarang lagi nabung buat beli game PC yang baru. Sayang duitnya.. Lo bisa kan bantu gue, Bro?” pintanya sedikit memelas.

            “Hmm,” aku berpikir sejenak. “Sebentar ya, gue coba cari dulu.”

            Aku mulai beranjak dari tempat tidurku dan menelusuri kamar yang seperti kapal pecah ini. Buku-buku yang telah selesai kubaca berserakan dimana-mana, mulai dari komik, novel, dan lain sebagainya. Setelah beberapa saat, akhirnya aku menemukan juga Al-Qur’an yang ingin dipinjam sahabat karibku. Ternyata benda tersebut ada di bawah kolong kasurku, kusam dan berdebu.

            “Gile lu, Bro. Udah berapa juta tahun cahaya nih Qur’an nginep disitu??” Tanyanya heran.

            “Hmm.. dari semenjak gue pindah kesini deh kayaknya.” Ucapku ragu-ragu.

            “Buset dah.. itu kan empat tahun yang lalu? Jadi.. selama empat tahun ini lo nggak pernah baca Qur’an??”

            “Kayak lo pernah baca aja, Bray.” Jawabku santai.

            “Yee, setidaknya gue terakhir baca Qur’an bulan kemarin pas om gue meninggal. Yasinan, bro. Hehe,” ujarnya sambil nyengir kuda.

            “Sama aja kalee.. Huu,” ejekku sambil mencubitnya.

            “Haha.. yaudah, gue pinjem dulu ya, Bro, Qur’annya.”

            “Eh.. eh, iya hati-hati ya. Jangan sampe rusak itu bukunya.”

            “Qur’an maksud kamu?”

            “Bukan, novelnya. Hehe.”

            “Iyee.. Iyee..,” jawabnya sambil lalu.

***

            “Dunia sekarang udah nggak bener ya, Bang,” komentarku tiba-tiba.

            Berita di layar kaca siang itu kembali menampilkan berbagai kriminalitas di negeri ini. Topik tentang korupsi, tawuran, dan lainnya seakan bosan untuk dikritisi. Para pembeli warung makan di ujung pasar ini asik dengan makanannya masing-masing. Seperti tidak perduli akan untaian kasus yang terus berganti di televisi.

            “Saya mah udah nggak heran, Mas..,” sahut pemilik warung makan tersebut.

            “Lho, kenapa gitu, Bang?” tanyaku heran.

            “Iya.. itu kan karena mereka yang gak ngerti bahwa hidup itu untuk apa..,” jawabnya. “Seperti kita ketika memakai handphone baru, kalo Mas gak ngerti cara pakainya rusaklah handphone itu.”

            Gerakan tangan pemilik warung tersebut semakin cekatan mengambil lauk-lauk yang aku pesan, sembari menjawab pertanyaan-pertanyaan yang juga aku sodorkan.

            “Orang sama handphone beda kali, Bang.. Gak bisa disamain.”

            Ia menatapku kembali sembari berkata, “Sama lah, Mas.. kita hidup sekarang karena dikasih nyawa dari Allah. Pasti untuk dimaksimalin fungsinya kan? Selama masih dikasih kesempatan tentunya.”

            “Hmm....” Aku mencoba mencerna jawaban dari pemilik warung makan tersebut. “Mungkin mereka gak ada yang ngebimbing kali, Bang.”

            “Kitanya yang nggak mau dibimbing, Mas.” Jawab pemilik warung nasi tersebut dengan tersenyum. “Allah itu baik, lho. Kita dikasih buku panduan untuk menjalani hidup. Tapi, kitanya juga yang nggak mau baca.”

            Aku terbengong kembali mendengar pernyataan darinya.

            “Al-Qur’an.” Jawabnya singkat sambil menyerahkan sebungkus nasi yang kupesan. Kuambil nasi tersebut, membayarnya, dan segera angkat kaki dari tempat tersebut sambil memikirkan perbincangan barusan. Tentang manusia, Allah, dan Al-Qur’an.

***

            Senandung Al-Qur’an mulai bergema di seluruh penjuru negeri. Ritual yang selalu dilakukan setiap tahun menjelang tibanya bulan suci Ramadhan. Perlahan tapi pasti masjid-masjid pun kian bertambah penghuninya, dari musafir hingga orang yang niat beri’tikaf di tempat tersebut.

            Entah kenapa buku-buku yang sedang kubaca kini terasa hambar, baik komik maupun novel. Untuk menghilangkan penat, aku berencana bertemu dengan Andre di suatu warung bakso dekat kampus. Pukul 13.00 selepas kuliah, ia berjanji menemuiku disana.

            “Woy, Nanda. Kenapa lo?” Tegurnya ketika melihat aku sedang termenung dengan semangkuk bakso di hadapanku.

            “Galau gue...,” jawabku singkat.

            Ia terkejut mendengar jawabanku. “Galau kenapa lo? Mikirin gue ya?” candanya.

            “Enak aja, lo. Ngapain juga gue mikirin lo...,” balasku. “Eh iya, ngomong-ngomong.. Itu.. Qur’an gue masih ada?”

            “Oh iya, gue lupa. Bentar, kebetulan gue bawa barangnya....”

            Ia pun mencari sesuatu di dalam tasnya dan beberapa saat kemudian mengeluarkan benda mungil bersampul hitam. Ya, benda itu adalah Al-Qur’an terjemahan yang kemarin gue pinjamkan ke dia.

“Makasih ya, Bro.”

            “Oke, no problem.” Jawabku. “Kalo gitu gue langsung cabut ya, mau namatin ini,” sambil menunjuk Al-Qur’an yang tadi ia berikan. Sedetik kemudian aku langsung berdiri dan meninggalkan Andre sendirian dengan mangkuk bakso di hadapannya. Wajahnya terheran-heran menyaksikan diriku yang perlahan pergi menjauh dari warung bakso tersebut dengan membawa Al-Qur’an di genggamanku. Sungguh pemandangan yang tidak biasa.

***

            “Ya Allah, tolong tunjukkanlah kenapa saya harus membaca buku ini.” Pintaku di tengah masjid dekat kosanku. Tengah hari itu masjid sedang sepi, hanya ada aku sendirian dan Al-Qur’anku yang berada di shaf terdepan. Dengan segenap keikhlaskan, kubuka sembarang halaman di kitab yang telah dikembalikan oleh Andre tersebut. Adapun ayat pertama yang kulihat memiliki arti sebagai berikut.

            Sungguh, Kami telah mendatangkan Kitab (Al-Qur’an) kepada mereka, yang Kami jelaskan atas dasar pengetahuan, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. Al-A’raf: 52)

            Kumaknai dalam-dalam maksud ayat tersebut, dan kucerna baik-baik setiap kata demi kata yang tertera disana. Ya Allah, inikah petunjuk dari-Mu? Maka dengan segenap keyakinan, ku-azzam-kan diri untuk men-khatam-kan Al-Qur’an selama bulan Ramadhan ini. Bismillah, La Haula wala quwwata illa billah.

***

            Hari demi hari silih berganti, selama itu pula kubuka lembaran demi lembaran kitab suci Al-Qur’an-ku. Ayat demi ayat kutelusuri dan kata demi kata kucerna dalam-dalam. Tak terasa, akhir ramadhan kian dekat. Setiap orang berlomba-lomba untuk men-khatam­-kan kitab tersebut sebanyak-banyaknya, menabung amal sembari berharap menjemput malam Lailatul Qadar. Begitupun diriku, kian bersemangat menyelesaikan membaca Al-Qur’an dengan berbagai orang yang senantiasa beribadah di sampingku. Dimanapun aku berada, dan kemanapun aku pergi, Al-Qur’an selalu berada di dalam genggamanku.

            “Bro, lo dimana?” tanyaku pada Andre suatu ketika.

             “Lagi di jalan nih. Kenapa, Bro?” jawab Andre melalui handphone-nya.

            “Ke kosan gue ya sekarang. Penting.”

            “Yaelah. Entar aja ya? Gue mau ketemu cewek gue dulu nih,” elaknya.

            “Udah kesini aja.. ntar gue traktir main game sepuas lo deh,” tawarku.

            “Hah? Serius lo?”

            “Iya, serius gue. Langsung kesini ya, gue tunggu.”

            “Oke, oke. Gue meluncur kesana.. tunggu sebentar ya.” Tutupnya di akhir pembicaraan.

            Setelah beberapa lama, akhirnya Andre pun sampai di kamar kosanku. Ia terkejut melihat ruanganku yang jauh berbeda dari terakhir kali kedatangannya. Kali ini kamarku sangat bersih dan rapih. Tidak ada lagi buku-buku yang berceceran di kasur dan berbagai poster yang aku tempel di dinding. Hanya ruangan putih dengan kasur di tengah-tengah kamar.

            “Lo kenapa bro? Bersih banget nih kamarnya..,” tanyanya heran.

            Aku tersenyum kepadanya dan berkata, “Kita ini goblok, Bro.”

            “Lho..? Goblok jangan ngajak-ngajak dong, Bro. Sendirian aja sono!” hardiknya tidak terima.

            Aku tersenyum kembali kepadanya, “Maksud gue, kita sudah diperbodoh oleh lingkungan. Selama dua puluh tahun gue hidup, baru kali ini gue ngerasa jadi orang paling bodoh.. paling goblok, Bro!”

            Ia masih menatapku heran. “Lo kenapa sih, Bro? Abis keracunan makan gorengan pake plastik ya semalem?”

            Aku tidak menjawab pertanyaannya dan mengambil Al-Qur’an yang ada di hadapanku. “Gue abis namatin ini semalem.. lo tau dalemnya apaan?” tanyaku.

            “Apaan sih? Bahasa arab lah..”

            Aku tersenyum. “Ya, betul. Tapi poinnya bukan itu.”

            Kutarik napas sejenak sebelum melanjutkan. “Gue baca buku ini, arti dari ayat ke ayat.. seru banget, Bro. Ngalahin semua komik dan novel yang pernah gue baca sebelumnya! Ada cerita nabi dan rasul, kisah orang-orang saleh, ilmu pengetahuan, antariksa, bahkan ilmu antar manusia dan ilmu ekonomi dagang juga ada, Bro! Keren kan? Pasti lo belum tau....”

            “Yang bener, Bro?” tanyanya sambil terangguk-angguk.

            “Kalau lo baca buku ini, lo gak perlu baca buku motivasi buat hidup lo sendiri. All in one! Semuanya udah termasuk di dalam sini.”

            “Ilmu tentang jodoh ada nggak?” tanyanya kembali dengan nada penasaran.         

            “Ada, Bro!” jawabku yang menyebabkan mukanya tambah terheran-heran. “Mulai sekarang, gue udah ketagihan baca buku ini, Men. Baca Qur’an! Kalo misalkan gue baca nih buku, rasanya semua energi negatif dalam diri gue hilang dan berubah menjadi positif!”

            “Beneran lo, Bro? Mau dong gue pinjem bukunya!” pintanya sambil mencoba meraih Al-Qur’an dari tanganku.

            “Eits, enak aja mau pinjem.. beli dong, Bro!” elakku.

            Ia terbengong seketika sembari menatapku. “Tapi, kan....”

            “Tapi apa?” sambarku seketika. “Kan tadi gue janjiin lo buat traktir maen game. Nah, duit lo nanti dipake buat beli Qur’an. Gitu maksud gue!”

            “Yaelah.. segitunya lo, Bro....”

            “Segitunya apa?” tantangku kepadanya. “Berdasarkan Qur’an, sebagai umat Islam itu kita bersaudara. Wajib mengingatkan dalam kebaikan, fastabiqul khairat! Berlomba-lomba dalam kebaikan. Gitu lho maksud gue!”

            Andre menutup mukanya dengan sebelah tangannya. Sembari tertawa, setitik air mata turun dari mata beningnya. “Hah, sial lo, Bro. Jadi terjebak dalam kebaikan gini gue....”

            “Hehe, jangan nangis, Bro. Hidayah itu bisa datang kapan saja dan dimana saja. Mumpung lagi bulan Ramadhan juga, sudah saatnya kita untuk terus menambah amal kebaikan dan timbangan untuk bekal di akhirat nanti.” Tutupku.

            Maka hari itu kami berdua berjanji untuk ber-fastabiqul khairat dan mendalami Al-Qur’an. Kami berencana mengikuti program penghapal Qur’an dan menjadi seorang penjaga (tahfidz) Qur’an. Bersama dengan senandung Al-Qur’an di bulan Ramadhan ini, nada dan irama dalam hidup kami pun telah berubah. Berubah menjadi lebih baik dalam mendekatkan diri pada Ilahi Rabbi. Insya Allah.[]

Bekasi, 15 Juli 2015

================================================================

Cerpen ini diadaptasi dari film pendek "Anti Qur'an" yang digawangi oleh WANT Production. Cerpen ini juga pernah diikutsertakan juga dalam lomba di blog kalam.upi.edu. Semoga cerpen ini bermanfaat bagi pembaca maupun penulisnya, aamiin :)

@agi_eka