Selasa, 19 Januari 2016

Cerita Tentang Tanggalnya Sebuah Gigi

Alkisah, hiduplah seorang pemuda yang memiliki dua buah gigi bertumpuk. Sebutlah ia gigi susu dan gigi taring. Setiap hari bagaikan seorang suami dengan dua istri, ia rajin merawat kedua gigi tersebut. Diberinya makan keduanya, dirawatlah mereka dengan penuh kasih sayang, dan setiap hari selalu ia sisihkan waktu spesial untuk keduanya. Hidup mereka berjalan dengan bahagia hingga suatu hari terjadilah kecelakaan pada sang pemuda.

Kecelakaan tersebut membuat tubuh sang pemuda terpelantin, bibirnya pecah, dan gusinya berdarah. Tak ayal ia segera dilarikan ke rumah sakit. Setelah diperiksa dengan seksama, luka paling parah adalah pada gigi gingsulnya. Malang tak dapat ditolak, kini ia harus memilih salah satu dari gigi tersebut untuk meninggalkannya selama-lamanya.

"Kau tak apa-apa, brother?" Tanya gigi susu khawatir.

"Tak apa-apa. Aku tidak banyak terluka, hanya nyeri sedikit di seluruh badanku. Kau sendiri bagaimana sista?"

"Aku ...," ucapannya terpotong dengan suara-suara berdesing dari luar mulut.

"Ada apa? Kau terluka!?" Seru gigi taring.

Gigi susu hanya bisa mengangguk lemah. Ia memperlihatkan tubuhnya yang sudah condong dan miring ke samping. Gigi taring hanya bisa melihat dengan prihatin, bingung apa yang bisa ia perbuat untuk meringankan beban sang gigi susu.

"Aku ... apa yang bisa kulakukan untukmu gigi susu!?" tanya gigi taring berharap.

"Sudahlah, tidak usah perdulikan aku. Setiap orang akan bertemu dengan ajalnya, termasuk untuk setiap gigi. Mungkin ini saatnya aku bertolak dari mulut ini dan pergi ke kubangan sampah disana, dilempar lewat ujung genteng sebagai peruntungan, atau mungkin disimpan di bawah bantal agar bisa digantikan dengan hadiah pada keesokan harinya," ucap gigi susu pasrah.

"Tapi ... tapi ..."

"Terima kasih telah menemani aku selama ini gigi taring. Enam tahun bersamamu adalah masa-masa terindah. Bersama-sama kita mengoyak makanan, buah-buahan, dan juga berselancar melewati jus-jus buah yang dimakan sang tuan. Aku bahagia, sungguh. Jangan pernah lupakan aku ya, brother."

"Gigi susu! Jangan kau ucapkan hal semacam itu! Aku ... aku takut kehilanganmu!" Gigi taring mulai menangis sesenggukan. Liur demi liur keluar dari celah gusinya.

"Ikhlaskan aku, gigi taring. Kelak, jika kita berjodoh, kita akan bertemu kembali di surga-Nya." lirih gigi susu sembari tersenyum.

Sejurus kemudian suara berdesing semakin keras di sekeliling mereka. Mulut berdarah itu mulai terbuka kembali. Cahaya dari luar terlihat sekejap, desing-desing itu datang kembali dan mendekat pada gigi susu.

"Tidaak ... tidak! jangan pergi gigi susu!!"

"Selamat tinggal, gigi taring ..."

Lalu desingan-desingan itu menanggalkan gigi susu dari pangkalnya. Gigi taring menangis sejadi-jadinya. Kini ia harus mengoyak makanan sendirian, tanpa kehadiran sang gigi susu kembali. Entahlah, apakah ia bisa melewati ini semua. Ia hanya bisa pasrah dan berdoa.

"Ya Tuhan, jika kau memang ada, pertemukan aku dengannya sekali lagi. Kumohon."

Lalu suara berdesing itu kembali datang menghampiri gigi taring. Melihat hal itu ia pun tersenyum.

"Terima kasih, Tuhan."

(Karawitan, 14 Januari 2016)

2 komentar:

  1. Serasa ngebaca buku dongeng anak2 deh wkwk
    Bagus idenya, semangat menulis yak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ehehe emang lagi coba belajar bikin cerita yang ringan sih teh, cuma masih bingung dan akhirnya masuk ke kategori "Corat-Coret" dhe tulisan ini... >.<

      Makasih sebelumnya teh sudah berkunjung ke blog ini dan membaca sampai selesai ;)

      Hapus