Minggu, 30 Maret 2014

Aku Gak Mau Makan!

“Adik gak mau makan!”

Teriakan itu menggema di seluruh ruang tamu yang dihiasi berbagai keramik hasil kerajinan negeri Jiran, dengan ukiran-ukiran khas negara tersebut yang unik dan jarang kita lihat di Indonesia. Di ruangan itu, hanya terdapat satu orang wanita dengan anaknya yang berumur enam tahun. Rewel. Tidak mau menuruti kata-kata dari Ibunya tercinta.

“Pokoknya adik gak mau makan. Titik!” Teriaknya kembali.

Ibunya menghembuskan nafas sejenak. Bingung akan kelakuan yang diperbuat oleh anaknya akhir-akhir ini. Entah hal apa yang membuat anak semata wayangnya ini enggan menerima suapan nasi dari Ibunya. Berbagai rayuan dan pujian telah dicoba lontarkan olehnya. Tapi, tetap saja. Nihil.

“Rangga.. Kamu makan dulu atuh ya.. Liat nih, pesawat terbangnya mau masuk mulut kamu.. Aaa’..,” bujuk sang Ibu sambil memainkan sendok nasi, berusaha memasukkan masakan yang telah dibuatnya empat jam yang lalu.

“Enggak mau! Adik gak mau makan, Mamaah!!” Teriaknya kembali memecahkan kesunyian di rumah itu untuk kedua kalinya.

Ibunya berhenti lagi. Ia kembali menggeleng-gelengkan kepala. Entah apa yang ada di dalam pikirannya menanggapi situasi tersebut. Anak laki-laki yang mengenakan kaos putih berlogo Cubitus itu kini tengah merapatkan erat-erat bibirnya, menolak dimasuki makanan apapun ke dalam mulut besarnya. Situasi ini sudah hampir berjalan selama tiga puluh menit. Harusnya di saat seperti ini, kakeklah yang selalu menenangkan hati cucunya tercinta. Ya, kakek yang baik hati dan ramah. Ialah orangnya....

***

          Siang itu matahari memancarkan sinar suryanya ke seluruh penjuru kampung Rambutan, membagikan semangat bekerja kepada orang-orang pedesaan untuk beraktifitas selama hari itu. Terlihat satu-dua orang mulai berjalan menuju belakang pekarangan rumahnya masing-masing. Hendak menuai benih, membajak tanah, atau memanen hasil kerjanya beberapa bulan lalu. Memang, kampung ini terkenal dengan prestasinya sebagai penghasil beras kualitas terbaik. Konon, hanya beras dari kampung inilah yang berwarna putih cemerlang, kandungan gizinya sempurna, dimakan enak, dimasak mudah, dan selalu laris di pasaran dengan harga tinggi.

          Di salah satu pojokan kampung terdapat sebuah rumah kayu kecil berukuran 15 x 15 meter persegi. Rumah itu telah berdiri kokoh selama lebih dari dua puluh tahun di sana. Saksi bisu besarnya seorang laki-laki yang saat ini sedang duduk santai di atas kursi goyangnya. Menatap orang-orang yang berlalu lalang melintasi pekarangan rumahnya menuju sawah yang ada di pinggiran kampung tersebut.

          “Pagi, Kek!” Sapa salah seorang pemuda dari kejauhan.

          Pria itu mendongak. Menatap sosok pemuda tinggi kurus yang telah dikenalnya. Rambut gelombangnya berkibar tertiup angin. Langkahnya mantap sambil membawa pacul yang selalu ia gunakan untuk bekerja. Adit. Begitu ia disapa oleh penduduk kampung Rambutan.

“Ya, Pagi juga Dit.” Jawab Kakek dengan senyum khasnya. Di kampung ini memang Kakek terkenal dengan orang yang ramah senyum. Setiap orang yang bertemu dengan Kakek pasti diberikan senyum indahnya. Senyum lima jari, sebut salah seorang fans Kakek.
“Mau kemana dirimu? Terlihat begitu bersemangat tampaknya hari ini.” Sapanya.

“Biasalah, Kek. Memacul. Apalah lagi kerjaan yang ada di kampung ini selain menjadi petani? Anak kecil, pemuda, sampai kakek-kakek, semuanya petani! Sepertinya kita harus mengganti nama kampung ini dengan kampung petani suatu saat nanti.” Canda Adit.

Kakek tertawa mendengar guyonan Adit. Dipikir-pikir, benarlah memang apa yang dikatakan Adit. Delapan puluh persen penduduk desa ini adalah laki-laki. Dan lebih dari setengahnya berprofesi sebagai petani. Ya, petani. Pekerjaan itu telah mengakar sejak nenek moyang dari neneknya Kakek mendiami tempat tersebut. Turun temurun dari generasi ke generasi. Entah sampai kapan akan terus berlanjut seperti itu.

“Ngomong-ngomong, Kakek sudah mendengar bahwa sawah Mbah Sudirman telah dijual?” Tanya Adit membuka percakapan.

Kakek terdiam sejenak. Sudirman adalah teman dekat Kakek sejak kecil. Ia besar dan tumbuh bersama Kakek sejak masih dibuaian Ibunya. Kemana-mana mereka selalu berdua. Susah senang dilewati bersama. Termasuk belajar bercocok tanam, merekalah jagonya. Dimana ada Kakek, disana pasti Sudirman berada pula. Macam perangko di surat. Begitulah hubungan mereka, setidaknya hingga kemarin lusa.

Kakek menghembuskan nafas pelan, “Ya, Kakek sudah mendengarnya. Sungguh sangat disayangkan, sawah warisan Bapaknya yang menjadi mata pencaharian utama keluarga mereka akhirnya dijual kepada tuan-tuan berjas itu. Padahal ia tahu, orang-orang berambut klimis itu hanya ingin membangun jalan baru menuju kota mereka. Lihat saja beberapa bulan lagi, sawah itu pasti sudah hilang tanpa bekas. Berbeda dengan janji manis yang selalu mereka ucapkan.”

Adit duduk di sebelah Kakek. Menatap kuda besi yang diparkir tak jauh dari rumah Kakek. Kendaraan para pria berjas yang sedang mereka bicarakan itu berwarna hitam. Mulus. Bersih tanpa noda. Sudah lebih dari dua bulan mereka menetap di desa ini. Melobi para pemilik sawah di belakang gubuk kecil Kakek. Berucap rayuan gombal demi membangun jalan panjang menuju kota mereka. Memang, hanya dengan melewati kampung ini, perjalanan dari kota sebelah bisa dihemat lebih dari dua jam. Mungkin itulah yang menjadi alasan mereka untuk terus menerus melobi masyarakat agar dapat menjual sawah-sawah yang menghalangi kinerja mereka tersebut.

“Adit sedih Kek.” Ujarnya singkat mendengar ucapan Kakek. “Sudah lima belas tahun Adit menjadi petani. Menuai benih, menunggu siang malam, dan merasakan senangnya panen di akhir tahun. Itulah yang membuat Adit semangat dalam menjalani pekerjaan ini. Menurut Adit petani bukanlah pekerjaan yang hina. Bahkan pekerjaan ini sangat terhormat! Bayangkan saja, menyediakan pasokan pangan untuk orang-orang di seluruh penjuru negeri dengan kualitas terbaik. Mau makan apa orang Indonesia besok jika kita tidak ada!?” Tutup Adit dengan sedikit emosi.

Kakek menatap sayu pemuda disampingnya. Ia bahkan telah lima puluh tahun lebih menjalani pekerjaan ini sebagai mata pencaharian utama keluarganya. Dengan pekerjaan ini, anak-anaknya kini telah tumbuh sukses dan bekerja di kota sana. Meninggalkan dirinya yang menghabiskan masa tua sendiri di gubuk kecilnya sendirian.

“Begitulah hidup Dit.” Kakek mulai berkata. “Tidaklah semua bisa berjalan sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Semuanya kembali pada Gusti Allah. Pemilik tanah dan dunia ini yang sebenarnya. Sang pemberi rezeki dan juga karunia. Yang menurunkan hujan dan menyuburkan tanaman. Yang mendatangkan distributor dan mengantarkan beras kita kepada para konsumen di luar sana. Kembalikan semuanya pada Yang Maha Memiliki. Dialah yang tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya.”

Adit berpikir sejenak, mempertimbangkan ucapan Kakek barusan. Dari seluruh petani yang ada di desa ini, hanyalah Kakek satu-satunya yang belum menjual sawah di pojok kampung ini. Hanya Kakek, yang berpegang teguh dalam pendirian untuk tetap tidak menjual sawahnya kepada para pria berjas itu. Ditawari seperti apapun, Kakek keukeuh tidak mau menerima sepeser pun uang haram tersebut. Uang hasil lobi dan merampas hak rakyat dengan menggelembungkan angka-angka di proposal pengajuan dana pemerintahan daerah.

 “Uhuk.. Uhuk.. Uhuk!!” Tiba-tiba Kakek terbatuk. Parah. Sejenak matanya memerah dan air mata mulai berlinangan. Menyakitkan. Memegang dadanya, hendak seperti muntah.
Seketika Adit bangkit dari tempat duduknya. Panik. Pria tua itu batuk darah. Merah, kental, dan hangat. Takut-takut ia mendekat pada Kakek seraya bertanya, “Kek.. Kakek gak apa-apa??”

“Uhuk.. Uhuk.. Iya, Kakek gak apa-apa kok Dit. Kamu tenang aja ya.. Kayaknya Kakek butuh minum dan istirahat dulu..” Pria tua itu pamit. Berusaha berdiri sambil bergetar kedua tangannya. Kakinya seakan tak mampu menopang beban tersebut. Patah-patah, Kakek berusaha untuk bangkit dari kursi goyangnya. “Sampai nanti Dit....” Pria tua itu berujar.

Adit terpaku di tempat ia berdiri. Bingung harus berbuat apa. Menatap badan lemah itu berusaha bangkit, berdiri, dan mulai berjalan gontai dengan ke arah pintu rumahnya. Perlahan-lahan.. Hingga pada akhirnya..

“GUBRAK!!”

“KAKEEEEKKK!!!!”

Dari kejauhan terdengar suara alat-alat berat mulai berdatangan. Membawa pasokan peralatan canggih lainnya. Siap meratakan seluruh yang ada di hadapannya....

***

Adik kecil itu masih bersungut-sungut. Ingin bertemu sang Kakek, ujarnya. Ingin disuapi dengan Kakek, pintanya. Ingin Kakek, Kakek, dan Kakek! Egonya. Sedang di depannya, Ibu satu anak itu berdiam diri. Mencari sejenak kata-kata yang tepat untuk memberitahukan kepada sang buah hatinya tentang kondisi yang ada. Sudah lebih dari satu minggu pria tua itu menghilang. Tanpa bisa ditemui kembali di gubuk tuanya.

“Rangga sayang.. Kamu inget makanan kesukaan Kakekmu apa?” Tanya Ibunya lembut.

“Nasi, Mah.. Nasi bikinan Kakek yang berasal dari beras yang ditanam langsung di sawah milik Kakek! Juga Ikan! Kakek paling suka makan ikan goreng!!” Seru Rangga, bersemangat.

Ibunya tersenyum, lantas berkata, ”Benar sayang.. Beras bikinan Kakek memang nomor satu di dunia. Dan kamu tau kalo nasi ini berasal darimana?” Seraya mengangkat sendok penuh nasi di hadapannya.

Rangga sejenak menatap bongkahan nasi di hadapannya. Mengernyitkan dahi. Sejenak kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya, “Gak tau, Mah...,” ucapnya jujur.

Ibunya memaklumi, “Nasi ini sayang.. Berasal dari sawahnya Kakek!” Ujarnya.

Rangga terdiam. Matanya berbinar-binar seperti baru mendapatkan kejutan di hari ulang tahunnya. Dengan penuh keragu-raguan ia bertanya, “...Bener, Mah? Ini nasinya Kakek??”

“Iyaa sayang! Ini nasi Kakek!”

Seketika itu Rangga melompat dari tempat duduknya dan segera mengambil posisi di hadapan Ibunya. Mengambil alih piring dan sendok dari tangan Ibunya. Memulai ritual makan dengan lahap. Sepertinya ia kelaparan karena perutnya belum di isi dari semalam.

“Rangga sayang.. Pelan-pelan sayang,, Nanti keselek lho! Hayoo.. Udah baca doa mau makannya beluumm..?” Tanya Ibunya mengingatkan.

Sekejap Rangga beneran tersedak. Diambilnya minuman yang berada di depannya. Buru-buru menegaknya sampai habis. Tersenyum jahil dan berkata, ”Hehe.. Belum Mah.. Adik lupa....”

Ibunya tersenyum kembali menatap buah hatinya mengangkat kedua tangannya seraya mengucapkan doa mau makan. Hanya beberapa saat saja. Selanjutnya, kembali melahap makanan yang ada di depannya sampai hampir habis. Teringat sesuatu, dan ia bertanya, “Mah.. Kakek dimana?”

Rona pucat mulai menghiasi wajah tua itu. Bingung akan mengatakan apa kepada anak semata wayangnya. Teringat sosok tua yang tidak akan bisa ditemui kembali itu. Bibirnya hanya dapat berucap, “Kakek sedang sibuk Ngga, memanen beras dari sawahnya yang berlimpah ruah itu. Sekarang kamu cukup berterima kasih dan bersyukur kepada Yang Maha Esa, kepada supir beras, sama Mbok Minah ya. Karena berkat mereka, beras Kakek bisa sampai ke rumah ini dan dimasak sama Mamah!” ucap Ibu satu anak tersebut.

“Hmmm.. Gitu ya, Mah....” Ucap Rangga sedih. Melanjutkan makanan yang tinggal sedikit di piring hijaunya tersebut. Membayangkan Kakek berada di sebelahnya dan menemani ia bercanda sambil mengunyah nasi tanak buatan asli pedesaan.

“Rangga kangen Kakek....” ucapnya.

***

Mesin-mesin itu mulai melaksanakan tugasnya. Seraya meratakan bangunan tak bertuan yang ada dihadapannya. Sementara yang lain memporakporandakan tanaman yang ada di belakang gubuk tersebut. Padi, Jagung, dan rempah-rempah lainnya menjadi korban keganasan mesin tersebut. Tanpa pandang bulu, seketika semuanya rata dengan tanah. Menjadi bukti kerakusan dan ketamakan dari manusia.

(Cerpen ini pernah diikutsertakan dalam lomba Imtek Islamic Championship 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar