Sabtu, 14 Juni 2014

Secarik Kertas Untuk Ayah


Pagi ini aku terbangun seperti biasanya.. Kuambil segelas cangkir dan kuseduh kopi hangat.. Nikmatnya membuatku melayang.. Aromanya membuatku membayang.. Sosok tegar dan pendiam, yang dulu selalu menemani pagiku, sambil menyeruput secangkir kopi hangat.. Ayah..

Ayah.. Masih ingatkah dirimu saat aku berumur 7 tahun? Kau sakiti aku dengan gagang sapu itu.. Kau marahi aku dengan teriakan lantangmu.. Dan aku menangis karena tidak tahu apa kesalahanku..

Namun kini baru aku menyadari letak kekhilafanku.. Kau ajarkanku bahwa kewajiban seorang muslim tidak boleh ditinggalkan.. Kau ajarkanku tentang kejujuran.. Dan tentang ketegasan..

Ayah.. Kini ingatkah engkau saat aku mulai duduk di bangku SMP? Kau cari aku ketika aku pulang sedikit telat.. Kau ganggu aku ketika aku sedang asyik bermain Game Online di warnet dekat sekolahku.. Kau desak aku untuk meninggalkan permainanku.. Dan kau bujuk aku untuk segera pulang dan bercengkerama denganmu.. Tahukah kau bahwa itu sangat mengusikku??

Tapi.. Kini jika ku ingat-ingat lagi.. Ternyata engkau ingin mengajarkanku tentang kedisiplinan.. Tentang perhatian.. Dan kekhawatiran.. Maka ketika suatu kali engkau tidak pernah menanyakan kabarku kembali, tahukah bahwa aku merindukan sapaanmu? Tahukah engkau bahwa aku merindukan pertanyaan-pertanyaanmu?? Hingga saat ini, sesungguhnya aku ingin ditegur kembali olehmu,, Ayah..

Ayahku sayang.. Kata orang masa SMA adalah masa yang paling indah.. Masa SMA dipenuhi bumbu-bumbu kasih sayang antar remaja.. Suka duka seorang siswa.. Warna-warni tabiat seorang pelajar.. Dan kegalauan khas anak muda.. Maka ketika dulu aku terjebak dalam lingkaran itu, engkau membiarkanku sendiri.. Engkau bebaskan aku dalam pergaulanku.. Engkau percayakan aku untuk menjaga diriku sendiri.. Dan engkau yakinkan aku untuk memilih baik dan buruk berdasarkan pilihanku pribadi..

Maka saat ini, sekali lagi aku mempelajari pelajaran kehidupan darimu.. Bahwasannya ada masa-masa ketika kita sudah beranjak dewasa.. Pemikiran mulai kompleks.. Dan keinginan hati untuk terbebas dari kekangan orang tua.. Dan itulah caramu mendidikku menjadi dewasa.. Agar aku tahu baik dan buruk dari kesalahan-kesalahanku sendiri.. Supaya aku mengerti kebaikan-kebaikan dari berbagai pilihanku pribadi.. Sehingga akhirnya aku menyadari disanalah engkau ajarkanku tentang kebebasan,, kepercayaan,, dan pembelajaran hidup.. Agar aku dapat membedakan, mana putih dan mana hitam..

Ayah.. Usiaku kini sudah berkepala dua.. Studi perkuliahan dan organisasi mewarnai hari-hariku.. Prinsip kemandirian mulai menjalari otakku.. Dan sifat gengsi mulai tampak dari diriku.. Maka sekali lagi engkau membiarkanku larut dalam duniaku sendiri.. Engkau bebaskan aku dari pertanyaan-pertanyaan mendasarmu.. Engkau hormati duniaku dengan tidak banyak menggangguku selalu.. Dan engkau tetap perhatikanku dengan memberiku hadiah-hadiah yang sederhana tapi berarti untukku..

Maka kali ini, lagi-lagi aku belajar darimu.. Akan tanggung jawab laki-laki terhadap keluarga.. Akan pentingnya peran kakak kepada adiknya.. Serta kemandirian seorang lelaki yang mulai beranjak dewasa.. Dan dari cerita-cerita ketika engkau berkuliah dahulu, yang engkau ceritakan berkali-kali dan kadang membuatku bosan karena endingnya sudah tertebak, tapi aku dapat mengambil petikan hikmah dan pelajaran berharga dari sana.. Untuk menjadi seorang tauladan.. Dan menceritakan kembali kisah-kisah pengalaman hidup kita kepada orang lain..

Ayah.. Engkau selalu berjalan seorang diri di depan sana.. Kami selalu memperhatikan punggungmu dari belakang.. Engkau tutupi kegiatanmu agar tidak mengganggu pikiran kami disini.. Dan engkau yakinkan kami untuk berdiam diri dan menunggu rejeki yang engkau berikan suatu saat nanti.. Maka tahukah dirimu ayah, bahwa kami disini merindumu? Kami ingin bercengkerama kembali denganmu.. Memeluk tubuh gempalmu.. Mencium pipi kasarmu.. Dan bersenda gurau kembali bersamamu.. Maka bacalah secarik kertas untukmu ini, Ayah.. Sebagai bentuk kerinduan kami terhadapmu..

Dimanapun engkau berada, kami selalu mencintaimu..
Terima kasih untuk semua pelajaran yang engkau berikan kepada kami.. Ayah..
Love you always, forever and ever..
Happy Father's Day :)

Your Lovely Child
M. Ginanjar Eka Arli
Bumi Siliwangi, 15 Juni 2014


2 komentar:

  1. Ingin nangis kang bacanya.. kereen :')

    jgn lupa kunjungi blog nida ya kang, di www.nidamia.blogspot.com

    nanti nida masukin di blogroll nida kang, hehe :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya nida, barusan udah aku tengok.. Blog kamu juga keren da.. Aku suka cerita yang ada di homepagenya barusan :D

      cm tadi agak bingung mau comment na dmn.. Mungkin klo udah ketemu aku juga bakal comment postingannya.. Hehe

      Tetep semangat buat menulis yaa.. Nanti saling sharing juga hasil tulisannya ;)

      Hapus