Rabu, 29 Juli 2015

Senandung Al-Qur'an di Bulan Ramadhan

Senandung Al-Qur'an di Bulan Ramadhan
Oleh : M. Ginanjar Eka Arli

             “Bro, gue pinjem novel dong....”

            Aku memalingkan wajah kepada Andre, teman sekelas yang sedang bertamu ke kosanku. “Novel apa, Bray? Cari aja tuh di pojokan situ...,” tunjukku ke salah satu sudut ruangan.

            “Novel terbaru J.K. Rowling, Bro...,” ucapnya sambil mencari sebuah buku di tempat yang aku tunjuk. “Oh, iya ini ada. Makasih, Bro. Hehe. Lo udah selesai bacanya?”

            “Sama-sama, Bray. Udah khatam kok buku yang itu mah. Silahkan kalau mau dipinjam.” Balasku.

            “Sip.. Hehe. Oh iya, kalau Al-Qur’an lo ada, Bro?”

            “Ha..?” Aku terlonjak mendengar kata-katanya.

            “Iyee, Al-Qur’an. Lo punya, Bro?” tanyanya kembali.

            Kutegakkan badan dan menatap tajam matanya. “Maksud gue, lo kenapa nanya itu?”

            Dia menatap balik mataku dan menarik napas sejenak sebelum menjawab pertanyaanku. “Besok nyokap gue mau inspeksi ke kosan, Bro. Setidaknya, gue bisa keliatan ngaji atau ngapain gitu selama dia disini. Gitu, Bro.”

            “Terus, lo kenapa gak beli aja, Bray?” tanyaku menyelidik.

            “Mahal, Bro.. gue sekarang lagi nabung buat beli game PC yang baru. Sayang duitnya.. Lo bisa kan bantu gue, Bro?” pintanya sedikit memelas.

            “Hmm,” aku berpikir sejenak. “Sebentar ya, gue coba cari dulu.”

            Aku mulai beranjak dari tempat tidurku dan menelusuri kamar yang seperti kapal pecah ini. Buku-buku yang telah selesai kubaca berserakan dimana-mana, mulai dari komik, novel, dan lain sebagainya. Setelah beberapa saat, akhirnya aku menemukan juga Al-Qur’an yang ingin dipinjam sahabat karibku. Ternyata benda tersebut ada di bawah kolong kasurku, kusam dan berdebu.

            “Gile lu, Bro. Udah berapa juta tahun cahaya nih Qur’an nginep disitu??” Tanyanya heran.

            “Hmm.. dari semenjak gue pindah kesini deh kayaknya.” Ucapku ragu-ragu.

            “Buset dah.. itu kan empat tahun yang lalu? Jadi.. selama empat tahun ini lo nggak pernah baca Qur’an??”

            “Kayak lo pernah baca aja, Bray.” Jawabku santai.

            “Yee, setidaknya gue terakhir baca Qur’an bulan kemarin pas om gue meninggal. Yasinan, bro. Hehe,” ujarnya sambil nyengir kuda.

            “Sama aja kalee.. Huu,” ejekku sambil mencubitnya.

            “Haha.. yaudah, gue pinjem dulu ya, Bro, Qur’annya.”

            “Eh.. eh, iya hati-hati ya. Jangan sampe rusak itu bukunya.”

            “Qur’an maksud kamu?”

            “Bukan, novelnya. Hehe.”

            “Iyee.. Iyee..,” jawabnya sambil lalu.

***

            “Dunia sekarang udah nggak bener ya, Bang,” komentarku tiba-tiba.

            Berita di layar kaca siang itu kembali menampilkan berbagai kriminalitas di negeri ini. Topik tentang korupsi, tawuran, dan lainnya seakan bosan untuk dikritisi. Para pembeli warung makan di ujung pasar ini asik dengan makanannya masing-masing. Seperti tidak perduli akan untaian kasus yang terus berganti di televisi.

            “Saya mah udah nggak heran, Mas..,” sahut pemilik warung makan tersebut.

            “Lho, kenapa gitu, Bang?” tanyaku heran.

            “Iya.. itu kan karena mereka yang gak ngerti bahwa hidup itu untuk apa..,” jawabnya. “Seperti kita ketika memakai handphone baru, kalo Mas gak ngerti cara pakainya rusaklah handphone itu.”

            Gerakan tangan pemilik warung tersebut semakin cekatan mengambil lauk-lauk yang aku pesan, sembari menjawab pertanyaan-pertanyaan yang juga aku sodorkan.

            “Orang sama handphone beda kali, Bang.. Gak bisa disamain.”

            Ia menatapku kembali sembari berkata, “Sama lah, Mas.. kita hidup sekarang karena dikasih nyawa dari Allah. Pasti untuk dimaksimalin fungsinya kan? Selama masih dikasih kesempatan tentunya.”

            “Hmm....” Aku mencoba mencerna jawaban dari pemilik warung makan tersebut. “Mungkin mereka gak ada yang ngebimbing kali, Bang.”

            “Kitanya yang nggak mau dibimbing, Mas.” Jawab pemilik warung nasi tersebut dengan tersenyum. “Allah itu baik, lho. Kita dikasih buku panduan untuk menjalani hidup. Tapi, kitanya juga yang nggak mau baca.”

            Aku terbengong kembali mendengar pernyataan darinya.

            “Al-Qur’an.” Jawabnya singkat sambil menyerahkan sebungkus nasi yang kupesan. Kuambil nasi tersebut, membayarnya, dan segera angkat kaki dari tempat tersebut sambil memikirkan perbincangan barusan. Tentang manusia, Allah, dan Al-Qur’an.

***

            Senandung Al-Qur’an mulai bergema di seluruh penjuru negeri. Ritual yang selalu dilakukan setiap tahun menjelang tibanya bulan suci Ramadhan. Perlahan tapi pasti masjid-masjid pun kian bertambah penghuninya, dari musafir hingga orang yang niat beri’tikaf di tempat tersebut.

            Entah kenapa buku-buku yang sedang kubaca kini terasa hambar, baik komik maupun novel. Untuk menghilangkan penat, aku berencana bertemu dengan Andre di suatu warung bakso dekat kampus. Pukul 13.00 selepas kuliah, ia berjanji menemuiku disana.

            “Woy, Nanda. Kenapa lo?” Tegurnya ketika melihat aku sedang termenung dengan semangkuk bakso di hadapanku.

            “Galau gue...,” jawabku singkat.

            Ia terkejut mendengar jawabanku. “Galau kenapa lo? Mikirin gue ya?” candanya.

            “Enak aja, lo. Ngapain juga gue mikirin lo...,” balasku. “Eh iya, ngomong-ngomong.. Itu.. Qur’an gue masih ada?”

            “Oh iya, gue lupa. Bentar, kebetulan gue bawa barangnya....”

            Ia pun mencari sesuatu di dalam tasnya dan beberapa saat kemudian mengeluarkan benda mungil bersampul hitam. Ya, benda itu adalah Al-Qur’an terjemahan yang kemarin gue pinjamkan ke dia.

“Makasih ya, Bro.”

            “Oke, no problem.” Jawabku. “Kalo gitu gue langsung cabut ya, mau namatin ini,” sambil menunjuk Al-Qur’an yang tadi ia berikan. Sedetik kemudian aku langsung berdiri dan meninggalkan Andre sendirian dengan mangkuk bakso di hadapannya. Wajahnya terheran-heran menyaksikan diriku yang perlahan pergi menjauh dari warung bakso tersebut dengan membawa Al-Qur’an di genggamanku. Sungguh pemandangan yang tidak biasa.

***

            “Ya Allah, tolong tunjukkanlah kenapa saya harus membaca buku ini.” Pintaku di tengah masjid dekat kosanku. Tengah hari itu masjid sedang sepi, hanya ada aku sendirian dan Al-Qur’anku yang berada di shaf terdepan. Dengan segenap keikhlaskan, kubuka sembarang halaman di kitab yang telah dikembalikan oleh Andre tersebut. Adapun ayat pertama yang kulihat memiliki arti sebagai berikut.

            Sungguh, Kami telah mendatangkan Kitab (Al-Qur’an) kepada mereka, yang Kami jelaskan atas dasar pengetahuan, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. Al-A’raf: 52)

            Kumaknai dalam-dalam maksud ayat tersebut, dan kucerna baik-baik setiap kata demi kata yang tertera disana. Ya Allah, inikah petunjuk dari-Mu? Maka dengan segenap keyakinan, ku-azzam-kan diri untuk men-khatam-kan Al-Qur’an selama bulan Ramadhan ini. Bismillah, La Haula wala quwwata illa billah.

***

            Hari demi hari silih berganti, selama itu pula kubuka lembaran demi lembaran kitab suci Al-Qur’an-ku. Ayat demi ayat kutelusuri dan kata demi kata kucerna dalam-dalam. Tak terasa, akhir ramadhan kian dekat. Setiap orang berlomba-lomba untuk men-khatam­-kan kitab tersebut sebanyak-banyaknya, menabung amal sembari berharap menjemput malam Lailatul Qadar. Begitupun diriku, kian bersemangat menyelesaikan membaca Al-Qur’an dengan berbagai orang yang senantiasa beribadah di sampingku. Dimanapun aku berada, dan kemanapun aku pergi, Al-Qur’an selalu berada di dalam genggamanku.

            “Bro, lo dimana?” tanyaku pada Andre suatu ketika.

             “Lagi di jalan nih. Kenapa, Bro?” jawab Andre melalui handphone-nya.

            “Ke kosan gue ya sekarang. Penting.”

            “Yaelah. Entar aja ya? Gue mau ketemu cewek gue dulu nih,” elaknya.

            “Udah kesini aja.. ntar gue traktir main game sepuas lo deh,” tawarku.

            “Hah? Serius lo?”

            “Iya, serius gue. Langsung kesini ya, gue tunggu.”

            “Oke, oke. Gue meluncur kesana.. tunggu sebentar ya.” Tutupnya di akhir pembicaraan.

            Setelah beberapa lama, akhirnya Andre pun sampai di kamar kosanku. Ia terkejut melihat ruanganku yang jauh berbeda dari terakhir kali kedatangannya. Kali ini kamarku sangat bersih dan rapih. Tidak ada lagi buku-buku yang berceceran di kasur dan berbagai poster yang aku tempel di dinding. Hanya ruangan putih dengan kasur di tengah-tengah kamar.

            “Lo kenapa bro? Bersih banget nih kamarnya..,” tanyanya heran.

            Aku tersenyum kepadanya dan berkata, “Kita ini goblok, Bro.”

            “Lho..? Goblok jangan ngajak-ngajak dong, Bro. Sendirian aja sono!” hardiknya tidak terima.

            Aku tersenyum kembali kepadanya, “Maksud gue, kita sudah diperbodoh oleh lingkungan. Selama dua puluh tahun gue hidup, baru kali ini gue ngerasa jadi orang paling bodoh.. paling goblok, Bro!”

            Ia masih menatapku heran. “Lo kenapa sih, Bro? Abis keracunan makan gorengan pake plastik ya semalem?”

            Aku tidak menjawab pertanyaannya dan mengambil Al-Qur’an yang ada di hadapanku. “Gue abis namatin ini semalem.. lo tau dalemnya apaan?” tanyaku.

            “Apaan sih? Bahasa arab lah..”

            Aku tersenyum. “Ya, betul. Tapi poinnya bukan itu.”

            Kutarik napas sejenak sebelum melanjutkan. “Gue baca buku ini, arti dari ayat ke ayat.. seru banget, Bro. Ngalahin semua komik dan novel yang pernah gue baca sebelumnya! Ada cerita nabi dan rasul, kisah orang-orang saleh, ilmu pengetahuan, antariksa, bahkan ilmu antar manusia dan ilmu ekonomi dagang juga ada, Bro! Keren kan? Pasti lo belum tau....”

            “Yang bener, Bro?” tanyanya sambil terangguk-angguk.

            “Kalau lo baca buku ini, lo gak perlu baca buku motivasi buat hidup lo sendiri. All in one! Semuanya udah termasuk di dalam sini.”

            “Ilmu tentang jodoh ada nggak?” tanyanya kembali dengan nada penasaran.         

            “Ada, Bro!” jawabku yang menyebabkan mukanya tambah terheran-heran. “Mulai sekarang, gue udah ketagihan baca buku ini, Men. Baca Qur’an! Kalo misalkan gue baca nih buku, rasanya semua energi negatif dalam diri gue hilang dan berubah menjadi positif!”

            “Beneran lo, Bro? Mau dong gue pinjem bukunya!” pintanya sambil mencoba meraih Al-Qur’an dari tanganku.

            “Eits, enak aja mau pinjem.. beli dong, Bro!” elakku.

            Ia terbengong seketika sembari menatapku. “Tapi, kan....”

            “Tapi apa?” sambarku seketika. “Kan tadi gue janjiin lo buat traktir maen game. Nah, duit lo nanti dipake buat beli Qur’an. Gitu maksud gue!”

            “Yaelah.. segitunya lo, Bro....”

            “Segitunya apa?” tantangku kepadanya. “Berdasarkan Qur’an, sebagai umat Islam itu kita bersaudara. Wajib mengingatkan dalam kebaikan, fastabiqul khairat! Berlomba-lomba dalam kebaikan. Gitu lho maksud gue!”

            Andre menutup mukanya dengan sebelah tangannya. Sembari tertawa, setitik air mata turun dari mata beningnya. “Hah, sial lo, Bro. Jadi terjebak dalam kebaikan gini gue....”

            “Hehe, jangan nangis, Bro. Hidayah itu bisa datang kapan saja dan dimana saja. Mumpung lagi bulan Ramadhan juga, sudah saatnya kita untuk terus menambah amal kebaikan dan timbangan untuk bekal di akhirat nanti.” Tutupku.

            Maka hari itu kami berdua berjanji untuk ber-fastabiqul khairat dan mendalami Al-Qur’an. Kami berencana mengikuti program penghapal Qur’an dan menjadi seorang penjaga (tahfidz) Qur’an. Bersama dengan senandung Al-Qur’an di bulan Ramadhan ini, nada dan irama dalam hidup kami pun telah berubah. Berubah menjadi lebih baik dalam mendekatkan diri pada Ilahi Rabbi. Insya Allah.[]

Bekasi, 15 Juli 2015

================================================================

Cerpen ini diadaptasi dari film pendek "Anti Qur'an" yang digawangi oleh WANT Production. Cerpen ini juga pernah diikutsertakan juga dalam lomba di blog kalam.upi.edu. Semoga cerpen ini bermanfaat bagi pembaca maupun penulisnya, aamiin :)

@agi_eka 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar